JUMAT, 18 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Yen Nyaris Tak Bergerak di Level Terlemah 40 Tahun...

Finansial

Yen Nyaris Tak Bergerak di Level Terlemah 40 Tahun, BOJ Kehabisan Amunisi?

Yen Jepang kembali tertekan mendekati level telemah empat dekade setelah dolar AS menguat menyusul batalnya pertemuan AS-Iran, sementara inflasi inti Jepang masih tertahan di bawah target 2% BOJ untuk bulan keempat berturut-turut.

Yen Makin Loyo Terhadap Dolar AS, Dekati Level Terendah dalam 40 Tahun

Sepanjang sesi perdagangan Asia Jumat (19/6), yen Jepang nyaris tak berdaya. Mata uang Negeri Sakura itu diperdagangkan di kisaran ¥161,455 per dolar AS, mendekati level terlemahnya dalam hampir empat dekade, setelah sebelumnya sempat menguat tipis lalu berbalik arah.

Pemicunya datang dari Washington. Wakil Presiden AS JD Vance tiba-tiba membatalkan perjalanan ke Swiss untuk bertemu negosiator Iran, membuyarkan harapan pasar bahwa perjanjian damai AS-Iran yang disepakati dalam 14 poin itu akan segera berjalan mulus. Indeks dolar AS naik 0,3% ke 101,07, tertinggi dalam satu tahun terakhir. "Pasar akan mengamati dengan saksama bagaimana implementasi dan negosiasi lanjutan yang lebih sulit berkembang dalam beberapa hari mendatang," tulis analis Danske Bank dalam laporan riset yang dikutip Reuters.

Yang bikin situasi makin ganjil: tekanan terhadap yen terjadi justru setelah Bank of Japan (BOJ) menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun pada hari Selasa. Pasar agaknya tidak terkesan. Posisi jual spekulatif yen yang besar belum juga mereda, pertanda pelaku pasar masih skeptis terhadap kemampuan BOJ membalikkan tren pelemahan ini hanya lewat kebijakan moneter.

Analis DBS dalam catatan riset mereka menyebut toleransi Jepang terhadap pelemahan yen tampaknya mendekati batasnya. Para pembuat kebijakan Tokyo, menurut mereka, kemungkinan akan mengandalkan kombinasi retorika keras dan intervensi langsung di pasar valuta asing untuk mengekang depresiasi lebih lanjut, dengan penurunan harga minyak turut memberi sedikit bantalan bagi mata uang tersebut. Kementerian Keuangan Jepang memang sudah turun tangan beberapa kali awal tahun ini dengan operasi jual dolar. Hasilnya? Sementara saja.

Data inflasi yang dirilis bersamaan Jumat ini memperumit kalkulasi BOJ. Inflasi inti tahunan Jepang bertahan di bawah target 2% bank sentral untuk bulan keempat berturut-turut di bulan Mei. Subsidi bahan bakar pemerintah meredam lonjakan harga yang seharusnya terjadi akibat konflik di Timur Tengah yang mendongkrak biaya bahan baku. Secara teknis BOJ punya ruang untuk tetap hawkish, tapi basis inflasinya tidak sekuat yang diharapkan. Bak pedang bermata dua.

Kondisi ini bisa berubah drastis, kalau data bisa dipercaya. Analis Capital Economics memperingatkan bahwa begitu subsidi energi dicabut atau berkurang, tekanan harga yang selama ini tertahan akan muncul sekaligus. Mereka memproyeksikan inflasi Jepang bisa melesat ke sekitar 3,5% pada awal 2027, angka yang jauh melampaui target BOJ. Risalah rapat bank sentral bulan April yang ikut dirilis hari ini juga mengonfirmasi kekhawatiran serupa, dengan Wakil Gubernur BOJ Ryozo Himino memperingatkan adanya potensi kenaikan suku bunga lebih lanjut seiring efek inflasi dari perang Iran mulai merembet.

Di sisi dolar, ekspektasi pasar terhadap Federal Reserve bergerak cepat. Fed Fund Futures kini memperkirakan probabilitas 39,6% untuk kenaikan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan Juli mendatang, melonjak dari hanya 8% seminggu lalu berdasarkan data CME FedWatch. Divergensi kebijakan moneter antara Fed dan BOJ ini, ironisnya, justru memperberat beban yen meski BOJ sedang dalam siklus pengetatan. Begitulah pasar: tidak selalu logis, tapi konsisten kejam.

Poundsterling pun terseret, turun 0,2% ke US$1,3174. Pelemahan ini semacam konfirmasi bahwa reli dolar pekan ini bersifat luas, bukan sekadar cerita bilateral AS-Jepang.

Bagi investor yang punya eksposur ke aset berdenominasi yen atau saham Jepang, ini bukan sinyal yang nyaman. Yen yang terus loyo menggerus nilai aset ketika dikonversi kembali ke rupiah atau dolar. Pertanyaannya sekarang: sampai level berapa Tokyo bersedia membiarkan yen terpuruk sebelum benar-benar mengangkat telepon untuk intervensi skala besar?