SELASA, 13 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Airlangga Bidik Investasi Data Center China ke Sul...

Ekonomi

Airlangga Bidik Investasi Data Center China ke Sulawesi Utara

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menawarkan Sulawesi Utara sebagai lokasi strategis data center kepada delegasi Provinsi Hebei, China, dengan menyoroti keunggulan geografis daerah itu sebagai gerbang konektivitas data internasional.

RI - China perkuat kerja sama pengembangan teknologi cerdas - ANTARA News Ambon, Maluku

Sulawesi Utara masuk radar. Itulah salah satu pesan terpenting dari pertemuan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dengan delegasi Pemerintah Provinsi Hebei, China, yang dipimpin Wakil Gubernur Zhao Chenxin di Jakarta, Jumat.

Airlangga secara khusus menyoroti potensi kawasan Indonesia Timur, khususnya Sulawesi Utara, sebagai gerbang konektivitas data internasional. Lokasi itu dinilai prospektif untuk pengembangan pusat data lantaran keunggulan geografisnya yang terkoneksi langsung ke jaringan transmisi global menuju AS. Efisiensi akses data lintas negara, begitu klaim Airlangga, menjadi daya tarik yang sulit diabaikan investor.

Konteks pertemuan ini lebih luas dari sekadar urusan data center. Indonesia dan Provinsi Hebei tengah memperdalam kerja sama rantai pasok industri sekaligus mendorong transformasi lewat pengembangan smart technology dan kecerdasan artifisial. Hebei bukan nama asing di peta industri China, eh, bukan: provinsi itu tumbuh pesat di sektor berbasis AI, dan itulah yang membuat pertemuan ini relevan di luar sekadar basa-basi diplomatik.

Angka yang dilontarkan Airlangga cukup bikin orang berhenti sejenak. Volume perdagangan Indonesia dengan China kini tiga kali lipat dibanding total perdagangan dengan seluruh kawasan Eropa maupun AS. Bukan angka kecil.

Dari situ, Airlangga membangun argumen: investasi masuk bukan sekadar angka di neraca modal. "Investasi tersebut diproyeksikan mampu memperluas ketersediaan lapangan pekerjaan bagi masyarakat serta meningkatkan perolehan devisa negara melalui hasil produksinya," jelasnya. Multiplier effect inilah yang terus digaungkan pemerintah sebagai justifikasi agresivitas menarik modal asing.

Hilirisasi tetap jadi topik yang tidak bisa dilewati begitu saja. Nikel dan bauksit disebut Airlangga sebagai sektor yang sudah menikmati guyuran investasi dari China, dan ia berharap momentum ini melebar ke kawasan-kawasan ekonomi strategis yang disiapkan untuk industri teknologi tinggi.

Zhao Chenxin merespons positif. Wakil gubernur itu menegaskan komitmen Hebei mendorong pengusaha asal provinsinya agar memperluas ekspansi ke Indonesia, dan berjanji mengomunikasikan tawaran Airlangga kepada komunitas bisnis di China. Pertanyaannya, seberapa jauh komitmen ini akan berujung pada realisasi konkret, bukan sekadar janji delegasi yang menguap setelah pesawat pulang?

Satu agenda yang agaknya luput dari sorotan: kedua pihak sepakat mendiskusikan efisiensi logistik lewat pengembangan jalur pelayaran. Airlangga bahkan menyatakan minat belajar dari pengalaman China dalam mengelola shipping line. Investasi data center bisa jadi yang paling seksi untuk diberitakan, tapi infrastruktur logistik laut bisa jadi yang lebih berdampak jangka panjang bagi daya saing Indonesia.