KAMIS, 15 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Arab Saudi Naikkan Bea Masuk 51 Komoditas, Ekspor...

Ekonomi

Arab Saudi Naikkan Bea Masuk 51 Komoditas, Ekspor RI di Persimpangan

Arab Saudi berlakukan tarif bea masuk baru terhadap 51 komoditas mulai 26 Juni 2026. Kemendag minta eksportir Indonesia putar otak soal efisiensi dan produk bernilai tambah.

Arab Saudi Ubah Tarif Impor, Kemendag Genjot Ekspor Produk Pangan - Sektor Riil

Sejak 26 Juni 2026, eksportir Indonesia yang mengirim produk pangan ke Arab Saudi bermain di lapangan yang berubah total. Riyadh resmi memberlakukan tarif bea masuk baru terhadap 51 komoditas impor dari semua negara, mengacu pada Keputusan Menteri Keuangan Arab Saudi Nomor 1447-88-10 tertanggal 15 Juni 2026.

Cakupannya luas: ternak hidup, daging, ikan, udang, produk susu, telur, buah-buahan, bunga, hingga produk olahan pertanian. Dari 51 komoditas itu, hanya dua yang tidak berubah tarifnya, yakni udang air dingin dan udang lainnya yang tetap dikenai 6 persen. Sisanya? Puluhan komoditas yang sebelumnya bebas tarif kini mulai dipungut. Paling ringan 6 persen, berlaku untuk kentang dan beberapa potongan daging bertulang. Paling berat 15 persen, ditetapkan untuk kalkun, bebek, dan ayam indukan.

Atase Perdagangan RI di Riyadh, Zulvri Yenni, menolak framing kebijakan ini sebagai tembok penghalang. "Perubahan tarif oleh Pemerintah Arab Saudi perlu kita sikapi sebagai upaya membuka peluang baru. Indonesia masih memiliki peluang memperluas ekspor produk pangan dan perikanan bernilai tambah," katanya dalam keterangan resmi, Rabu (15/7/2026). Ia secara khusus menyebut kerupuk udang, produk olahan yang belum diproduksi secara memadai oleh industri domestik Arab Saudi, sebagai contoh konkret celah yang bisa dimasuki.

Nada optimistis itu bisa dipahami, kalau data lapangan mendukungnya. Tarif naik memang tidak otomatis menutup pasar, tapi margin eksportir yang sudah tipis bisa makin terjepit. Zulvri sendiri mendorong tiga hal sekaligus: efisiensi biaya, kepatuhan standar keamanan pangan, dan pengembangan produk bernilai tambah. Tiga hal yang mudah diucapkan, lebih sulit dieksekusi.

Ada sisi lain yang agaknya luput dari perhatian. Ketika Riyadh memperkuat industri pangan domestiknya, kebutuhan akan teknologi budi daya, sistem rantai dingin, pakan, dan benih justru berpotensi melonjak. Di sinilah Indonesia, entah kebetulan atau tidak, punya posisi yang bisa dimanfaatkan sebagai penyedia jasa dan input pertanian, bukan sekadar pengekspor komoditas mentah. Peluang yang berbeda wujudnya, tapi nyata.

Angkanya tidak kecil. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, total perdagangan Indonesia dan Arab Saudi menyentuh USD 2,19 miliar, dengan nilai ekspor Indonesia sebesar USD 843 juta. Tren ini melanjutkan capaian 2025 di mana volume perdagangan bilateral menembus USD 6,53 miliar, ekspor RI berkontribusi USD 2,88 miliar. Struktur pengapalan Indonesia ke Saudi saat ini masih didominasi kendaraan, lemak dan minyak hewani atau nabati, kapal laut, makanan olahan, dan produk kayu olahan.

"Kami optimistis produk Indonesia tetap mampu bersaing di pasar Arab Saudi selama produk itu berkualitas," tegas Zulvri. Kemendag bersama KBRI Riyadh akan terus memantau dampak regulasi ini terhadap neraca dagang dan menyampaikan pembaruan berkala kepada pelaku usaha.

Pertanyaannya kini bukan apakah pasar Arab Saudi masih terbuka. Tapi seberapa cepat eksportir Indonesia bisa naik kelas dari pengekspor bahan baku menjadi pemain produk olahan yang lebih tahan terhadap guncangan tarif semacam ini.