SELASA, 20 OKTOBER 2026

Home  ›  Tekno  ›  Apple vs OpenAI: Gugatan Rahasia Dagang yang Bisa...

Tekno

Apple vs OpenAI: Gugatan Rahasia Dagang yang Bisa Mengguncang IPO

Apple menggugat OpenAI atas pencurian rahasia dagang, melibatkan lebih dari 400 mantan karyawan. Kasus ini berpotensi mengacaukan rencana IPO dan proyek hardware OpenAI bersama Jony Ive.

Logo Anthropic dan Claude di latar belakang biru

Empat puluh orang. Dari lebih dari 400 mantan karyawan Apple yang kini berkantor di OpenAI, sebanyak itu sudah mengantongi preservation letter, surat hukum yang mewajibkan mereka menyimpan seluruh dokumen, komunikasi, hingga data elektronik yang berkaitan dengan sengketa di pengadilan AS.

Apple resmi menggugat OpenAI pada 10 Juli 2026, dengan tuduhan yang tidak main-main: upaya terkoordinasi untuk mempercepat pengembangan perangkat keras dengan memanfaatkan informasi rahasia milik Apple. Bukan sekadar tuduhan samar soal bocornya satu-dua dokumen. Gugatan ini menyebut dua nama secara eksplisit, Chang Liu dan Tang Tan, keduanya mantan petinggi Apple yang kini berkantor di OpenAI. Tang Tan, yang kini menjabat Chief Hardware Officer di OpenAI, dituduh bukan hanya membawa rahasia perusahaan, tapi juga aktif merekrut kolega lamanya, bahkan mendorong kandidat untuk mempelajari materi rahasia Apple sebelum menjalani wawancara. Prototipe dan materi desain disebut ikut berpindah tangan.

OpenAI menampik semua tuduhan itu. Dalam pernyataan resmi kepada Bloomberg, perusahaan yang dipimpin Sam Altman tersebut menyatakan belum menemukan bukti yang mendukung klaim Apple. "Kami menanggapi tuduhan ini dengan serius, tetapi kami tidak mengetahui adanya bukti yang menunjukkan gugatan tersebut memiliki bukti atau dasar yang kuat," kata OpenAI. Mereka juga menegaskan dukungan terhadap persaingan sehat dan kebebasan karyawan memilih tempat bekerja. Retorika yang terdengar rapi, tapi proses discovery di pengadilan akan jadi ujian sesungguhnya.

Ada satu insiden janggal yang terjadi bahkan sebelum gugatan resmi diajukan. Menurut laporan NBC News, pengacara yang mewakili Apple mengirim email kepada penasihat hukum umum OpenAI, Che Chang, berisi kekhawatiran soal kebocoran rahasia dagang. Beberapa menit kemudian, ia secara tidak sengaja membalas email Chang dengan pesan yang seolah mengonfirmasi percakapan telepon sebelumnya, padahal panggilan itu tidak pernah terjadi dengan Chang. Rupanya ia salah klik, keliru antara Chang dan seorang karyawan OpenAI lain bermarga Wang. Chang langsung memprotes dan meminta pengacara tersebut dikeluarkan dari kasus. Komunikasi antara dua kubu praktis beku setelah kejadian itu. Kesalahan kecil, konsekuensi besar.

Di luar drama email itu, gugatan ini punya implikasi bisnis yang jauh lebih berat bagi OpenAI. Dua rencana besar mereka kini berada di zona merah. Pertama, proyek hardware yang digarap bersama desainer legendaris Jony Ive, berupa mobile smart speaker yang selalu aktif mendengarkan. Kontroversial dari sisi privasi, dan sekarang juga rentan secara hukum, mengingat Tang Tan disebut langsung dalam gugatan sebagai figur kunci yang membawa keahlian hardware dari Apple. Kedua, dan ini yang lebih krusial secara finansial, IPO OpenAI yang kabarnya sudah masuk proses pendaftaran rahasia dan ditargetkan akhir 2026 atau awal 2027.

Sean O'Kane dari TechCrunch menyebut gugatan ini bisa mengubah kalkulasi harga saham secara drastis. "Bahkan jika pengadilan tidak memberikan injunctive relief, secara alami proses hukum ini akan menyebabkan penundaan pada apa yang sedang dikerjakan OpenAI," ungkapnya dalam podcast Equity. Saat OpenAI melakukan pitching ke bankir dan investor, mereka harus memproyeksikan addressable market yang meyakinkan. Kalau divisi hardware jadi tanda tanya besar akibat gugatan ini, angka valuasi yang mereka tawarkan bisa amblas jauh dari ekspektasi awal.

Bukan kebetulan Apple melakukan ini. Tahun lalu, dua perusahaan ini bermitra mengintegrasikan ChatGPT ke dalam ekosistem Apple Intelligence. Hari ini mereka saling berhadapan di pengadilan. Perpindahan lebih dari 400 talenta dalam waktu singkat, ditambah nama-nama petinggi yang terseret, sulit dibaca sebagai sesuatu yang terjadi begitu saja. Apple paham betul cara bermain jangka panjang, dan kasus ini, kalau boleh jujur, bak gayung bersambut dengan kepentingan strategis mereka yang lebih besar.