Persidangan yang mempertemukan dua raksasa teknologi dunia itu akhirnya mencapai klimaksnya pekan ini. Bukan sekadar sengketa hukum biasa.
Sam Altman, CEO OpenAI, naik ke kursi saksi pada Selasa (12/5) untuk membela diri atas gugatan mantan rekan pendirinya, Elon Musk. Gugatan itu berpusat pada satu pertanyaan besar: apakah OpenAI mengkhianati misi nirlabanya ketika memutuskan membentuk anak perusahaan berorientasi profit? Musk bilang ya, dan menyebut para pendiri OpenAI "mencuri yayasan amal." Setelah terdiam beberapa detik, Altman menjawab dengan tenang bahwa ia sulit memahami kerangka berpikir itu. "Kami menciptakan salah satu badan amal terbesar di dunia," ujarnya. "Yayasan ini melakukan pekerjaan yang luar biasa dan akan melakukan lebih banyak lagi."
Tapi Altman tidak berhenti di sana. Ia bersaksi bahwa gaya kepemimpinan Musk mungkin cocok untuk perusahaan manufaktur atau engineering, tapi sangat tidak tepat untuk laboratorium riset AI seperti OpenAI. Musk, menurutnya, pernah meminta Greg Brockman dan Ilya Sutskever membuat daftar peringkat peneliti, lalu memecat sebagian dari mereka berdasarkan daftar itu. "Itu menyebabkan kerusakan besar pada budaya organisasi dalam jangka waktu yang lama," kata Altman. Kalimat paling pedasnya: "Saya rasa Tuan Musk tidak mengerti bagaimana mengelola laboratorium penelitian dengan baik."
Altman juga membongkar momen yang agaknya jadi salah satu titik balik hubungan keduanya. Pada 2017, saat OpenAI sedang mencari cara mengamankan pendanaan, Musk mengutarakan rencana soal keselamatan model AI yang langsung bikin Altman khawatir. Lebih jauh, dalam sebuah debat internal, Musk ditanya apa yang terjadi dengan OpenAI jika ia meninggal dunia saat mengendalikan versi profit-nya. Jawabannya, menurut Altman: mungkin OpenAI harus diwariskan ke anak-anak Musk. Cukup untuk menjelaskan mengapa para pendiri lain menolak menaruh kendali AGI di tangan satu orang.
Kubu Musk tidak tinggal diam. Pengacara Steven Molo, dalam argumen penutupnya, menyatakan bahwa lima saksi, termasuk Musk sendiri, mantan anggota dewan, dan mantan Kepala Ilmuwan OpenAI Ilya Sutskever, kompak bersaksi bahwa Altman adalah pembohong. Bukan tuduhan ringan. Molo juga mencatat bahwa saat dicecar pertanyaan apakah ia sepenuhnya bisa dipercaya, Altman tidak menjawab "ya" secara tegas. "Kredibilitas Sam Altman menjadi masalah langsung dalam kasus ini. Jika Anda tidak mempercayainya, mereka tidak bisa menang," tegas Molo.
Pengacara OpenAI Sarah Eddy membalas dengan menuding tim Musk menggunakan kutipan singkat dan tuduhan palsu yang tidak relevan. Pada 2017, kata Eddy, semua orang yang terlibat dengan OpenAI, termasuk Musk yang kala itu masih duduk di dewan direksi, tahu bahwa misi perusahaan tidak mungkin dibiayai hanya dengan model nirlaba. "Tuan Musk ingin mengubah OpenAI menjadi perusahaan yang bisa ia kendalikan," kata Eddy. "Tetapi para pendiri lainnya menolak menyerahkan kendali AGI kepada satu orang, apalagi Elon Musk."
Eddy juga mempertanyakan konsistensi Musk: jika ia benar-benar percaya AI harus melayani umat manusia, mengapa ia mendorong penggabungan OpenAI ke Tesla, atau membangun xAI sebagai perusahaan profit? Soal gugatan Agustus 2024, kubu OpenAI menyebutnya terlambat, karena Musk sudah mengetahui rencana komersialisasi bertahun-tahun sebelumnya. Adapun klaim Musk yang mengaku tidak membaca term sheet empat halaman pada 2018, pengacara OpenAI Savitt menyebutnya "amnesia selektif."
Altman dan Brockman hadir langsung di pengadilan saat argumen penutup dibacakan. Musk absen. Ia sedang mendampingi Presiden AS Donald Trump dalam kunjungan ke China. Entah kebetulan atau tidak, ketidakhadiran itu sendiri sudah cukup bikin orang bertanya-tanya: seberapa serius ia menganggap sidang yang ia sendiri mulai?