SABTU, 10 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  APBN Semester I Tumbuh 21%, tapi PMI Manufaktur Ma...

Finansial

APBN Semester I Tumbuh 21%, tapi PMI Manufaktur Masih Terkontraksi

Pendapatan negara tembus Rp1.459,4 triliun di semester pertama 2026, tumbuh 21,4% secara tahunan. Di sisi lain, PMI manufaktur masih terkontraksi di 46,9 dan dana asing kabur Rp75 triliun dari pasar saham.

Angka fiskal semester I-2026 cukup untuk membuat pelaku pasar sedikit bernapas lega. Pendapatan negara tercatat Rp1.459,4 triliun hingga akhir Juni, setara 46,3% dari target APBN, tumbuh 21,4% dibanding periode yang sama tahun lalu. Bukan angka yang bisa diabaikan begitu saja, terutama ketika tekanan eksternal belum sepenuhnya surut.

Penerimaan perpajakan jadi tulang punggung capaian ini, menyumbang Rp1.187,8 triliun atau 44,1% dari target. Sistem Coretax yang sempat jadi bahan kekhawatiran pasar di awal tahun ternyata mulai menunjukkan giginya. "Sebelumnya sempat muncul kekhawatiran akibat implementasi sistem Coretax. Ternyata dalam dua bulan terakhir kinerjanya cukup bagus. Ini yang membuat pencapaian penerimaan perpajakan menjadi lebih baik," kata Suria Dharma, Wakil Direktur PT Samuel Sekuritas, dalam forum diskusi di Jakarta, Kamis (9/7/2026). Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) juga ikut moncer, tercatat Rp271 triliun, naik 21,6% secara tahunan dan sudah mencapai 59% dari target APBN.

Satu data yang menarik perhatian: PPN dan PPnBM hingga Mei 2026 tembus Rp315,7 triliun, melonjak 41,3%. Agaknya konsumsi domestik belum benar-benar lesu, meski sinyal pelemahan daya beli sudah mulai terlihat di indikator lain.

Dari sisi makro, pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 tercatat 5,61% secara tahunan. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufiqurrahman memperkirakan kuartal II bisa bertahan di kisaran 5,4%, ditopang stimulus fiskal pemerintah senilai Rp26,84 triliun yang dikucurkan sepanjang April hingga Juni. Fondasi memang masih solid, setidaknya itu yang didukung data penerimaan tadi.

Konsumen, sayangnya, mulai ragu. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juni 2026 melorot ke 117,8 dari 120,9 bulan sebelumnya. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut angka itu masih aman karena bertahan di atas level 100, dan menghubungkan penurunannya dengan efek pasca-Lebaran yang memang biasa terjadi. "Ya nanti kita lihat menjelang kuartal III, kuartal IV (ekonomi) akan naik lagi," katanya saat ditemui di kantornya di Jakarta, Jumat. Optimis, tentu saja. Entah kebetulan atau tidak, pernyataan serupa juga keluar dari mulut pejabat di momen-momen serupa tahun-tahun sebelumnya.

PMI manufaktur cerita lain. Angkanya 46,9 pada Juni 2026, masih di bawah ambang kontraksi 50. Bukan main. Ekonom Indef sekaligus Rektor Universitas Paramadina Didik J. Rachbini bicara blak-blakan: "Angka PMI ini merupakan indikasi sektor industri kita sakit lama dan sekarang masuk zona bahaya merah pada level indeks di bawah 50." Bukan kalimat yang nyaman didengar, tapi agaknya itulah kondisinya. Didik menambahkan bahwa penguatan sektor industri mendesak karena pertumbuhan ekonomi butuh dukungan aktivitas manufaktur yang kuat, investasi produktif, dan penciptaan lapangan kerja.

Belum lagi tekanan dari pasar modal. Samuel Sekuritas mencatat arus keluar dana asing dari saham sudah menyentuh Rp75 triliun hingga pertengahan 2026, sebagian besar dipicu pembekuan review saham Indonesia oleh MSCI. Kombinasi capital outflow segede itu dengan PMI yang masih terkontraksi membentuk gambaran yang kurang sedap bagi investor ekuitas.

Fiskal yang sehat memang patut diapresiasi. Tapi antara penerimaan negara yang memuaskan dengan kondisi sektor riil yang belum pulih betul, ada jarak yang masih perlu dijembatani pemerintah sebelum bisa benar-benar berteriak ekonomi kita baik-baik saja.