Ijay tidak pernah membayangkan bahwa konter pulsa berukuran 2x3 meter miliknya di Desa Jelapat 2, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, bakal berubah menjadi simpul ekonomi yang melayani ribuan orang.
Sejak bergabung sebagai BRILink Agen PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) pada awal 2015, perjalanan Ijay mencerminkan apa yang sebetulnya sedang dibangun BRI dalam skala jauh lebih besar. Kala itu, warga sekitar harus menempuh 10 kilometer ke BRI Unit Tamban atau 15 kilometer ke Unit Anjir Pasar sekadar untuk menarik tunai. Biaya transportasi dan antrean panjang bukan beban kecil bagi pekerja pabrik kayu yang upahnya pas-pasan.
"Kondisi tersebut mendorong saya untuk mengambil peluang sebagai BRILink Agen. Sekarang, warga tidak perlu lagi mengeluarkan biaya transportasi tinggi atau mengantre lama di kota, karena transaksi di bawah Rp1 juta di agen kami biayanya sangat terjangkau," ujar Ijay.
Lima belas kilometer itu kini tidak relevan lagi. Agen Ijay mencatat rata-rata 100 transaksi per hari, sekitar 3.000 per bulan. Dari margin yang menipis di setiap transaksi itu, ia membangun minimarket, pangkalan gas LPG, toko ATK dan plastik, toko sepeda listrik, hingga lahan perkebunan 10 hektar. Sepuluh karyawan, semuanya warga lokal satu RT, kini digajinya tiap bulan. Tidak ada yang dikirim merantau.
Angka-angka di level mikro itu, bila dikalikan jutaan, memberi gambaran betapa besarnya mesin yang sedang BRI operasikan. Hingga akhir September 2026, jaringan BRILink Agen telah membengkak ke 1,06 juta titik, menjangkau lebih dari 60 ribu desa atau sekitar 80% desa di seluruh Indonesia. Volume transaksinya mencapai Rp1.270 triliun, dengan sekitar 750 juta transaksi tercatat sepanjang periode tersebut. Masif.
Bagi BRI sendiri, jaringan ini bukan sekadar program sosial yang dikemas ulang. Aktivitas BRILink Agen menghasilkan fee-based income Rp1,3 triliun dan mendukung penghimpunan dana murah (CASA) sebesar Rp32 triliun hingga September 2026. Kontribusi ke bottom line perseroan nyata, terukur, dan agaknya akan terus membesar.
Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menegaskan bahwa kekuatan jaringan ini bukan hanya soal jangkauan geografis. Kedekatan agen dengan komunitas lokal menjadi faktor yang sulit direplikasi kompetitor. "BRILink Agen bukan sekadar mitra transaksi perbankan. Di banyak daerah, mereka menjadi pihak yang membantu masyarakat mengakses layanan keuangan, memahami cara bertransaksi, sekaligus memenuhi kebutuhan sehari-hari," ujar Akhmad.
Layanan yang bisa diakses lewat agen pun sudah jauh melampaui sekadar tarik tunai: bayar listrik, BPJS, tagihan air, beli pulsa, cicilan, referral pembukaan rekening, pengajuan pinjaman, asuransi mikro, bahkan tiket bus dan kereta, semuanya bisa diurus dari warung tetangga. Pertanyaannya, siapa lagi yang bisa membangun jaringan kepercayaan seperti ini dalam semalam? Untuk Ijay, kepercayaan itu berlanjut ke peran yang lebih konkret: outletnya kini menjadi salah satu titik penyaluran Bantuan Pangan Nontunai (BPNT/Kartu Sembako) bagi sekitar 2.000 Keluarga Penerima Manfaat di wilayahnya.
BRI juga mendorong agen-agennya untuk naik kelas. Per September 2026, sebanyak 59 ribu BRILink Agen masuk kategori Jawara dan Juragan, tingkatan dengan fee based income tertinggi dalam ekosistem mitra BRI. Program peningkatan kapasitas ini, kalau data ini bisa dipercaya sebagai tren jangka panjang, adalah cara BRI mempertahankan loyalitas agen sekaligus mendongkrak produktivitas jaringan.
Corporate Secretary BRI Dhanny menyebut perluasan akses bukan hanya soal menghadirkan layanan transaksi. "Bagi BRI, perluasan akses bukan hanya soal menghadirkan layanan transaksi, tetapi juga bagaimana keberadaan layanan tersebut dapat ikut membuka peluang ekonomi, memperkuat aktivitas usaha masyarakat, dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi lingkungan sekitarnya," ujar Dhanny.
Oktober 2026, Bulan Inklusi Keuangan, memberi konteks yang pas untuk membaca semua ini. Indonesia masih punya gap besar dalam akses keuangan formal. BRI, dengan 1,06 juta titik yang tertancap di pelosok desa, sedang mengisi gap itu, satu transaksi pada satu waktu, bak gayung bersambut antara kebutuhan warga dan ambisi ekspansi bank terbesar negeri ini.