JUMAT, 9 OKTOBER 2026

Home  ›  Tekno  ›  Apple PHK 200 Karyawan, iPhone 18 Pro Siap Bawa In...

Tekno

Apple PHK 200 Karyawan, iPhone 18 Pro Siap Bawa Internet Satelit

Apple memangkas lebih dari 200 karyawan dari tim Vision Pro dan Siri sambil menyiapkan lompatan besar di iPhone 18 Pro, termasuk konektivitas 5G via satelit dan chip A20 Pro berbasis 2nm.

10 Cara Memperpanjang Daya Tahan Baterai iPhone di iOS 26

Lebih dari 200 karyawan Apple kehilangan pekerjaan pekan ini. Sekitar 100 orang dari tim Vision Pro kena giliran pertama, sisanya dari tim Siri dan Intelligent Systems Experience. Bukan sekadar efisiensi biasa, bukan, maaf, bukan em dash, ini cerminan pergeseran strategi yang sudah lama terendus: Apple sedang membangun ulang dirinya sebagai perusahaan AI, bukan lagi perusahaan headset VR.

Vision Pro memang tidak pernah benar-benar menemukan pasarnya sejak debut pada 2024. Harga yang mencekik, ekosistem aplikasi yang tipis, dan pengalaman pemakaian yang masih terasa eksperimental membuat perangkat seharga ribuan dolar itu lebih banyak bersemayam di etalase toko daripada di kepala konsumen. Apple mengakui perubahan ini dengan pernyataan yang terasa hati-hati: "Meski kami akan menciptakan posisi baru sebagai bagian dari perubahan ini, langkah tersebut juga akan berdampak pada sejumlah posisi yang saat ini ada."

Fokus baru Apple agaknya mengarah ke kacamata pintar dan perangkat AI, mengikuti jejak Meta yang lebih dulu membuktikan bahwa form factor yang lebih ringan ternyata lebih diminati pasar ketimbang headset berat. Kenaikan biaya komponen, terutama kelangkaan memori akibat lonjakan permintaan infrastruktur AI global, juga ikut menggerus keuangan Apple sampai mereka sebelumnya sudah menaikkan harga Mac dan iPad.

Bocoran seputar iPhone 18 Pro terus mengalir deras. Yang paling bikin penasaran: rumor konektivitas 5G melalui satelit menggunakan modem C2 buatan Apple sendiri dengan dukungan teknologi NR-NTN (New Radio Non-Terrestrial Network). Kalau ini terealisasi, fungsi satelit di iPhone tidak lagi sekadar fitur SOS darurat seperti yang diperkenalkan sejak iPhone 14, melainkan bisa menjadi akses internet sesungguhnya ketika sinyal seluler dan Wi-Fi tidak tersedia.

Bukan klaim kecil. Pengguna di daerah terpencil, pendaki, pelaut, atau pekerja lapangan berpotensi mendapat manfaat nyata. Tapi ada dua versi cerita yang beredar: satu menyebut koneksi langsung antara iPhone dan satelit, versi lain lebih konservatif dengan menyebut satelit sebagai ekstensi jaringan operator untuk memperluas jangkauan 5G ke wilayah blank spot. Bedanya signifikan. Apple belum mengonfirmasi satu pun, jadi kedua versi ini sama-sama perlu dicermati.

Dari sisi perangkat keras, chip A20 Pro berbasis fabrikasi 2nm TSMC diperkirakan membawa peningkatan performa sekitar 18 persen dan efisiensi daya 30 persen lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya. iPhone 18 Pro Max disebut akan mendapat baterai 5.200 hingga 5.567 mAh, sekitar 9-12 persen lebih besar dari model tahun lalu. Satu fitur yang cukup menggelitik adalah apertur variabel pada kamera utama iPhone 18 Pro Max. Samsung sudah pernah mencoba konsep serupa di Galaxy S9 bertahun-tahun lalu. Terlambat? Bisa jadi. Tapi dengan sensor yang kini lebih besar dan pemrosesan gambar yang jauh lebih matang, hasilnya mungkin berbeda cerita.

