JUMAT, 16 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  109 Tahun Sumitro Djojohadikusumo: Begawan Ekonomi...

Ekonomi

109 Tahun Sumitro Djojohadikusumo: Begawan Ekonomi, Karier Politik yang Kelam

Tempo menerbitkan edisi khusus memperingati 109 tahun kelahiran Sumitro Djojohadikusumo, ekonom yang meletakkan fondasi kebijakan ekonomi Indonesia namun dicap pemberontak karena bergabung dengan PRRI.

Kena Semprot demi Edisi Khusus Sumitro

Seratus sembilan tahun setelah kelahirannya, nama Sumitro Djojohadikusumo kembali diperbincangkan. Bukan nostalgia semata. Relevansinya terhadap cara Indonesia membangun fondasi kebijakan ekonomi masih terasa hidup, bahkan di meja-meja diskusi hari ini.

Tempo memilih momen ini untuk menerbitkan edisi khusus yang terbit 30 Mei 2026, tepat sehari setelah peringatan kelahiran sang begawan pada 29 Mei 1917. Tahun ini agak berbeda dari tradisi tahunan yang biasanya jatuh menjelang 17 Agustus. Sumitro, bagi redaksi Tempo, terlalu besar untuk disebutkan sekilas di tengah euforia kemerdekaan.

Di lapangan ekonomi, warisannya tidak terbantahkan. Sumitro meletakkan dasar-dasar kebijakan ekonomi pada era Orde Lama dan Orde Baru, dua rezim yang secara ideologi berseberangan namun sama-sama membutuhkan tangannya. Karier politiknya? Lain cerita. Jauh lebih gelap. Dia dicap pemberontak karena bergabung dengan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), dituduh bermain mata dengan CIA, hingga disebut otak di balik apa yang kemudian dikenal sebagai Mafia Berkeley.

Mendapat gambaran utuh dari sosok sekaliber Sumitro bukan perkara mudah. Tidak banyak orang yang masih hidup dan pernah berinteraksi langsung dengannya. Kalau pun ada, usianya sudah lanjut dengan ingatan yang mulai termakan umur. Proses wawancara menuntut kesabaran ekstra dari tim Tempo. Beberapa narasumber senior menyemprot wartawan yang memotong penjelasan mereka di tengah sesi, karena memang begitulah cara mereka menjaga ritme cerita.

Ketegasan itu nyata. Tapi ada momen-momen yang agaknya tidak terduga. Beberapa narasumber bercerita dengan suara terbata-bata dan mata berkaca-kaca, seolah kenangan bersama Sumitro masih terasa dekat meski puluhan tahun telah berlalu. Serba salah bagi para jurnalis yang tugasnya menggali, bukan menghibur.

Dari luar negeri, sejarawan Rudolf Mrázek, kini 83 tahun, mengenang Sumitro yang masih bermain tenis di usia 70-an bahkan 80-an. Ingatannya agak samar soal detailnya, tapi ia berseloroh bahwa usia tenis Sumitro "pasti lebih tua dari Novak Djokovic," petenis berusia 39 tahun yang masih aktif di peringkat empat dunia.

Koresponden Tempo di Belanda, Linawati Sidarto, menelusuri jejak masa muda Sumitro saat menimba ilmu di Eropa, termasuk Hotel Lancaster di Jalan Berri 7, Paris, tempat Sumitro pernah bekerja. Di sanalah dia bertemu André Malraux, tokoh yang diam-diam dikaguminya. Yang tersisa dari era itu adalah sebuah jam dinding berornamen hijau dan emas, saksi bisu rutinitas seorang pemuda Indonesia yang kelak akan membentuk arah ekonomi bangsanya. Angka jarum jam itu, entah kebetulan atau tidak, bisa jadi menghitung mundur karier yang merentang dari Eropa sampai Jakarta.

Dari dalam negeri, penelusuran merambah ke Kebumen dan Banyumas, Jawa Tengah, tempat kelahiran dan masa kecil Sumitro, hingga Manado untuk menelusuri rekam jejak sang istri, Dora Marie Sigar. Riset mencakup kliping-kliping lama, termasuk koran El Bahar, surat kabar pro-Sukarno yang didirikan Raden Soejoso Poegoeh dan bersikap tajam mengkritisi Sumitro ketika dia menginjakkan kaki kembali di Tanah Air pada 1967.

The Kertanegara Institute turut menandai momen ini dengan menggelar Forum Refleksi 109 Tahun Prof Soemitro, melengkapi upaya mendokumentasikan warisan intelektual sang ekonom sebelum ingatan kolektif tentangnya benar-benar memudar.

Bagi pelaku pasar dan pengamat ekonomi, refleksi semacam ini bukan sekadar urusan arsip. Kebijakan-kebijakan yang diletakkan Sumitro, baik yang dipuji maupun yang diperdebatkan hingga kini, masih membentuk cara Indonesia memandang peran negara dalam ekonomi. Pertanyaannya, sampai kapan debat itu akan terus bergulir tanpa ada yang berani menyimpulkan?

Seratus sembilan tahun. Debatnya belum selesai.