MINGGU, 11 OKTOBER 2026

Home  ›  Syariah  ›  Aset Keuangan Syariah RI Tembus Rp 3.131 T, Tumbuh...

Syariah

Aset Keuangan Syariah RI Tembus Rp 3.131 T, Tumbuh 8,61% di 2025

OJK mencatat total aset industri keuangan syariah Indonesia mencapai Rp 3.131 triliun sepanjang 2025, ditopang lonjakan pasar modal syariah hingga 31,4% YoY.

Rp 3.131 triliun. Angka itu bukan sekadar rekor, tapi konfirmasi bahwa industri keuangan syariah Indonesia sedang berjalan di jalur yang benar.

OJK merilis data total aset industri keuangan syariah nasional per 2025 dengan pertumbuhan 8,61% secara year-on-year. Kenaikan ini terjadi meski tekanan ekonomi global agaknya tidak cukup kuat untuk menggoyahkan fondasi sektor ini.

Dari total Rp 3.131 triliun tersebut, pasar modal syariah menjadi kontributor terbesar dengan nilai aset Rp 1.800 triliun, disusul perbankan syariah Rp 1.067 triliun, dan industri keuangan non-bank syariah sebesar Rp 188 triliun. Komposisi yang menarik, mengingat dua tahun lalu perbankan masih mendominasi porsi.

Pasar modal syariah memang jadi bintangnya tahun ini. Kapitalisasi pasar melesat 31,4% YoY hingga menembus Rp 8.900 triliun, didorong minat yang meningkat terhadap saham-saham berbasis syariah dan sukuk. Assets Under Management (AUM) manajer investasi syariah pun ikut terkerek, sinyal bahwa investor ritel, khususnya yang lebih muda, mulai serius melirik instrumen ini bukan sekadar karena label halalnya, tapi juga karena pertimbangan soal etika investasi yang mereka anggap lebih bersih dari produk konvensional.

Di sisi perbankan, pertumbuhan pembiayaan mencapai 9,58% YoY dengan total pembiayaan Rp 705 triliun. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh lebih tinggi lagi, 10,14% YoY. Kepercayaan masyarakat untuk menaruh dananya di bank syariah, baik lewat tabungan maupun deposito, jelas sedang menanjak.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyebut capaian ini mencerminkan ketangguhan sektor keuangan syariah menghadapi gejolak geopolitik dan dinamika ekonomi global yang tidak mudah.

Bukan main.

Tapi angka-angka ini tidak jatuh dari langit. Ada beberapa faktor struktural yang sudah lama bekerja diam-diam di bawah permukaan. Indonesia punya sekitar 244,7 juta penduduk Muslim, terbesar di dunia, dan itu basis pasar yang, jujur saja, belum sepenuhnya tergarap secara optimal oleh industri keuangan syariah selama bertahun-tahun. Sekarang, kombinasi antara meningkatnya literasi keuangan di kalangan generasi milenial dan Gen Z dengan aksesibilitas produk lewat platform digital membuat penetrasi mulai bergerak lebih cepat dari yang banyak orang perkirakan.

Digitalisasi jadi akselerator yang tidak bisa diabaikan. Aplikasi mobile banking syariah, platform reksa dana digital, hingga kemudahan onboarding rekening syariah secara online memperpendek jarak antara produk dan konsumen secara nyata. Regulasi OJK yang konsisten dan ramah terhadap ekosistem syariah turut menjaga iklim investasi tetap kondusif.

Segmen asuransi dan pembiayaan syariah juga mencatatkan pertumbuhan, meski datanya tidak sedramatis pasar modal. Cukup menggembirakan, tapi memang belum meledak. Tren ini sejalan dengan semakin beragamnya produk yang masuk ke pasar dan meningkatnya kesadaran konsumen bahwa produk syariah bukan cuma alternatif religius, tapi juga pilihan yang secara struktural lebih transparan.

Pertanyaannya sekarang: apakah momentum ini bisa dipertahankan saat ketidakpastian suku bunga global dan tekanan nilai tukar belum juga reda? Jawaban atas pertanyaan itulah yang akan menentukan apakah angka Rp 3.131 triliun ini hanya puncak sementara, atau baru awal dari lompatan berikutnya.