SELASA, 29 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  AS-China Sepakat Bahas Batasan AI, dari Claude Myt...

Bisnis

AS-China Sepakat Bahas Batasan AI, dari Claude Mythos hingga Selfie Bos Xiaomi dengan Musk

Di sela kunjungan Trump ke Beijing, Menteri Keuangan Scott Bessent mengonfirmasi dua negara akan duduk membahas regulasi AI, sementara para CEO teknologi terkemuka AS turut meramaikan pertemuan tingkat tinggi itu.

Bessent: AS dan Cina Akan Bahas Batasan AI | NHK WORLD-JAPAN News

Kunjungan Presiden Donald Trump ke Beijing ternyata membawa agenda lebih serius dari sekadar dagang. Menteri Keuangan Scott Bessent mengonfirmasi kepada CNBC bahwa AS dan China akan memulai pembicaraan resmi soal batasan kecerdasan buatan, topik yang selama ini lebih banyak beredar di koridor think tank ketimbang meja perundingan dua negara.

Bessent menyebut kedua pihak akan menetapkan protokol bersama untuk memastikan pihak non-negara tidak bisa mengakses model AI tingkat lanjut secara sembarangan. Di atas kertas, terdengar logis. Tapi implementasinya jelas bukan perkara mudah, mengingat definisi "pihak non-negara" saja bisa diperdebatkan panjang lebar di Geneva, apalagi di Beijing.

Latar belakangnya tidak lepas dari kemunculan Claude Mythos, model AI terbaru dari Anthropic yang kini ramai diperbincangkan komunitas keamanan siber global. CEO Dario Amodei menyebut Mythos sebagai lompatan besar dalam pengembangan AI, bukan sekadar klaim marketing. Model ini sangat terampil mendeteksi sekaligus mengeksploitasi kerentanan perangkat lunak, kemampuan yang, kalau jatuh ke tangan yang salah, bisa mengubah lanskap keamanan siber secara dramatis.

Konteks itulah yang agaknya mendorong kedua pihak untuk akhirnya bicara serius. Kyle Chan, ahli teknologi China di Brookings Institution, Washington, mengingatkan bahwa model AI China kini hanya tertinggal beberapa bulan di belakang produk-produk terbaik AS. Ia juga menyampaikan, jika model AI China terus berkembang, teknologi itu bisa memanfaatkan sebagian kerentanan siber yang saat ini mampu dideteksi dan dieksploitasi Mythos. Dalam hitungan bulan, bukan tahun, garis pembatas teknologi itu bisa makin kabur.

Beijing tidak main-main soal ini. Sudah bertahun-tahun dominasi AI ditetapkan sebagai strategi nasional, dengan target menjadi pemimpin dunia paling lambat 2030. Investasi mengalir deras, regulasi dalam negeri terus diperbarui, dan ekosistem startup AI China tumbuh dengan kecepatan yang membuat banyak analis di Wall Street harus merevisi proyeksi mereka berkali-kali.

Sementara para diplomat berdebat soal protokol, pemandangan berbeda terjadi tak jauh dari sana. Perdana Menteri Li Qiang menerima sejumlah petinggi korporasi Amerika dalam pertemuan terpisah di Beijing pada Kamis (14/5), di antaranya Elon Musk dari Tesla, Tim Cook dari Apple, dan Jensen Huang dari Nvidia. Musk, seperti biasa, jadi magnet perhatian tersendiri. Bos Xiaomi bahkan dilaporkan mengajaknya selfie. Bak selebritas di karpet merah, bukan eksekutif di meja diplomasi.

Bagi pelaku pasar, pertemuan ini layak dicermati lebih dari sekadar angle geopolitik. Kesepakatan, atau bahkan sekadar kerangka kerja bersama soal regulasi AI, bisa berdampak besar pada valuasi emiten teknologi di bursa AS maupun saham-saham bereksposur ke sektor ini. Pertanyaannya sederhana: apakah obrolan di Beijing ini akan menghasilkan sesuatu yang konkret, atau hanya satu lagi pernyataan niat yang menguap sebelum tintanya kering?