JUMAT, 18 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Wisman Tembus 3,44 Juta di Kuartal I 2026, Malaysi...

Bisnis

Wisman Tembus 3,44 Juta di Kuartal I 2026, Malaysia Belum Tergoyahkan

BPS mencatat kunjungan wisatawan mancanegara tumbuh 8,62% pada Januari-Maret 2026, dengan rata-rata pengeluaran per kunjungan mencapai USD 1.345,61. Jawa Barat ikut ketiban berkah, wisnus melonjak 43% di Maret.

Tiga bulan pertama 2026 cukup ramah bagi pariwisata Indonesia. Badan Pusat Statistik mencatat 3,44 juta kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang Januari-Maret 2026, naik 8,62% dibanding periode yang sama tahun lalu. Khusus Maret, angkanya menyentuh 1,09 juta kunjungan, tumbuh 10,50% secara tahunan.

Bukan angka kecil.

Yang lebih menarik bukan sekadar volumenya, tapi juga dompetnya. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyebut rata-rata pengeluaran wisman per kunjungan di triwulan pertama mencapai USD 1.345,61 atau sekitar Rp 23,4 juta, dengan lama tinggal rata-rata 10,84 malam. Artinya, setiap wisman yang masuk ke Indonesia meninggalkan sekitar Rp 2,1 juta per malam. Bukan sekadar numpang lewat.

Dari sisi asal negara, Malaysia belum tergoyahkan. Sepanjang Maret 2026, kunjungan dari negeri jiran itu mencapai 186,53 ribu atau 17,14% dari total wisman bulan itu. Australia menyusul di posisi kedua dengan 130,72 ribu kunjungan (12,01%), lalu Singapura di urutan ketiga dengan 102,82 ribu kunjungan (9,45%).

Ada pemain lain yang agaknya mulai serius melirik Indonesia, khususnya Bali: wisatawan India. Sepanjang kuartal pertama, kunjungan dari India tercatat 157,10 ribu, naik 3,90% dibanding periode yang sama 2025. Pada Maret saja angkanya 53,80 ribu kunjungan, dan hampir 79% di antaranya masuk lewat Bandara Ngurah Rai. Amalia mencatat wisatawan India rata-rata menghabiskan 7,02 malam di Indonesia. Singkat, tapi lumayan kalau dihitung agregat.

Lebaran ikut mendongkrak pergerakan wisatawan nusantara, dan Jawa Barat ketiban berkah paling besar. BPS mencatat 22,48 juta perjalanan wisnus ke Jawa Barat pada Maret 2026, melonjak 43,47% dari bulan sebelumnya yang hanya 15,67 juta perjalanan. Kumulatif Januari-Maret, angkanya mencapai 56,54 juta perjalanan, tumbuh 17,48% dibanding 48,12 juta di periode yang sama 2025.

Kabupaten Bogor tetap jadi magnet utama: 8,58 juta perjalanan. Kota Bandung menyusul dengan 5,91 juta, Kota Bekasi 3,92 juta. Lonjakan wisnus ini turut mendorong tingkat hunian kamar hotel gabungan bintang dan non-bintang ke 32,85%, naik tipis dari 32,37% bulan sebelumnya.

Untuk wisman yang masuk lewat Jawa Barat, angkanya memang masih kecil: 274 kunjungan melalui Bandara Kertajati pada Maret 2026. Tapi pertumbuhannya tajam, naik 69,14% dari 162 kunjungan bulan sebelumnya. Kertajati pelan-pelan mulai punya alasan untuk diperhitungkan.

Bagi pelaku industri perhotelan, ritel, dan transportasi, data kuartal pertama ini bisa jadi sinyal awal yang layak dijadikan acuan proyeksi. Pertanyaannya: apakah momentum ini bisa bertahan tanpa efek Lebaran sebagai pendorongnya?