S&P 500 dan Nasdaq mencetak rekor penutupan tertinggi pada Kamis (28/5/2026). Di seberang Atlantik, saham-saham Eropa justru dibuka melemah dan futures TSX Kanada tergelincir. Pasar global, sekali lagi, tidak kompak membaca situasi yang sama.
Dow Jones Industrial Average hanya terkerek tipis 24,69 poin atau 0,05 persen ke 50.668,97. S&P 500 menguat 0,58 persen ke 7.563,63. Nasdaq Composite melesat 0,91 persen ke 26.917,47. Dua indeks terakhir yang mencetak rekor. Penggeraknya cukup spesifik, dan itu penting untuk dicatat.
Microsoft naik 3,5 persen setelah The Information melaporkan raksasa teknologi itu berencana meluncurkan model coding berbasis AI pekan depan. Eli Lilly melesat 4 persen setelah CVS Health kembali memasukkan obat penurun berat badan Zepbound ke dalam cakupan asuransinya, sekaligus menambahkan pil obesitas baru Foundayo yang baru mendapat persetujuan. Dua katalis berbeda, satu arah: naik.
Yang menopang sentimen lebih luas adalah harapan perpanjangan gencatan senjata AS-Iran selama 60 hari. "Para pedagang sangat waspada terhadap perkembangan berita terkait kesepakatan tersebut dan telah mengambil posisi beli untuk menghindari kerugian apabila hasil akhirnya lebih baik dari perkiraan," ujar Jamie Cox, Mitra Pengelola Harris Financial Group.
Angka resminya sendiri belum solid. Draf kesepakatan masih menunggu persetujuan Presiden Donald Trump, sementara kantor berita Iran Tasnim menyebut teks nota kesepahaman belum difinalisasi. Pasar agaknya bergerak lebih cepat ketimbang diplomasinya.
Itulah yang membuat Eropa dan Kanada tidak ikut berpesta. Ketegangan di kawasan Teluk masih membayangi, dan data makro AS tidak sepenuhnya mengangkat mood investor. Inflasi April 2026 naik dengan laju tercepat dalam tiga tahun, dihajar lonjakan harga energi seiring eskalasi konflik Iran. PDB AS kuartal I-2026 direvisi turun menjadi 1,6 persen secara tahunan. Cox sendiri mengingatkan tekanan inflasi belum tentu mereda cepat, setidaknya itu yang bisa dibaca dari data sekarang.
Pertanyaannya, siapa yang paling diuntungkan kalau ketegangan justru berlanjut? Di kalangan fund manager, satu tesis mulai menguat: geopolitik bisa jadi bahan bakar bagi investasi AI jangka panjang. Jitania Kandhari, Wakil Chief Investment Officer Solutions and Multi-Asset Morgan Stanley Investment Management, menyebut ketegangan geopolitik dapat mempercepat aliran modal ke sektor AI, keamanan siber, teknologi pertahanan, energi, hingga rantai pasok global. "Perkembangan tersebut dapat memperkuat tesis investasi jangka panjang di sektor-sektor strategis," kata Kandhari.
Bagi investor domestik yang mengamati dari Jakarta, ada dua hal yang layak disimak. Reli Wall Street kali ini ditopang katalis sektoral yang spesifik, bukan perbaikan fundamental makro AS secara menyeluruh. Artinya, rapuh terhadap kejutan geopolitik berikutnya. Kalau kesepakatan AS-Iran benar-benar terwujud, harga energi bisa terkoreksi tajam, dan itu punya konsekuensi tersendiri buat emiten komoditas di IHSG. Entah kebetulan atau tidak, timing-nya berdekatan dengan musim laporan keuangan kuartal II.