Di ranah chip memori, ada pemain baru yang mulai meresahkan tiga raja lama. CXMT, produsen DRAM asal China, berhasil menembus kecepatan DDR5 9.014 MT/s melalui kit Colorful iGame Shadow II 24G×2 berkapasitas 48 GB pada motherboard AMD. Setahun lalu mereka baru klaim 8.000 MT/s, kini sudah menyusul Micron, SK hynix, dan Samsung di angka yang sama. Tingkat yield produksi CXMT dengan proses 17nm diklaim mencapai 90 persen, hanya 2-3 persen di bawah Samsung. Bukan angka yang bisa diabaikan begitu saja.

Lini LPDDR6 CXMT diklaim menawarkan kecepatan 12,8 Gbps, muncul tepat ketika krisis memori global sedang meradang, ironisnya sebagian dipicu oleh kebutuhan infrastruktur AI yang terus meroket. Makin banyak pemain di pasar memori, secara teori, harusnya menekan harga. Meski geopolitik chip antara AS dan China bisa memperumit kalkulasi ini secara serius.

Singapura membuat terobosan yang lebih filosofis: membuka data center biologis pertama di luar Australia yang menggunakan sel otak manusia hidup. National University of Singapore bersama startup Melbourne, Cortical Labs, mengoperasikan 20 unit CL1, perangkat komputasi yang menghubungkan neuron manusia dengan sistem elektronik melalui Microelectrode Array. Teknologi ini, yang disebut wetware, tidak dimaksudkan menggantikan CPU atau GPU, melainkan sebagai pelengkap untuk tugas AI yang membutuhkan kemampuan belajar dari data sedikit dengan konsumsi energi jauh lebih rendah. Cortical Labs sebelumnya sudah membuktikan neuron biologis bisa memainkan game Doom. Langkah ke data center komersial adalah eskalasi yang tidak sedikit orang bayangkan terjadi secepat ini.

Dari London, startup Inherent keluar dari mode siluman dengan klaim yang cukup berani. Agen AI mereka bernama Faraday, berjalan di atas model Qwen 3.6 dengan hanya 27 miliar parameter, diklaim mampu mengungguli Claude Opus 4.8 dan GPT-5.5 dalam tugas mereplikasi temuan makalah ilmiah. Kuncinya bukan ukuran model, melainkan pendekatan reinforcement learning yang mengajarkan Faraday memiliki apa yang mereka sebut "research taste", insting tentang eksperimen mana yang layak dijalankan. Inherent didirikan alumni Google DeepMind dengan pendanaan awal $50 juta.

Klaim ini datang tepat ketika survei YouGov menempatkan Claude dari Anthropic sebagai asisten AI dengan kepuasan pengguna tertinggi di antara semua platform. Net score-nya 56,2, jauh melampaui Gemini (46,5) dan ChatGPT (46,0). Grok dan Siri, meski ditopang nama besar, justru nangkring di posisi paling buncit. Survei ini mewawancarai pengguna aktif di Inggris Raya sepanjang Maret hingga Juli 2026.

Komdigi resmi mengunci SafeSearch Google secara permanen sebagai tindak lanjut evaluasi PP TUNAS 2025, setelah menilai platform besar termasuk Google dan YouTube belum sepenuhnya patuh pada standar penyaringan konten. TikTok dan Roblox masuk daftar peringatan. Bigo Live dan X justru dapat apresiasi karena dinilai kooperatif. Kebijakan ini membelah opini publik: satu kubu melihatnya sebagai perlindungan anak yang sudah lama dibutuhkan, kubu lain khawatir ini preseden buruk bagi kebebasan digital yang akan semakin menyempit. Pertanyaannya, siapa yang akhirnya menang?