SABTU, 26 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Arsari Tambang Bangun Pusat Riset Timah dan Rare E...

Bisnis

Arsari Tambang Bangun Pusat Riset Timah dan Rare Earth di Bangka

PT Arsari Tambang berencana mendirikan pusat riset timah dan logam tanah jarang di Bangka Belitung, langkah hilirisasi yang datang justru di saat industri timah Indonesia genap 150 tahun beroperasi tanpa satu pun fasilitas riset khusus.

Pusat Riset Timah dan Logam Tanah Jarang Bakal Dibangun di Bangka

Sudah 150 tahun industri timah Indonesia berjalan, dan selama itu tidak ada satu pun pusat riset yang mendedikasikan diri untuk komoditas ini. Fakta itulah yang dilempar Aryo P. S. Djojohadikusumo ke hadapan peserta forum pertambangan Met Connex 2026 di JCC, Jakarta, Selasa (12/5/2026), sebelum ia mengumumkan rencana besar perusahaannya.

"Bayangin, industri timah Indonesia sudah ada selama 150 tahun dan kita tidak punya pusat riset timah," kata Direktur Utama PT Arsari Tambang itu. Kalimat pendek. Tapi nyelekit.

Arsari Tambang, perusahaan induk tambang timah milik Hashim Djojohadikusumo, adik Presiden Prabowo Subianto, kini berancang-ancang mengisi kekosongan itu. Rencananya: membangun pusat riset timah dan logam tanah jarang (rare earth elements/REE) di Bangka, Kepulauan Bangka Belitung.

Targetnya bukan timah biasa. Arsari membidik REE yang tersimpan sebagai produk sampingan dari olahan timah, eh, koreksi dulu, yang tersembunyi di balik proses pengolahan timah selama ini. Antara lain neodymium (NdPr) dan dysprosium. Dua nama ini tidak asing di industri teknologi global: neodymium masuk ke magnet permanen untuk motor listrik dan turbin angin, dysprosium jadi komponen kunci pada perangkat yang membutuhkan magnet tahan suhu tinggi. Nilai strategisnya untuk transisi energi sudah tidak perlu diperdebatkan.

"Saat ini, salah satu produk sampingan dari timah adalah REE, seperti neodymium, dysprosium, dan semua unsur tanah jarang tersebut merupakan produk sampingan dari timah dan semoga kita dapat memanfaatkannya," ujar Aryo dalam forum MetConnex 2026. "Salah satu hal yang sedang kami investasikan adalah membangun pusat riset timah dan unsur tanah jarang di Bangka."

Arsari memposisikan langkah ini sebagai bagian dari strategi hilirisasi yang lebih luas, selaras dengan dorongan pemerintah agar industri tambang tidak berhenti di bijih mentah. Pusat riset di Bangka, menurut Aryo, kelak jadi fondasi pengembangan teknologi pengolahan REE yang kapasitasnya di Indonesia, kalau data ini bisa dipercaya, masih jauh dari cukup.

Potret irisnya begini: Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen timah terbesar dunia, tapi hampir seluruh nilai tambah REE yang terkandung di dalamnya justru dinikmati negara lain yang lebih siap secara teknologi. Bak gayung bersambut antara agenda hilirisasi pemerintah dan langkah korporasi, setidaknya itu klaimnya.

Pertanyaannya, berapa lama pusat riset ini benar-benar bisa beroperasi? Dan apakah hasilnya kelak bisa dinikmati industri nasional secara lebih luas, bukan cuma entitas yang membangunnya.