Senin kemarin pasar ketakutan. Selasa pagi, sedikit lebih tenang.
Wall Street dibuka menguat pada perdagangan Selasa (5/5/2026), sehari setelah tertekan cukup dalam oleh kekhawatiran konflik Iran-AS di Selat Hormuz. Dow Jones Industrial Average naik 95,2 poin atau 0,19% ke 49.037,12. S&P 500 menguat 0,46% ke 7.233,62, sementara Nasdaq memimpin dengan kenaikan 0,76% ke 25.258,88.
Katalisnya? Harga minyak yang melandai, setelah Washington mengumumkan "Project Freedom", eh, bukan em dash, operasi militer-diplomatik untuk membuka kembali jalur pelayaran sipil di Selat Hormuz. Trump mengumumkannya lewat Truth Social pada Minggu (3/5), dan Komando Pusat AS langsung merinci dukungan yang tidak main-main: kapal perusak berpeluru kendali, lebih dari 100 pesawat tempur dan maritim, drone multi-domain, plus 15.000 personel.
Bukan gertakan kecil.
Respons pasar energi cukup terbaca. West Texas Intermediate untuk pengiriman Juli turun 0,59% ke US$101,34 per barel. Minyak Brent menyusul, tergerus 0,27% ke US$107,88. Bagi pasar saham, melorotnya harga minyak adalah sinyal bahwa tekanan inflasi dari sisi energi agaknya tidak akan memburuk secepat yang ditakutkan.
Konteksnya perlu diingat. Senin kemarin, S&P 500 dan Dow kompak amblas ketika Iran mengklaim berhasil memaksa kapal perang AS mundur dari Selat Hormuz, bahkan sempat beredar laporan tentang serangan rudal. AS membantah, tapi pasar sudah kadung nervous. Itulah dinamika yang kini sedang dibalik oleh sentimen Project Freedom.
Bursa Asia bergerak variatif. Satu yang menonjol: KOSPI Korea Selatan mencetak all-time high baru, melanjutkan reli setelah April yang bersejarah bagi pasar Seoul. Hang Seng Hong Kong sedikit lebih optimistis, dengan kontrak berjangka di 25.992 versus penutupan sebelumnya di 25.776. Pasar Jepang dan Tiongkok libur, jadi likuiditas kawasan agak tipis.
Pertanyaannya, berapa lama tren ini bertahan?
Selasa ini punya kombinasi yang, kalau data ini bisa dipercaya, cukup solid: penurunan minyak plus laba emiten yang masih menopang sentimen. Jumat lalu, S&P 500 dan Nasdaq mencetak rekor intraday dan penutupan tertinggi sepanjang masa sebelum Dow berbalik turun 152,87 poin di akhir sesi. Volatilitas semacam ini bisa jadi cermin retak dari pasar yang belum betul-betul yakin: apakah Project Freedom akan berhasil, atau ini cuma repit sementara sebelum eskalasi berikutnya?
Selat Hormuz, entah kebetulan atau tidak, adalah jalur yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak global. Setiap pergerakan di sana diterjemahkan langsung ke harga BBM, biaya logistik, dan margin korporasi. Investor yang nyangkut di saham energi dan perkapalan punya alasan untuk terus mengintip berita dari kawasan itu lebih sering dari biasanya.