Seratus sembilan tahun. Bukan angka yang biasa dirayakan, dan The Kertanegara Institute agaknya memang tidak sedang merayakan, mereka sedang berargumen.
Lembaga itu baru saja menggelar private session bertajuk "Relevansi Pemikiran dalam Arah Pembangunan Indonesia" untuk memperingati 109 tahun Prof Dr Soemitro Djojohadikusumo, ekonom sekaligus arsitek kebijakan yang namanya melekat dalam sejarah pembangunan republik ini. Bagi generasi yang hanya mengenalnya sebagai ayah Presiden Prabowo Subianto, forum semacam ini punya fungsi ganda: mengingatkan, sekaligus meluruskan.
Soemitro bukan sekadar nama di buku teks. Sebagai guru besar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, ia termasuk langka di zamannya, ilmuwan yang, tunggu, maksudnya: ilmuwan yang sanggup menerjemahkan gagasan besar tentang perekonomian Indonesia ke dalam kerangka akademis yang sistematis. Buku-bukunya bukan hanya beredar di kampus dalam negeri, tapi dipakai sebagai acuan di sejumlah negara lain. Kontribusi semacam itu tidak lahir dari ambisi sesaat.
Founder and Chairman The Kertanegara Institute, Raga Awandayu Prakasa VG, menyebut momen ini sebagai kesempatan untuk mengenang sekaligus merefleksikan kembali warisan pemikiran Soemitro, terutama bagaimana gagasan-gagasannya tetap relevan bagi generasi muda hari ini. Soemitro, kata dia, memberikan teladan tentang keberanian berpikir jauh, melihat lebih dalam, dan menyiapkan sesuatu yang manfaatnya baru akan terasa pada generasi setelahnya.
Keynote speech datang dari cucu Soemitro sendiri, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo. Legasi terbesar sang kakek, ia tegaskan, bukan semata pada konstruksi konseptual ekonominya. "Tetapi juga pada etos berpikir yang menempatkan pembangunan sebagai kerja kebangsaan yang harus memberi dampak nyata bagi masyarakat," kata Rahayu, seperti dikutip dalam siaran pers di Jakarta, Jumat (29/5/2026). Dalam perspektif Soemitro, ekonomi bukan urusan angka dan pertumbuhan makro semata, ia soal apakah manfaat pembangunan itu benar-benar sampai ke masyarakat luas. Pertanyaan yang, jujur saja, masih belum sepenuhnya terjawab.
Rahayu juga menyoroti Indonesia kini berada dalam fase transformasi yang membutuhkan kontribusi pemikiran terbaik dari anak-anak muda. Sinyal yang bisa dibaca dua arah: apresiasi terhadap warisan intelektual, sekaligus undangan agar generasi berikutnya tidak cukup hanya mengutip Soemitro, tapi berani meneruskan spiritnya.
Forum ini digelar tertutup, tapi pesannya tidak. Saat debat pembangunan masih kerap terperangkap dalam dikotomi pertumbuhan versus pemerataan, nama Soemitro Djojohadikusumo kembali dihadirkan sebagai pengingat bahwa dua hal itu, dalam kerangka pikirnya, tidak pernah seharusnya dipertentangkan.