MINGGU, 18 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  23 Juta Akun Kripto, Transaksi Malah Ambruk 28 Per...

Finansial

23 Juta Akun Kripto, Transaksi Malah Ambruk 28 Persen , Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Jumlah investor kripto Indonesia mendekati 23 juta akun, namun nilai transaksi Juli 2026 anjlok 28,2 persen. Pasar derivatif mulai dilirik, tapi risikonya tidak main-main.

FLOQ nilai minat masyarakat terhadap kripto masih terjaga

Angka yang keluar dari data OJK untuk Juli 2026 terasa kontradiktif: jumlah akun konsumen aset kripto tumbuh menjadi 22,93 juta, naik dari 22,69 juta bulan sebelumnya, sementara nilai transaksinya justru rontok ke Rp20,52 triliun dari Rp28,58 triliun pada Juli tahun lalu, atau ambruk 28,2 persen.

Dua angka ini bercerita tentang hal yang berbeda. Basis pengguna kripto Indonesia nyata dan terus membesar, tapi kantong mereka sedang tidak tebal. Bukan gambar yang biasanya disajikan promotor industri.

Yudhono Rawis, CEO dan Founder FLOQ, menyebut kondisi ini sebagai pelemahan yang lebih bersifat siklikal ketimbang struktural. "Basis konsumen masih bertambah meskipun nilai transaksinya mengalami penurunan. Ini menunjukkan masyarakat tidak sepenuhnya meninggalkan kripto, tetapi mulai bertransaksi dengan nominal yang lebih kecil dan lebih berhati-hati," ujarnya. Kalimat yang masuk akal, meski klaim ini masih perlu dibuktikan oleh data kuartal-kuartal mendatang.

Konteks makronya memang tidak menggembirakan. Jumlah kelompok aspiring middle class, atau calon kelas menengah, naik dari 137,5 juta jiwa pada 2024 menjadi 142 juta jiwa pada 2025, kini mencakup sekitar 50,4 persen penduduk. Kenaikan ini bukan kabar baik: artinya lebih banyak orang yang sebelumnya masuk kelas menengah kini turun satu tangga ke kategori "calon". Kelompok rentan pun ikut melar, dari 67,7 juta menjadi 67,9 juta orang. Dalam kondisi daya beli yang tergerus, wajar kalau alokasi ke instrumen volatil seperti kripto ikut dipangkas.

Tekanan dari luar negeri tidak kalah berat. Kapitalisasi pasar kripto global sempat rontok sekitar 45 persen, dari 4,2 triliun dolar AS pada Oktober 2025 menjadi sekitar 2,3 triliun dolar AS pada Maret 2026. Sudah pasti efeknya merembet ke sentimen investor lokal.

Yang justru menarik ada di segmen derivatif. Transaksi derivatif aset keuangan digital tercatat Rp3,41 triliun di Juli 2026, turun dari Rp4,19 triliun bulan sebelumnya. Tapi tren minat jangka panjangnya agaknya mengikuti dinamika global yang jauh lebih besar. Secara global, volume perdagangan derivatif kripto di kuartal II 2026 mencapai sekitar 12,7 triliun dolar AS, bandingkan dengan pasar spot yang hanya 1,95 triliun dolar AS. Rasio itu bicara sendiri.

Data per awal September 2026 menunjukkan sentimen trader Ethereum cukup bullish: 69,74 persen mengambil posisi long pada kontrak abadi ETHUSDT versus 30,26 persen short, dengan rasio long-short 2,3. Bitcoin lain ceritanya, posisi long dan short nyaris imbang di kisaran 50-50, cerminan pasar yang sedang menunggu katalis.

Ryan Lymn, Direktur Operasional Bittime, mengingatkan bahwa produk futures menawarkan fleksibilitas untuk bermain naik maupun turun. Tapi tanpa pemahaman soal margin, leverage, dan manajemen risiko, instrumen ini ibarat pedang bermata dua. "Peluang tersebut harus diimbangi dengan pemahaman terhadap mekanisme produk dan risiko perdagangan," tegasnya.

Satu segmen lain yang disebut Yudhono sebagai peluang adalah tokenized stocks, saham perusahaan global yang dikemas dalam format aset digital. Spektakuler memang: volume perdagangan tokenized stocks global melonjak dari 831 juta dolar AS pada Juli 2025 menjadi sekitar 54 miliar dolar AS pada Juni 2026. Kalau tren ini masuk ke Indonesia dengan regulasi yang memadai, segmen ini bisa jadi jangkar baru pertumbuhan industri.

Hingga pertengahan 2026, OJK telah memberikan izin kepada 32 entitas, mencakup bursa kripto, lembaga kliring, kustodian, dan pedagang aset keuangan digital. Masuknya pemain global ke pasar lokal juga memberi sinyal bahwa Indonesia masih dilirik sebagai pasar yang layak dipertaruhkan.

Pertanyaannya bukan lagi soal apakah kripto akan bertahan di Indonesia. Hampir 23 juta akun, basis pasarnya sudah terlalu besar untuk diabaikan. Pertanyaan yang lebih relevan: siapa yang bisa mempertahankan pengguna agar tetap aktif bertransaksi, bukan sekadar membuka akun lalu diam.