Dua tahun setelah XForce versi bensin mengaspal di Indonesia, Mitsubishi akhirnya menjawab ekspektasi pasar. PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) resmi meluncurkan XForce Hybrid pada Kamis, 16 Juli 2026 di Jakarta, sekaligus menandai babak pertama strategi elektrifikasi Mitsubishi di Tanah Air.
Banyak yang menduga Mitsubishi akan memulai era hybrid-nya dengan Xpander. Model andalan berpenumpang tujuh itu sudah lebih dulu dijual dalam varian HEV di Thailand sejak awal 2024, bahkan sudah mendapat facelift di Bangkok International Motor Show 2026. Basis konsumennya kuat, segmennya besar. Di atas kertas, Xpander Hybrid terdengar seperti pilihan lebih logis secara komersial.
Tapi Atsushi Kurita, Presiden Direktur MMKSI, punya penjelasan tersendiri. "Karena saat ini Mitsubishi Motors, setelah dua tahun meluncurkan XForce pada 2023, dua tahun kemudian serius mencoba mengembangkan produk XForce supaya bisa lebih diterima di masyarakat sesuai dengan harapan yang disuarakan oleh para konsumennya," kata Kurita di Jakarta. Baginya, XForce bukan sekadar dikasih mesin hybrid lalu selesai. Ada panoramic sunroof baru, ada peningkatan peredaman kabin. Sentuhan-sentuhan itu, kata Kurita, memang dirancang khusus untuk selera Indonesia. Soal Xpander Hybrid menyusul atau tidak, ia memilih diam.
Begitu XForce Hybrid resmi hadir, arah pertarungannya langsung kentara: Toyota All New Yaris Cross Hybrid, rival yang sudah lebih dulu menjajal segmen SUV kompak elektrifikasi. Dua pendekatan berbeda, satu arena yang sama.
Dari sisi dimensi, XForce lebih bongsor. Panjang 4.390 mm, lebar 1.810 mm, tinggi 1.650 mm, wheelbase 2.650 mm. Yaris Cross sedikit lebih ramping: 4.310 mm panjang, 1.770 mm lebar, 1.615 mm tinggi, wheelbase 2.620 mm. Selisihnya tidak dramatis, tapi cukup terasa di kabin, terutama ruang kaki baris belakang.
Soal dapur pacu, keduanya bermain di filosofi yang berbeda. Masif, tapi terukur. XForce Hybrid mengusung mesin 1.6 liter DOHC MIVEC berkode 4A92 yang dipadukan motor listrik, menghasilkan tenaga bensin 105,5 Tk plus motor listrik 114 Tk dengan torsi instan 255 Nm dari sisi elektrikalnya. Disalurkan lewat sistem Shift by Wire, XForce juga menyediakan tujuh mode berkendara, termasuk EV Mode murni dan Charge Mode yang ditambahkan di varian HEV ini, melengkapi lima mode terrain yang sudah ada sejak versi konvensional.
Yaris Cross Hybrid memilih jalur berbeda: mesin 1.500 cc 4-silinder yang menghasilkan 90 Tk dan bekerja bersama motor listrik berkekuatan 80 Tk, dengan tenaga gabungan 82 kW atau sekitar 111 Tk. Torsi motor listriknya 141,2 Nm, lebih rendah dari XForce, tapi sistem CVT-nya menjanjikan efisiensi yang, agaknya, tetap jadi keunggulan Toyota di kategori ini.
Fitur kabin keduanya kompetitif. XForce Hybrid hadir dengan layar 12,3 inci lengkap Energy Flow monitor, sistem audio Dynamic Sound Yamaha Premium 8 speaker, wireless charger, ambient light, dan Electric Power Tailgate. Yaris Cross membalas dengan Power Back Door plus Kick Sensor yang lebih praktis buat tangan penuh belanjaan, kokpit driver-oriented dengan panel soft dashboard berlapis satin, dan Electric Seat Adjuster di kursi pengemudi. Beda karakter, beda prioritas.
Urusan keselamatan aktif, XForce mengandalkan paket Diamond Sense: Forward Collision Mitigation, Adaptive Cruise Control, Blind Spot Warning, Rear Cross Traffic Alert, hingga Multi Around Monitor. Yaris Cross menghadirkan Toyota Safety Sense yang sudah punya nama teruji, dilengkapi 6 airbag, Panoramic View Monitor 360 derajat, dan Electric Parking Brake dengan Auto Brake Hold.
Dua pilihan yang genuinely kuat. XForce menawarkan lebih banyak tenaga, kabin lebih luas, dan pengalaman berkendara yang lebih beragam lewat tujuh mode. Yaris Cross bermain di efisiensi, kepraktisan, dan reputasi sistem keselamatan yang sudah dikenal pasar. Pertanyaannya sederhana buat calon pembeli yang masih menimbang: mau lebih bertenaga atau lebih irit?