Setidaknya 28 emiten mengumumkan rencana buyback saham sejak awal Maret hingga pertengahan Mei 2026. Bukan angka kecil. Tapi pelaku pasar disarankan untuk tidak terburu-buru senang.
Sukarno Alatas, Senior Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, mengingatkan bahwa aksi buyback pada kondisi pasar yang masih volatile dampaknya cenderung selektif. Secara teori, buyback memberi sinyal valuasi murah sekaligus menekan jumlah saham beredar sehingga menopang harga. Tapi sinyal itu hanya bermakna kalau fundamentalnya memang layak dipercaya.
Dari deretan emiten yang masuk radar, Sukarno menyoroti dua nama: PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) dan PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA). ADRO menyiapkan dana maksimum Rp4 triliun untuk buyback periode 20 April 2026 hingga 20 April 2027. MIKA menyusul dengan alokasi Rp1 triliun, berlangsung dari 10 Juni 2026 sampai 9 Juni 2027.
Alasan Sukarno cukup konkret. Sepanjang kuartal I/2026, ADRO membukukan pendapatan usaha US$470,91 juta, tumbuh 23,40% year on year. Seluruh segmen menguat: pertambangan naik 33,97% YoY, jasa pertambangan tumbuh 15,30% YoY, pendapatan lain-lain meningkat 0,71% YoY. Laba bersihnya melesat 67,07% YoY menjadi US$128,14 juta. "Kami melihat ADRO menarik dicermati didukung kinerja kuartal I/2026 yang masih solid, valuasi murah, dan dividend story yang kuat. Selain itu, MIKA juga menarik untuk jangka menengah-panjang karena fundamental defensif dan valuasi yang mulai lebih menarik pasca koreksi," jelas Sukarno.
Bagi MIKA, ceritanya sedikit berbeda. Emiten rumah sakit ini bukan tipe yang biasa bikin heboh pasar, tapi kinerja kuartal pertamanya stabil. Pendapatan bersih Rp1,36 triliun, naik dari Rp1,27 triliun setahun sebelumnya. Laba bersih Rp325,80 miliar, di atas Rp310,96 miliar pada periode yang sama 2025. Defensif, dan valuasinya sudah lebih masuk akal pasca koreksi, begitu kira-kira logika Sukarno.
Ada beberapa nama lain yang ikut dalam gelombang ini. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) menyiapkan hingga Rp1,17 triliun untuk buyback periode 30 April 2026 hingga 29 April 2027, setelah mencatat pertumbuhan laba bersih 16,6% YoY menjadi Rp15,4 triliun di kuartal I. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO), yang baru saja pecah telor dengan laba bersih Rp171 miliar di kuartal I/2026, berencana buyback maksimum Rp3,50 triliun dalam periode 19 Juni 2026 hingga 18 Juni 2027.
Satu nama yang layak masuk daftar: PT Erajaya Swasembada Tbk. (ERAA). Rp100 miliar. Dari kas internal, bukan utang. Emiten ritel gadget ini menargetkan pembelian kembali maksimal 797,5 juta lembar saham, setara 5% dari total modal disetor, dengan jendela waktu 2 Juni hingga 2 September 2026. "Sumber dana yang akan digunakan untuk pembelian kembali saham berasal dari kas internal," kata Head of Legal & Corporate Secretary ERAA, Amelia Allen dalam keterbukaan informasi. Kalau seluruh anggaran terserap habis, total aset ERAA secara proforma akan sedikit tergerus dari Rp28,8 triliun menjadi Rp28,7 triliun, sementara ekuitas turun dari Rp10,17 triliun ke Rp10,07 triliun. Bukan guncangan, tapi tetap patut dicermati.
Selain buyback, tiga emiten memilih jalur stock split: PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) dengan rasio 1:5, PT Itsec Asia Tbk. (CYBR) 1:2, dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) dengan rasio yang cukup ekstrem, 1:25. Sukarno memilah keduanya dengan jelas. "Buyback umumnya lebih kuat menopang harga saham karena memberi sinyal valuasi murah sekaligus mengurangi saham beredar. Sementara stock split lebih bertujuan meningkatkan likuiditas dan keterjangkauan harga saham," ujarnya.
Pertanyaannya buat investor: dari 28 emiten yang buyback, mana yang benar-benar murah dan mana yang sekadar ikut tren? Selektivitas, agaknya, adalah kata kunci musim ini.