KAMIS, 8 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Allan Gray Borong INDF saat IHSG Jadi Indeks Terbu...

Finansial

Allan Gray Borong INDF saat IHSG Jadi Indeks Terburuk di Dunia

Manajer investasi Afrika Selatan dengan AUM US$29 miliar masuk ke pasar Indonesia di tengah kejatuhan IHSG lebih dari 35% dalam dolar AS, membeli saham Indofood dengan PER hanya sekitar lima kali.

IHSG anjlok, Allan Gray mulai berburu saham Indonesia

Sepanjang 2026, IHSG sudah amblas lebih dari 35% dalam denominasi dolar AS. Dari 92 indeks saham global yang dipantau Bloomberg, tidak ada yang performanya lebih buruk dari bursa Jakarta. Justru di saat itulah Allan Gray Ltd, manajer investasi berbasis di Cape Town, Afrika Selatan, memilih masuk.

Perusahaan pengelola aset sekitar US$29 miliar itu mengeksekusi investasi perdananya di Indonesia pada Juni 2026 dengan memborong saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), salah satu produsen mi instan terbesar di dunia. Bukan keputusan impulsif. Ini hasil kalkulasi value investing yang sudah lama dipeluk Allan Gray sejak berdiri pada 1973.

Pada saat pembelian itu dilakukan, INDF diperdagangkan di kisaran PER sedikit di atas lima kali. Murah sekali. Rory Kutisker-Jacobson, Portfolio Manager Allan Gray yang menangani dana tersebut, menegaskan keyakinan itu dalam laporannya: "Berdasarkan estimasi kami, INDF diperdagangkan dengan PER hanya sedikit di atas lima kali. Kami percaya ini adalah harga yang sangat murah untuk menebus bisnis sektor konsumer yang dominan, mencetak arus kas kuat, dan berhadapan langsung dengan pasar." Kutisker-Jacobson juga menyebut timnya kini sedang menyusun sejumlah riset tambahan untuk mengidentifikasi peluang lain di Indonesia.

Konteks di balik keputusan ini tidak bisa dilepaskan dari tekanan bertubi-tubi yang menghantam pasar domestik. Pemicunya: peringatan MSCI Inc. pada Januari 2026, yang menyuarakan kemungkinan Indonesia diturunkan dari status pasar berkembang menjadi pasar frontier akibat masalah aksesibilitas investasi dan terbatasnya free float saham. Sejak peringatan itu keluar, pemerintah memang sudah meluncurkan serangkaian reformasi, yang rencananya dikaji ulang oleh MSCI pada November mendatang.

Namun tekanan belum selesai. Rabu lalu (8/7/2026), S&P Dow Jones Indices memberi sinyal serupa: Indonesia terancam kehilangan status emerging market kalau kondisi pasar saham tidak membaik. Pasar merespons. IHSG ditutup melemah 1,3% seiring pelemahan bursa regional Asia, menambah panjang daftar hari buruk bagi investor yang sudah nyangkut sejak awal tahun.

Kutisker-Jacobson, agaknya, justru menunggu momen seperti ini. "Periode volatilitas tinggi dan ketidakpastian investor seperti ini menjadi lahan yang sangat menarik bagi investor yang terbiasa di pasar frontier, yang sabar dan berfokus pada valuasi," tulisnya dalam laporan perusahaan. Logikanya sederhana tapi sering dilupakan: ketika suatu pasar kurang diriset dan diabaikan investor global, harga bisa jauh menyimpang dari nilai fundamentalnya. Di situlah celah terbuka, dan Allan Gray sudah lama terbiasa mencarinya.

Gejolak pasar Indonesia tahun ini bukan sekadar sentimen teknikal. Investor global menyoroti sederet kekhawatiran struktural, mulai dari arah kebijakan fiskal, tata kelola pemerintahan, pelemahan rupiah, hingga prediktabilitas regulasi di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Eskalasi konflik Iran di awal tahun memperparah kondisi dengan memicu sell-off aset-aset pasar berkembang secara luas, dan Indonesia kena cukup dalam.

Allan Gray Frontier Markets Equity Fund yang dikelola Kutisker-Jacobson mencatat imbal hasil hampir 9% sepanjang 2026 hingga pertengahan tahun. Selain Indonesia, dana ini juga membuka posisi kecil di Meksiko, Polandia, dan Turki. Kepemilikan di Seplat Energy Plc, perusahaan energi Nigeria yang sebelumnya cuan besar seiring tingginya harga minyak, dipangkas. Harga minyak Brent sendiri mulai meredup setelah AS dan Iran mencapai gencatan senjata pada Juni lalu, mengurangi kekhawatiran terhadap suplai di Selat Hormuz.

Bagi investor ritel lokal yang masih galau antara averaging down atau cut loss, masuknya pemain sekaliber Allan Gray setidaknya memberikan satu sinyal: ada yang melihat Indonesia bukan sebagai pasar yang sedang sekarat, melainkan pasar yang sedang diskon. Entah kebetulan atau tidak, itulah tepatnya momen yang selalu dicari value investor.