SENIN, 28 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  8 Emiten Antre IPO, Sektor Kesehatan Kuasai Pipeli...

Bisnis

8 Emiten Antre IPO, Sektor Kesehatan Kuasai Pipeline Semester I-2026

Pipeline IPO BEI per akhir Juni 2026 diisi 8 perusahaan dengan dominasi sektor healthcare. Enam di antaranya sudah masuk tahap book building dan berpotensi menghimpun dana sekitar Rp2,14 triliun.

Pasar IPO Bergairah, 8 Perusahaan Antre Melantai di Bursa

Pasar modal Indonesia menutup paruh pertama 2026 dengan delapan perusahaan yang masih mengantre untuk melantai di Bursa Efek Indonesia. Sepanjang semester ini, baru satu emiten yang berhasil mencatatkan saham dengan dana terhimpun Rp300 miliar, angka yang, jujur saja, masih jauh dari impresif.

Enam dari delapan nama itu sudah masuk tahap book building. Total incaran dana mereka? Sekitar Rp2,14 triliun. Dua sisanya, masing-masing dari sektor kesehatan dan barang konsumsi primer, agaknya masih berkutat di tahap evaluasi dokumen atau menunggu persetujuan prinsip dari BEI.

Soal komposisi sektoral, kesehatan paling banyak diisi dengan empat calon emiten. Dua lainnya datang dari barang konsumsi primer, satu dari consumer cyclicals, dan satu dari infrastruktur. Tidak ada satu pun calon emiten dari energi, keuangan, properti, industri, maupun basic materials yang masuk pipeline sampai sejauh ini.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menyebut enam dari delapan perusahaan tersebut berskala aset besar. Satu beraset menengah, satu lagi kecil. "Dari delapan perusahaan tersebut, satu merupakan perusahaan dengan aset skala kecil, satu perusahaan aset skala menengah, dan enam perusahaan aset skala besar," ujar Nyoman dalam keterangan tertulis, Minggu (28/6/2026).

Rincian enam emiten yang sudah dalam proses penawaran umum cukup beragam. PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) memburu dana terbesar dengan target sekitar Rp683 miliar, diikuti PT Niramas Utama Tbk (JELI) yang membidik Rp392 miliar. PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS) berpotensi mengantongi Rp340 miliar hingga Rp428 miliar, tergantung harga final di rentang Rp135-Rp170 per saham. PT Bach Multi Global Tbk (BACH), emiten infrastruktur berstatus syariah, membidik Rp307,5 miliar dari kisaran harga Rp400-Rp500. PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) menargetkan Rp269 miliar, sementara PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) membidik Rp62,7 miliar.

Apakah momentum ini tepat? Ahmad Faris Mu'tashim, Investment Specialist KISI Sekuritas, bilang kondisi pasar sudah cukup kondusif, setidaknya dibanding beberapa bulan terakhir. Tekanan dari lonjakan harga minyak mulai mereda, dan secara teknikal IHSG dinilai tidak lagi membentuk pola lower low, sinyal awal yang bisa jadi pertanda pembalikan arah. "Hal yang menjadi pertimbangan adalah kondisi pasar yang setidaknya mulai stabil, sehingga emiten dapat mengambil momentum potensi pembalikan arah," jelasnya saat dihubungi Kompas.com, Kamis malam (25/6/2026).

Faris juga menyoroti sesuatu yang kerap luput dari kalkulasi investor ritel. Keputusan beli saham IPO, katanya, lebih sering ditentukan oleh kredibilitas underwriter dan kejelasan penggunaan dana ketimbang valuasi atau kondisi IHSG. "Mayoritas orang lebih memilih saham IPO dari sisi kredibilitas underwriter dan peruntukan alokasi dana IPO. Sehingga, kondisi pasar dan valuasi yang cenderung premium seringkali tereduksi," paparnya. Pola klasik, dan cukup relevan di pasar yang masih galau seperti sekarang.

Di luar antrean IPO, BEI mencatat total penghimpunan dana pasar modal sepanjang 2026 sudah menyentuh Rp80,28 triliun. Porsi terbesar datang dari penerbitan efek bersifat utang dan sukuk (EBUS), yakni Rp76,09 triliun dari 71 emisi oleh 43 penerbit. Rights issue menyumbang Rp3,89 triliun dari empat perusahaan tercatat hingga 26 Juni 2026. Dana IPO sendiri baru Rp300 miliar. Masif di sisi EBUS, tapi cerita IPO semester ini masih perlu babak lanjutan.