Payout ratio naik, dividen lebih tebal. PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) resmi menyepakati pembagian dividen tunai senilai Rp1,7 triliun dari laba tahun buku 2025, setara Rp41,5 per saham, setelah Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan yang digelar di Alfa Tower, Tangerang, Kamis (4/6).
Rasio pembayaran kali ini mencapai 50% dari laba bersih, naik dari 40% di tahun buku 2024. Bukan kenaikan kecil. "Kurang lebih payout ratio itu di 50 persen, meningkat dibandingkan dengan tahun 2024 sebesar 40 persen," kata Corporate Secretary AMRT Tomin Widian dalam paparan publik. Kenaikan itu, kata Tomin, mencerminkan komitmen perseroan untuk memberikan nilai tambah bagi pemegang saham seiring kinerja yang terus bertumbuh.
Kinerja 2025 memang layak diapresiasi. AMRT membukukan pendapatan Rp126,74 triliun, tumbuh dari Rp118,23 triliun setahun sebelumnya. Laba bersih yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk tercatat Rp3,41 triliun, naik 8,25% dibanding Rp3,15 triliun pada 2024. Dengan laba segitu, dividen Rp1,7 triliun agaknya masih menyisakan ruang napas yang cukup untuk kebutuhan ekspansi.
Tahun lalu bukan tahun yang gampang, begitu kurang lebih pengakuan Presiden Direktur AMRT Anggara Hans Prawira. Tekanan inflasi dan pelemahan daya beli membuat konsumen lebih cermat memilah pengeluaran. Tapi Alfamart diuntungkan komposisi produknya yang mayoritas kebutuhan pokok, permintaan yang relatif defensif terhadap siklus ekonomi. "AMRT tetap mampu mencatatkan pertumbuhan karena mayoritas produk yang dijual merupakan kebutuhan pokok dengan tingkat permintaan yang relatif stabil," ujar Hans dalam press release. Strategi promosi lewat aplikasi Alfagift yang mengintegrasikan kanal offline dan online turut disebut berkontribusi menjaga loyalitas pelanggan.
Dari sisi jaringan, AMRT menambah 1.159 gerai sepanjang 2025 sehingga total outlet kini mencapai 24.434 unit, naik dari 23.277 gerai pada akhir 2024. Ekspansi ini berlanjut di 2026 dengan target 800 toko baru, di mana sekitar 500 unit akan dimiliki langsung dan 300 sisanya lewat skema franchise. Capex yang disiapkan sekitar Rp500 miliar, seluruhnya dari kas internal. "Seperti beberapa tahun terakhir, ekspansi masih dapat dibiayai dengan internal cash flow kita," kata Tomin.
Lebih dari separuh ekspansi 2026 diarahkan ke luar Pulau Jawa. Bukan tanpa alasan. Dalam lima tahun terakhir sudah terjadi pergeseran pertumbuhan pasar ritel modern dari Jabodetabek ke daerah-daerah luar Jawa yang penetrasi toko modernnya masih rendah, pola yang menurut Tomin kian jelas terbaca. "Dari Pulau Jawa, khususnya Jabodetabek, bergeser ke luar pulau karena peluang dan penetrasi toko modern di sana masih lebih rendah," jelasnya. Per kuartal pertama 2026, Grup Alfamart sudah mengantongi 211 gerai baru.
Satu catatan yang agak mengganggu: di hari pengumuman dividen ini, harga saham AMRT justru terkoreksi 1,48% ke level Rp1.330 per lembar. Sejak awal 2026, saham ini sudah amblas 33%, kehilangan 655 poin. Dividend yield-nya di angka 3,1% berdasarkan harga saat ini, angka yang patut dicermati tapi belum tentu cukup menarik bagi investor yang sudah nyangkut di harga lebih atas.
Pertanyaannya sederhana: apakah payout ratio yang lebih tinggi cukup untuk menahan tekanan jual yang sudah berlangsung setengah tahun ini?