SELASA, 13 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  11.000 Kopdes Merah Putih Siap Jalan, Menkop Minta...

Ekonomi

11.000 Kopdes Merah Putih Siap Jalan, Menkop Minta Serap Produk Lokal

Lebih dari 11.000 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih telah siap beroperasi. Menteri Koperasi mendorong koperasi tidak sekadar jadi agen subsidi, tapi juga penyerap hasil produksi petani, nelayan, dan UMKM desa.

Tak Cuma Jual Barang Subsidi, Menkop Minta Koperasi Merah Putih Juga Pasarkan Produk Lokal

Lebih dari 11.000 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sudah siap beroperasi. Sekitar 20.000 lainnya masih dalam proses pembangunan. Angka yang tidak main-main, mengingat program ini digeber pemerintah dalam tempo yang, kalau data ini bisa dipercaya, belum pernah ada presedennya di sektor koperasi nasional.

Menteri Koperasi Feri Juliantono menegaskan, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) tidak boleh berhenti di fungsi distribusi barang bersubsidi. Koperasi juga harus berperan sebagai offtaker, eh, kata itu pun sudah dilarang, pihak yang menyerap dan memasarkan hasil produksi masyarakat desa: pertanian, perikanan, peternakan, kerajinan, sampai produk UMKM lokal.

"Tidak boleh lagi nanti ada sayuran dan buah-buahan dari masyarakat yang busuk karena tidak terserap. Koperasi Desa Merah Putih harus bisa menampung seluruh hasil masyarakat yang ada di desa dan kelurahan," kata Feri saat membuka Kebumen Travel Mart dan Gombong Culture Festival di kawasan Benteng Van der Wijck, Gombong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Kamis (27/8/2026). Bukan retorika kosong, mengingat hasil panen yang membusuk sebelum sampai pasar sudah jadi momok lama bagi petani desa.

Secara fungsi dasar, Kopdes Merah Putih dirancang sebagai jalur distribusi barang bersubsidi: pupuk, elpiji 3 kilogram, beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), dan minyak goreng. Skema ini diharapkan memangkas peran tengkulak berlapis yang selama ini menggerus margin petani.

Tapi Feri agaknya ingin lebih jauh dari sekadar warung subsidi berskala koperasi. "Kita juga mendorong agar barang-barang produksi UMKM lokal bisa dijual dan diprioritaskan di gerai-gerai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih," ujarnya. Dengan menempatkan koperasi sebagai penyerap hasil produksi, pemerintah berambisi memperpendek rantai distribusi sekaligus mendongkrak posisi tawar petani dan nelayan.

Untuk menopang fungsi itu, pemerintah menyiapkan fasilitas cold storage. Krusial. Terutama untuk komoditas rentan seperti sayuran, buah, dan hasil perikanan yang nilainya bisa ambles dalam hitungan jam jika rantai dinginnya terputus.

Pemerintah juga akan segera melakukan akreditasi dan validasi terhadap koperasi yang sudah selesai dibangun, sekaligus menempatkan manajer untuk mendukung operasional. "Keberadaan Koperasi Merah Putih diharapkan tidak hanya memperkuat distribusi barang kebutuhan masyarakat, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi desa yang lebih kuat," kata Feri.

Pertanyaannya: bisakah koperasi yang baru dibangun ini langsung berfungsi sebagai penyerap yang andal, bukan sekadar toko baru di desa? Itu yang masih perlu dibuktikan di lapangan, jauh dari podium seremonial.