MINGGU, 11 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  65 Tahun Betjik Djojo Group, Konflik Timur Tengah...

Ekonomi

65 Tahun Betjik Djojo Group, Konflik Timur Tengah Bikin Harga Minyak Bergerak

Di tengah tekanan geopolitik Timur Tengah yang memukul sektor energi global, Betjik Djojo Group memastikan pasokan LPG dan petrokimia ke pelanggan domestik tetap berjalan tanpa pengurangan kuantitas.

Konflik Timur Tengah tidak pandang bulu. Sektor energi nasional kena getarannya juga, dari harga minyak mentah sampai rantai pasok LPG yang menyentuh langsung dapur rumah tangga dan mesin produksi industri.

Betjik Djojo Group, konglomerat migas dan petrokimia berusia 65 tahun, mengklaim operasional distribusinya belum terganggu secara berarti. Branch Manager PT Bintang Buana Energi Randy Abirawa menyatakan pasokan ke pelanggan masih terjaga, ditopang jaringan relasi bisnis internasional yang ia sebut sudah cukup solid.

"Memang berdampak ya (konflik Timur Tengah). Namun dengan fasilitas yang kami miliki dan relasi kami di area Asia yang juga sudah cukup kuat, kami bisa mensuplai para pelanggan dengan baik tanpa mengurangi kuantitas," kata Randy di acara Gathering 65 Tahun Betjik Djojo Group, D'Girijati Hotel & Beach Club, Gunungkidul, Sabtu (11/4/2026).

Tapi ada yang ia tidak sembunyikan. Penyesuaian harga sedang berjalan. Bukan anomali, kalau mau jujur, karena tekanan geopolitik ini agaknya sudah merembet ke hampir seluruh lini energi, bukan cuma tabung gas.

"Sampai detik ini kami tetap melayani konsumen dengan baik, walaupun memang ada penyesuaian harga. Hal ini karena dampak konflik yang berimbas ke seluruh sektor energi. Tidak hanya LPG saja, tetapi juga minyak dan bahan-bahan lain yang memang berasal dari perut bumi," ujarnya.

Bagi pelaku industri yang bergantung pada bahan baku petrokimia, pernyataan itu patut dicermati ulang. Penyesuaian harga saat kondisi geopolitik belum mereda bisa berarti tekanan biaya produksi yang tidak sebentar.

Empat belas perusahaan kini bernaung di bawah grup ini. Cakupannya lumayan lebar: selain distribusi gas LPG, mereka juga menyuplai bahan baku tiner dan sejumlah bahan kimia industri lainnya. Dari situ jelas, Betjik Djojo bukan sekadar pemain distribusi energi rumahan. Mereka masuk cukup dalam ke rantai pasok manufaktur nasional.

Enam puluh lima tahun. Bukan waktu yang sebentar untuk bertahan di bisnis migas Indonesia yang keras dan sarat regulasi. Pertanyaannya sekarang, seberapa lama "penyesuaian harga" ini berlangsung sebelum konsumen akhir benar-benar merasakannya?