SABTU, 17 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  AI Picks & Shovels: Siapa yang Kecipratan dari Boo...

Finansial

AI Picks & Shovels: Siapa yang Kecipratan dari Boom Data Center Indonesia?

Dari pipa baja hingga kawasan industri, analis Mandiri Sekuritas dan Kiwoom mengidentifikasi sederet emiten yang berpotensi ikut menikmati gelombang pembangunan infrastruktur AI di Indonesia.

Selain DSSA, Ini Saham yang Berpotensi Kecipratan Bisnis Data Center & Tren AI

Rak server Nvidia Blackwell butuh 200 kilowatt listrik. Dua puluh kali lipat lebih boros dibanding rak konvensional yang cukup 10 kilowatt. Dari angka itulah, analis Mandiri Sekuritas Robin Sutanto dan Danif Nouval Esfandiari membangun tesis investasi yang, kalau data ini bisa dipercaya, cukup menarik: siapa saja yang akan kecipratan dari ledakan pembangunan data center berbasis AI di Indonesia, bahkan jika mereka bukan pengelola data center itu sendiri.

Dalam riset bertajuk AI Picks & Shovels: Mapping Out the Spillovers yang dirilis 31 Agustus 2026, keduanya memetakan emiten material, infrastruktur, hingga telekomunikasi yang berpotensi menikmati manfaat langsung maupun tidak langsung dari tren ini. Ibarat tambang emas: yang cuan bukan cuma penambangnya, tapi bisa jadi penjual sekopnya.

Logikanya sederhana. Konsumsi listrik yang masif berbanding lurus dengan panas yang dihasilkan server. Sistem pendingin udara konvensional sudah tidak cukup untuk menangani rak berkepadatan tinggi, sehingga teknologi liquid cooling menjadi standar baru. Teknologi direct-to-chip cooling, misalnya, menggunakan selang dan pipa untuk menghubungkan chip server dengan unit distribusi pendingin. Di titik inilah peluang mulai terbuka bagi emiten material.

Dua nama yang disebut Mandiri Sekuritas: PT Avia Avian Tbk (AVIA) dan PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP). Untuk AVIA, eksposurnya tidak langsung, lewat segmen distribusi barang yang mencakup pipa air, segmen yang menyumbang sekitar 20% pendapatan perseroan meski marginnya kalah jauh dibanding bisnis cat. ISSP posisinya lebih solid. Pipa baja perseroan sudah aktif dipasok untuk kebutuhan rak dan struktur pusat data. Tantangannya, utilisasi pabrik ISSP masih rendah, dan peningkatan permintaan dari data center perlu cukup besar untuk benar-benar menggerakkan jarum kinerjanya.

Di luar material, DSSA menjadi nama yang paling sering disebut. Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menilai PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mendapat perhatian paling besar dari tema data center saat ini. Kapasitas data center DSSA kini berada di 40 megawatt di Cikarang, dengan target tahap awal yang dijadwalkan rampung akhir 2026. "Dari sisi eksposur atau kapasitas sendiri saat ini berada di 40 megawatt dan itu terletak di Cikarang. Target tahap awal nantinya akan selesai pada akhir 2026," kata Sukarno. Selain Cikarang, DSSA bersama LG juga mengembangkan fasilitas hyperscale SMX01 di Jakarta senilai sekitar US$300 juta, dirancang dengan standar Tier IV dan teknologi liquid cooling, dengan kapasitas awal 18 MW yang bisa dikembangkan hingga 60 MW.

PT Indosat Tbk (ISAT) juga masuk radar. Sukarno melihat ISAT punya eksposur menarik lewat pengembangan data center dan AI Factory bersama mitra strategis, ditopang posisi kas yang dinilai cukup besar untuk mendanai ekspansi. Kinerja ISAT di kuartal kedua 2026 pun diklaim mencetak kenaikan yang lumayan tajam. "Artinya memang tingkat kebutuhan data center ini akan semakin tinggi ke depannya," kata Sukarno. Berbeda dengan ISAT, dampak tema data center terhadap PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) masih terbatas. Kontribusi bisnis data center terhadap total pendapatan perseroan masih di bawah 2%, meski angka itu agaknya akan bergerak naik.

Bukan main. Efek limpahan ini bahkan menyentuh sektor konstruksi dan kawasan industri. Semakin banyak data center dibangun, semakin besar permintaan konstruksi. Bak gayung bersambut, kebutuhan lahan turut terkerek: PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) disebut Kiwoom sebagai kandidat penerima manfaat berkat land bank yang besar dan potensi klasterisasi data center di kawasan yang dimiliki.

Jaringan dan fiber optik tidak ketinggalan. PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL), PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA), dan PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR) berpotensi menikmati lonjakan traffic data seiring maraknya pembangunan pusat data. Untuk sektor kawasan industri, Mandiri Sekuritas mempertahankan rekomendasi netral dengan top picks BEST dan DMAS.

Pertanyaannya buat investor ritel: seberapa besar porsi bisnis data center dalam total pendapatan masing-masing emiten ini? Kalau kontribusinya masih di bawah 5%, hype-nya bisa jauh melampaui dampak fundamentalnya. Setidaknya itu risiko yang patut dicermati sebelum ikut-ikutan beli.