Sepanjang kuartal pertama 2026, Indonesia membukukan kombinasi yang, jujur saja, jarang bisa dicapai negara berkembang sekaligus: pertumbuhan 5,61 persen dengan inflasi cuma 2,4 persen, sementara defisit anggaran masih terkendali di 2,9 persen. Angka yang tidak main-main. Dan rupanya cukup besar untuk bikin iri.
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara tidak menyembunyikan kepuasannya. "Kombinasi pertumbuhan ekonomi 5,6% dengan inflasi 2,4% ini saya berani jamin menjadi sumber kecemburuan bagi banyak negara lain," tegasnya. Kinerja kuartal pertama ini disebut sebagai pijakan untuk mengejar target ambisius 8 persen yang dicanangkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, yang bakal diakselerasi lewat peningkatan produktivitas, infrastruktur, dan kualitas SDM.
Tapi ada ironi yang patut dicermati: Indonesia yang solid secara domestik justru beroperasi di dalam kawasan yang, kata para analis, sedang tidak baik-baik saja.
Forum Jakarta Globe Insight bertajuk "ASEAN at a Crossroads: Turning Global Turmoil into Regional Opportunity" di Hotel Mulia, Jakarta, Selasa (26/5/2026), menjadi panggung bagi kegelisahan itu. Mantan Duta Besar Indonesia untuk WTO periode 2014-2015, Iman Pambagyo, berbicara lugas soal kondisi integrasi kawasan yang ia nilai sedang berada di titik nadirnya. "Lalu yang kita lihat hari ini adalah ASEAN yang rusak," ungkap Iman, tanpa basa-basi.
Biang keroknya bukan satu kejadian tunggal. Pandemi Covid-19, perang dagang, hingga fragmentasi geopolitik membuat masing-masing anggota ASEAN lebih sibuk mengamankan kepentingan nasional ketimbang menjaga solidaritas regional. Tiap negara memilih pendekatan berbeda terhadap AS maupun mitra dagang utama lainnya. Hasilnya? Blok kawasan yang kehilangan satu suara.
Namun Iman tidak sepenuhnya pesimistis. "Saya lebih suka berpikir bahwa ASEAN belum selesai. Ada potensi ASEAN akan bangkit kembali sebagai grup, tetapi ini membutuhkan kepemimpinan yang kuat," ujarnya. Indonesia, ia nilai, sebenarnya punya kapasitas untuk mengisi peran itu. Hanya saja, kecenderungan Jakarta yang lebih aktif mengejar perjanjian bilateral ketimbang memperkuat integrasi regional agaknya menyulitkan posisi itu, terutama ketika kawasan makin terfragmentasi.
Potensi yang dipertaruhkan bukan kecil. Sekretaris Jenderal International Economic Association, Lili Yan Ing, mengingatkan bahwa ASEAN menghuni sekitar 690 juta penduduk dengan total GDP US$ 4,1 triliun, melampaui India maupun Inggris. "Secara strategis, ASEAN memiliki kemampuan untuk tidak hanya menjadi pasar, melainkan juga pusat manufaktur dan jembatan geopolitik," sebut Lili. Tapi dalam napas yang sama, ia mengakui integrasi kawasan masih dangkal dan butuh pembenahan serius.
Peta persaingan global, kata Lili, sedang bergeser bak lempeng tektonik. Kalau 50 tahun terakhir pertumbuhan ekonomi dunia ditopang keterbukaan perdagangan dan investasi, maka separuh abad mendatang teknologi digital yang akan jadi penentu. Negara yang gagal menguasai kapabilitas itu bisa jadi tertinggal bukan satu generasi, melainkan dua.
Pertanyaannya, berapa lama ASEAN masih bisa menunda berbenah?
Suahasil menyodorkan perspektif senada dari sisi fiskal. Ketidakpastian global, ia nilai, bukan lagi anomali melainkan kondisi permanen. "Ketidakpastian akan menjadi normal baru kita di masa depan. Jadi, stabilitas atau kepastian itu tidak diberikan begitu saja kepada kita. Itu harus dibangun oleh kita sendiri," tegasnya. ASEAN didorong memperkuat perdagangan intra-kawasan, memangkas hambatan non-tarif, mempererat kerja sama ekonomi digital dan transisi hijau, sekaligus mengoptimalkan instrumen seperti Chiang Mai Initiative Multilateralization (CMIM) dan skema local currency settlement.
Satu hal yang tampaknya disepakati semua pihak di forum ini: ASEAN tidak boleh terseret menjadi arena rivalitas antara AS dan China. Kawasan ini perlu merangkul semua kekuatan ekonomi utama dunia, dari Washington hingga Beijing, Brussels, New Delhi, dan Tokyo, tanpa kehilangan otonomi strategisnya. Pertanyaannya bukan apakah ASEAN mampu melakukan itu. Tapi siapa yang cukup berani untuk memimpinnya.