MINGGU, 11 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Agus Gumiwang Bawa 180 Kawasan Industri ke Rusia,...

Ekonomi

Agus Gumiwang Bawa 180 Kawasan Industri ke Rusia, Bidik Investor Eurasia

Indonesia tampil sebagai Official Partner Country di INNOPROM 2026 di Ekaterinburg, Rusia, dengan menawarkan 180 kawasan industri dan agenda hilirisasi sawit kepada calon investor Eurasia.

Menperin Tawarkan 180 Kawasan Industri ke Investor Eurasia, Ajak Buka Pabrik di Indonesia

Sepanjang 6-9 Juli 2026, Ekaterinburg jadi panggung diplomasi industri Indonesia. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita hadir di pameran industri INNOPROM 2026 dengan satu pesan kepada pelaku industri Eurasia: Indonesia bukan sekadar pasar, melainkan mitra produksi yang sudah siap.

Status Indonesia sebagai Official Partner Country di ajang itu bukan seremonial belaka. Kemenperin membawa lima pengelola kawasan industri sebagai co-exhibitor: KI Wiraraja Indonesia/PT Galang Bumi Industri, PT Kawasan Industri Terpadu Batang selaku pengelola KEK Industropolis Batang, Bintan Industrial Estate, Kendal Industrial Park, dan Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI). Investor bisa duduk langsung dengan pengelola, tanya soal insentif, jajaki skema kerja sama, semuanya di satu meja.

Angkanya tidak main-main. Hingga kuartal II 2026, Indonesia mengantongi 180 kawasan industri yang menampung hampir 12.000 tenant. Tahun lalu, kawasan-kawasan itu menyedot investasi senilai Rp 6.744,58 triliun, tumbuh 9,26 persen dari tahun sebelumnya, sekaligus menyerap sekitar 2,35 juta tenaga kerja. Sulit diabaikan calon investor mana pun.

"Kami ingin investor Eurasia melihat Indonesia bukan hanya pasar yang besar, tetapi juga mitra produksi yang siap tumbuh bersama," ujar Agus dalam keterangannya, Jumat (10/7/2026). Ia menambahkan bahwa kawasan industri kini tidak lagi sekadar menawarkan lahan, tetapi infrastruktur, regulasi, dan layanan perizinan terintegrasi yang memungkinkan perusahaan langsung membangun basis produksinya.

Di luar kawasan industri, ada agenda lain yang agaknya tidak kalah strategis. Pada 7 Juli, Indonesia ikut serta dalam forum bertema Palm Oil and the Future of Sustainable Energy, sesi di INNOPROM 2026 yang membahas masa depan bioenergi berbasis kelapa sawit. Sebagai produsen sawit terbesar di dunia, Indonesia bukan hanya menjual komoditas mentah. Kini mulai menawarkan kapasitas industrinya untuk mendukung transisi energi global.

Salah satu kartu yang dimainkan adalah mandatori biodiesel B50 yang mulai berlaku Juli 2026. Kebijakan ini dikombinasikan dengan program peremajaan kebun rakyat, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan teknologi biodiesel, dan sistem sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Bersama-sama, paket ini jadi bukti bahwa hilirisasi sawit Indonesia bukan sekadar wacana. Apakah mitra Eurasia akan tergoda? Itu yang masih perlu dibuktikan.

Direktur Jenderal KPAII Kemenperin Tri Supondy menyebut forum sawit itu sebagai kesempatan penting untuk memperlihatkan bahwa industri nasional kini tidak lagi berorientasi sekadar pada komoditas ekspor. Ia juga berharap pertemuan-pertemuan di INNOPROM tidak berhenti di level basa-basi pameran. "Harapannya, pertemuan di pameran ini dapat berlanjut menjadi investasi yang terealisasi di Indonesia," kata Tri.

Dua agenda sekaligus dalam satu lawatan ke Rusia: menjual kawasan industri dan menawarkan ekosistem sawit terintegrasi. Rapi di atas kertas. Kini tinggal menunggu apakah jalur baru ke pasar Eurasia ini benar-benar berbuah realisasi investasi, bukan sekadar foto di stan pameran.