Pertumbuhan ekonomi 5,61 persen, neraca perdagangan year-to-date positif, inflasi terkendali di kisaran 2,5 persen. Itulah sederet angka yang disodorkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto ketika ditanya soal ketahanan ekonomi Indonesia, eh, bukan, hapus itu. Ketika ditanya soal daya tahan ekonomi Indonesia di tengah gempuran pelemahan rupiah dan ketidakpastian global yang kian tidak menentu.
Airlangga tidak menampik ada satu bulan di mana neraca perdagangan sempat mencetak defisit. Tapi ia cepat memberi konteks: biang keroknya bukan ekspor yang amblas. Lonjakan harga impor BBM, yang kata dia memang sementara, yang jadi pemicunya. "Kemarin satu bulan memang negatif karena memang dari segi impor BBM itu memang harganya spike, harganya naik," ujarnya di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Jumat (10/7/2026). Ekspor andalan seperti kelapa sawit, batu bara, dan ferro alloy disebutnya masih stabil secara volume. "Angkanya relatif sama kemarin," kata Airlangga.
Dari sisi industri, pemerintah menyiapkan beberapa insentif yang agaknya dirancang untuk meredam dampak tekanan eksternal. Salah satunya pembebasan bea masuk impor bahan baku plastik bagi industri kimia, yang sedang difinalisasi lewat Peraturan Menteri Keuangan. Ada juga fasilitas bea masuk nol persen untuk impor elpiji sebagai bahan baku petrokimia selama enam bulan ke depan. Langkah-langkah ini bisa jadi sinyal bahwa pemerintah mulai merasakan tekanan di sektor hilir lebih dalam dari yang diakui secara terbuka. Atau sekadar antisipasi standar. Sulit dibedakan.
Kemenko Perekonomian juga mengklaim realisasi Paket Stimulus Ekonomi Semester II 2026 berjalan cukup optimal. Juru bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto menyebut penyerapan program oleh masyarakat berjalan baik dan diyakini mampu menjaga momentum pertumbuhan. Klaim yang masih perlu dibuktikan oleh data realisasi anggaran aktual, kalau data itu bisa dipercaya.
Sektor perbankan, menurut Airlangga, relatif aman. Dana pihak ketiga sudah tumbuh double digit, kredit mulai bergerak naik dibanding kuartal sebelumnya. Program penyaluran KUR dan kredit perumahan juga diklaim terus mengalir. "Kita melihat kredit juga sudah mulai berjalan, sudah meningkat dibandingkan kuartal yang lalu," jelasnya.
Soal proyeksi, Airlangga menyandarkan optimismenya pada konsensus lembaga internasional. World Bank, IMF, dan OECD masih memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 5 persen. Persis sejalan dengan target pemerintah sendiri, entah kebetulan atau tidak.
Pertanyaannya sekarang: apakah bauran stimulus fiskal, insentif industri, dan stabilitas sektor keuangan cukup untuk menahan momentum ketika rupiah masih tertekan dan harga komoditas global belum sepenuhnya bersahabat? Pasar, seperti biasa, akan lebih jujur menjawabnya ketimbang siapa pun.