Sekitar USD1 miliar aset kripto Iran kini berpindah tangan ke otoritas Amerika Serikat, dan sebagian pemiliknya, kata Scott Bessent, mungkin baru menyadarinya saat mencoba login hari ini.
Menteri Keuangan AS itu melontarkan pernyataan ini di hadapan Reagan National Economic Forum pada 29 Mei 2026. "Saya yakin kami telah menyita sekitar satu miliar dolar aset kripto mereka. AS langsung mengambil alih wallet mereka," ujar Bessent. Ia bahkan menambahkan dengan nada yang agaknya disengaja bikin tak nyaman: beberapa pemilik akun mungkin saat ini sedang mengetik dan belum sadar saldo mereka sudah raib.
Konversinya, dengan kurs Rp17.820 per dolar, setara Rp17,82 triliun. Bukan angka main-main.
Penyitaan ini bukan aksi tunggal. Washington tengah berkoordinasi dengan sekutu-sekutu Eropa untuk merampas aset fisik Iran di luar negeri, mulai dari vila hingga properti residensial, kata Bessent. Narasi yang dipakai pemerintah AS cukup kuat secara retoris: semua aset itu disebut sebagai "uang yang dicuri dari rakyat Iran," bukan milik sah pemerintah Tehran.
Lebih dari sekadar penyitaan kripto, Bessent mengungkap gambaran tekanan ekonomi yang jauh lebih luas. Fasilitas ekspor minyak Iran di Pulau Kharg disebut telah lumpuh akibat blokade angkatan laut AS. Departemen Keuangan juga baru memasukkan Persian Gulf Strait Administration (PGSA), organisasi bentukan Tehran untuk mengontrol pelayaran di Selat Hormuz, ke dalam daftar sanksi. Washington menuduh PGSA sebagai alat Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) guna menarik biaya transit kapal demi mengantongi dana. PGSA membalas: langkah AS itu "pembajakan," dan sanksi tidak akan menghentikan operasi mereka di selat tersebut.
Semua ini bagian dari apa yang dijuluki Washington "Operasi Economic Fury." Kepada Fox Business, Bessent menggambarkan kondisi Iran setelah sekitar lima hingga enam minggu tekanan militer dan finansial gabungan: "Kondisi keuangan mereka sangat buruk. Inflasi di Iran mungkin sudah melampaui 200 persen." Klaim yang belum bisa diverifikasi secara independen, kalau data ini bisa dipercaya, tapi patut dicermati.
Juru bicara Departemen Luar Negeri Tommy Pigott menambahkan bahwa AS baru saja membongkar jaringan penipuan berbasis teknologi yang dioperasikan oleh seorang warga Iran bernama Ali Majd Sepehr dari dalam negeri Iran sendiri. Departemen Keuangan AS kabarnya juga menawarkan hadiah hingga USD15 juta bagi siapa pun yang memberikan informasi yang bisa mengganggu sumber pendanaan IRGC.
Negara-negara Teluk yang sebelumnya lebih berhati-hati kini disebut Bessent telah menjadi "mitra yang sangat baik" setelah serangkaian serangan Iran terhadap kawasan itu. Mereka aktif membantu pembekuan rekening bank Iran di wilayah Teluk, sebuah pergeseran diplomatik yang, entah kebetulan atau tidak, terjadi tepat saat tekanan AS terhadap Tehran mencapai titik paling agresifnya.
Pada hari yang sama di Washington, Trump dilaporkan menggelar pertemuan darurat selama 2,5 jam bersama tim keamanan nasional di Situation Room untuk menimbang kemungkinan kesepakatan damai dengan Iran. Belum ada keputusan resmi. Tekanan finansial dipasang habis-habisan di satu sisi, pintu negosiasi dibiarkan sedikit terbuka di sisi lain. Seperti itulah biasanya Washington bermain.