RABU, 14 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Asing Depak Big Banks, Dana Berputar ke TLKM hingg...

Finansial

Asing Depak Big Banks, Dana Berputar ke TLKM hingga ENRG

Investor asing membukukan net sell Rp 885,5 miliar di BEI pada Selasa (14/7), dengan BBRI dan BMRI menjadi sasaran utama pelepasan. Dana segar hasil distribusi diputar ke sektor telekomunikasi, pertambangan, dan energi.

Big banks topang IHSG sepekan, BREN jadi pemberat

Net foreign sell di Bursa Efek Indonesia sudah menembus Rp 91 triliun secara year to date, dan Selasa kemarin menambah lagi Rp 885,5 miliar ke tumpukan angka itu.

Di balik angka agregat yang terasa abstrak, pergerakannya cukup konkret. Asing memilih keluar dari empat bank kakap sekaligus: PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI). Dana hasil pencairan itu lalu diputar ke emiten yang agaknya dianggap lebih menarik secara valuasi saat ini.

Dari data BEI, BBRI menjadi saham yang paling banyak dilepas asing dengan net foreign sell mencapai Rp 362,15 miliar sepanjang perdagangan kemarin. Sahamnya terkoreksi 2,44 persen, parkir tepat di batas bawah harian di level Rp 2.800. Secara year to date, BBRI sudah amblas 22,4 persen, penurunan yang cukup dalam untuk saham yang secara historis selalu jadi pegangan utama portofolio institusi asing. BMRI menyusul di posisi kedua dengan net sell Rp 247,93 miliar, sahamnya melemah 2,12 persen ke Rp 4.160. BBCA menorehkan outflow Rp 193,99 miliar setelah terkoreksi 1,61 persen ke level Rp 6.125, sementara BBNI menutup kuartet dengan net sell Rp 22,10 miliar.

Salah satu pelaku yang pergerakannya terbaca cukup jelas adalah UBS Sekuritas Indonesia, yang dikenal di pasar dengan kode broker AK. Total nilai transaksi hariannya menembus Rp 3,0 triliun, dengan net sell Rp 108,5 miliar setelah mendistribusikan keempat saham perbankan tadi secara bertahap sejak sesi pagi. Yang layak dicermati: rata-rata harga jual yang berhasil dikunci di keempat saham itu konsisten di atas harga penutupan dan harga rata-rata pasar. Distribusi ini dieksekusi dengan disiplin, bukan dalam kepanikan.

Dana yang terkumpul tidak dibiarkan menganggur. TLKM menjadi tujuan akumulasi terbesar dengan net foreign buy Rp 63,01 miliar, saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk itu menguat hampir 2 persen ke Rp 2.560. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menyerap Rp 39,32 miliar meski harga stagnan di Rp 2.920. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) melonjak 16,33 persen ke Rp 1.460 seiring net buy asing senilai Rp 30,19 miliar. Rotasi dari perbankan ke telekomunikasi, logam, dan energi, bukan tanpa logika kalau dibaca dari perspektif valuasi relatif.

IHSG sendiri ditutup menguat tipis 0,03 persen ke level 6.039 pada Selasa, angka yang hampir tidak terasa seperti penguatan. Hari ini, Rabu (15/7), indeks bergerak lebih percaya diri di zona hijau, menguat sekitar 0,40 persen ke kisaran 6.063 hingga pertengahan sesi pertama.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai IHSG cenderung bullish moderat hari ini, meski masih dibayangi faktor struktural yang membatasi ruang penguatan. "IHSG cenderung positif atau bullish moderat, meskipun masih dibayangi beberapa faktor struktural yang dapat membatasi ruang penguatan IHSG," ujarnya. Secara teknikal, terbentuknya pola candlestick doji star sebelumnya mengisyaratkan pasar masih mencari arah, tapi indikator stochastic dan RSI mulai memberikan sinyal yang lebih konstruktif. Support terdekat ada di 5.972 dan 5.848, resistance di 6.127 dan 6.257.

Dari luar, ada angin segar. Data inflasi konsumen AS untuk Juni tercatat lebih rendah dari ekspektasi, yang memperkuat spekulasi bahwa The Fed akan bersikap dovish di pertemuan berikutnya. Imbal hasil obligasi AS pun melandai, dan minat terhadap aset berisiko di pasar berkembang sedikit membaik. Batalnya rencana pungutan bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz juga meredakan kekhawatiran soal gangguan rantai pasok energi global.

Dari dalam negeri, S&P Global Ratings mempertahankan peringkat utang Indonesia di BBB dengan outlook stabil, semacam jangkar di tengah arus keluar dana asing yang belum berhenti. Rupiah pun sedikit terapresiasi ke Rp 18.074 per dolar AS.

Pertanyaannya sederhana tapi tidak mudah dijawab: apakah outflow YTD sebesar Rp 91 triliun ini rotasi taktis jangka pendek, atau cermin dari pergeseran pandangan struktural yang lebih dalam terhadap pasar Indonesia? Beda diagnosisnya, beda pula konsekuensinya buat pemegang portofolio.