SABTU, 19 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Zelensky Ancam Drone ke Lapangan Merah, Parade 9 M...

Internasional

Zelensky Ancam Drone ke Lapangan Merah, Parade 9 Mei Rusia Jalan di Bawah Ketegangan

Zelensky secara terbuka mengancam akan mengirim drone ke parade militer Moskow, sementara Rusia menawarkan gencatan senjata dua hari sekaligus mengancam serangan rudal masif ke Kyiv jika dilanggar.

Parade Hari Kemenangan 9 Mei di Moskow tahun ini berjalan di bawah tekanan yang tidak lazim. Perang masih berkecamuk di timur Ukraina, dan Presiden Volodymyr Zelensky terang-terangan mengancam akan mengirimkan drone ke atas Lapangan Merah.

Ancaman itu disampaikan saat Zelensky menghadiri pertemuan Komunitas Politik Eropa di Yerevan, Armenia. Ia menegaskan drone Ukraina mampu menjangkau parade tersebut. Satu poin yang ia tekankan keras: tahun ini, tidak ada peralatan militer berat dalam rencana parade. "Rusia telah mengumumkan parade 9 Mei di Moskow tanpa peralatan militer. Jika ini terjadi, ini akan menjadi pertama kalinya dalam bertahun-tahun. Mereka tidak mampu menghadirkan peralatan militer dan takut drone bisa terbang di atas Lapangan Merah," tegasnya. Absennya alutsista itu ia baca sebagai pengakuan tak langsung atas kelemahan strategis Moskow.

Kremlin memang mengonfirmasi skala parade dikurangi, dengan alasan risiko "aktivitas teroris Ukraina." Masif. Rosgvardiya sudah memadati area sekitar Lapangan Merah sejak akhir April, gambarnya tersebar di media internasional. Laporan intelijen Eropa, seperti yang dikutip CNN dan Financial Times, menyebut Putin kian memperketat isolasinya di bunker karena kekhawatiran akan ancaman pembunuhan maupun kudeta.

Kementerian Pertahanan Rusia kemudian mengumumkan gencatan senjata dua hari, berlaku 8-9 Mei, bertepatan dengan peringatan ke-81 kemenangan Soviet atas Nazi Jerman dalam Perang Dunia II. "Sesuai dengan keputusan Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Rusia, Vladimir Putin, gencatan senjata telah diumumkan mulai 8-9 Mei 2026. Kami berharap pihak Ukraina mengikuti keputusan ini," bunyi pernyataan Kemhan Rusia yang diunggah lewat aplikasi pesan negara, MAX.

Kyiv tidak semudah itu ditarik. Zelensky mengaku belum menerima notifikasi resmi apapun, dan alih-alih tunduk pada timeline Moskow, ia balik mengumumkan gencatan senjata versinya sendiri: berlaku mulai tengah malam tanggal 5-6 Mei. Agaknya lebih terasa sebagai manuver diplomatik daripada sinyal perdamaian sungguhan.

Ancaman balasan Rusia tidak kalah keras. Kemhan Rusia secara eksplisit memperingatkan bahwa bila Ukraina berani mengganggu perayaan, Angkatan Bersenjata Rusia akan melancarkan serangan rudal besar-besaran ke pusat Kyiv. "Jika rezim Kyiv mencoba menjalankan rencana kriminalnya untuk mengganggu perayaan peringatan ke-81 Kemenangan dalam Perang Patriotik Besar, Angkatan Bersenjata Rusia akan melancarkan serangan rudal balasan besar-besaran ke Kyiv," tulis pernyataan tersebut. Warga sipil dan staf diplomatik asing pun diperintahkan segera meninggalkan kota.

Gencatan senjata ini bukan ide baru. Usulan awal datang dari Putin saat berbicara melalui telepon dengan Presiden AS Donald Trump pekan lalu. Ukraina saat itu menyatakan akan meminta rincian lebih lanjut dari Washington sebelum merespons. Pertanyaannya, berapa lama tren negosiasi semu ini bisa bertahan?

Di luar medan perang, koridor diplomatik juga bergerak. PM Inggris Keir Starmer mengonfirmasi minat London untuk bergabung dalam skema kredit pertahanan Uni Eropa senilai 90 miliar euro demi mendukung Ukraina. Slovakia pun menyatakan siap mendampingi Kyiv dalam proses aksesi ke Uni Eropa.

Apakah parade 9 Mei berlangsung tanpa insiden, atau justru menjadi titik eskalasi baru dalam konflik yang sudah lebih dari empat tahun menguras dua negara ini, itu yang kini ditunggu semua pihak.