Tujuh tahun. Selama itulah penggemar seri Ace Combat menunggu, dan Project Aces akhirnya mulai buka kartu.
Lewat developer diary yang cukup substansial sekaligus posting resmi di PlayStation Blog, studio di bawah Bandai Namco itu mengungkap dua hal sekaligus: pendekatan naratif baru berbasis perspektif orang pertama, plus lonjakan kualitas grafis yang mereka sendiri sebut "rendering fotorealistik."
Bukan klaim kecil.
Soal imersi, Project Aces menyebut bahwa perspektif orang pertama selama cutscene cerita dirancang untuk menciptakan tingkat pencelupan yang belum pernah dicapai seri ini sebelumnya. Bukan cuma soal sudut kamera. Pendekatan itu, kata mereka, ditopang oleh lompatan besar dalam cara pesawat, lingkungan, dan langit dirender. Kutipan dari siaran pers mereka cukup puitis: "langit besar dan indah yang seolah memohon pertempuran."
Dari sisi cerita, Wings of Theve membangun konflik di atas kanvas fiksi yang sudah jadi ciri khas seri ini. Negara Sotoa menginvasi Federasi Central Usea, dan skuadron elit Wings of Theve terjun ke medan pertempuran. Pemain berperan sebagai co-pilot Rex, pilot legendaris yang memimpin skuadron itu. Ketika Rex gugur, komando jatuh ke tangan pemain, lengkap beserta callsign-nya.
Struktur seperti ini, agaknya, adalah taruhan Project Aces agar pemain benar-benar merasa memiliki karakter, bukan sekadar mengendalikannya dari balik layar.
Ace Combat 8 pertama kali diumumkan di The Game Awards tahun lalu, menjadi entri kedelapan sekaligus kembalinya seri ini setelah Ace Combat 7: Skies Unknown yang rilis 2019. Tujuh tahun absen. Kalau footage yang beredar bisa dijadikan patokan, waktu itu tampaknya tidak terbuang percuma.
Game ini dijadwalkan hadir di PC, PS5, dan Xbox Series X. Tanggal rilis resmi belum ada. Tapi buat penggemar lama yang sudah kangen dogfight di ketinggian 30.000 kaki, setidaknya penantian ini kini terasa ada ujungnya.