SENIN, 12 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  VKTR Terbang ARA 25%, Saham IPO PRDL Cetak Tiga Ha...

Bisnis

VKTR Terbang ARA 25%, Saham IPO PRDL Cetak Tiga Hari ARA Beruntun

Saham VKTR meledak ke ARA 25 persen ditopang katalis tender bus listrik TransJakarta dan rencana rights issue, sementara PRDL mencetak rekor ARA tiga hari beruntun pasca-listing dan JELI masih terjebak di ARB.

Saham VKTR Tiba-Tiba ARA 25 Persen, Simak Analisisnya. (Foto: VKTR)

Senin pagi (13/7/2026), dua tema sekaligus menyedot perhatian pasar modal Indonesia: lonjakan VKTR yang tiba-tiba bergairah lagi, dan volatilitas ekstrem di kelompok emiten yang baru saja melantai.

Saham PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk melesat ke level ARA 25 persen pada pukul 10.09 WIB, bertengger di Rp650 per unit. Nilai transaksi sudah menembus Rp77,49 miliar, volume perdagangan 127,3 juta saham. Antrean beli di harga ARA? Masih mengular: 57.217 lot senilai Rp3,72 miliar yang belum terpenuhi. Bukan angka kecil untuk emiten Grup Bakrie yang satu ini.

Secara teknikal, BRI Danareksa Sekuritas mencatat VKTR telah mengonfirmasi reversal setelah breakout level neckline di 550, selama ini menjadi resistance tangguh, dengan dukungan lonjakan volume yang solid. Harga juga sudah bergerak di atas moving average 20. Breakout semacam ini, kalau volumenya ikut, biasanya bukan tipuan. Indikator MACD pun memperlihatkan histogram positif yang semakin melebar, sinyal bullish yang sulit diabaikan. BRI Danareksa menetapkan resistance di area 616 dan 648-656, dengan stop loss apabila harga kembali amblas ke bawah 550.

Fundamental juga ikut bekerja di balik lonjakan ini. TransJakarta berencana mengadakan sekitar 350 unit bus listrik sepanjang 2026, naik sekitar 20 persen dari tahun sebelumnya, terdiri atas 200 unit bus 12 meter dan 150 unit bus 8 meter. Samuel Sekuritas, dalam riset tertanggal 26 Juni 2026, menempatkan VKTR sebagai kandidat terkuat untuk memenangkan tender tersebut berkat kemitraan strategisnya dengan BYD. Kalau data ini bisa dipercaya, VKTR berpeluang meraup 90-100 unit atau sekitar 25-30 persen pangsa pasar, ditopang TKDN 40 persen yang menjadi persyaratan krusial tender pemerintah.

Rekam jejak di tender sebelumnya ikut mendukung klaim itu. Pada tender 2025, VKTR mengamankan kontrak 80 unit, di mana 50 unit sudah dibukukan sebagai penjualan dan 30 unit sisanya dikirim pada kuartal I-2026. Samuel memproyeksikan segmen bus listrik akan menyumbang pendapatan sekitar Rp268 miliar tahun ini dengan asumsi penjualan 70 unit. Armada aktif kini mencapai sekitar 165 unit, rata-rata tempuh 210 kilometer per hari selama hampir 50 bulan operasional. Angka yang tidak main-main.

Satu lagi katalis yang agaknya turut mendorong spekulasi pasar. VKTR tengah mempersiapkan rights issue dengan penerbitan hingga 25 miliar saham baru, rasio tujuh saham lama berbanding empat HMETD. Bagi yang tidak ikut eksekusi, dilusi bisa mencapai 36,36 persen, bukan hal sepele. Cum rights di pasar reguler dijadwalkan 28 Juli 2026, sementara periode perdagangan dan pelaksanaan HMETD berlangsung 3-7 Agustus 2026. Sekitar 80 persen dana rights issue akan disuntikkan ke PT Sarana Ekomobilitas Indonesia untuk pembelian kendaraan listrik dari VKTR sepanjang 2026-2027, sisanya untuk modal kerja perseroan.

Di papan yang berbeda, PT Proline Proficient Indonesia Tbk (PRDL) mencetak ARA untuk hari ketiga berturut-turut. Pola klasik saham berharga rendah dengan free float terbatas: saham di rentang Rp50-Rp200 punya batas ARA/ARB harian 35 persen, jauh lebih lebar dibanding saham-saham mapan, sehingga pergerakan harga bisa terasa dramatis meski volume absolutnya tidak besar.

Nasib berbeda dialami PT Inaco Sejahtera Tbk (JELI) yang masih terjebak di ARB dan belum menunjukkan tanda pemulihan. RANS melanjutkan penguatan pasca-listing meski sudah lepas dari ARA, BACH mulai memperlihatkan tanda-tanda pulih setelah sempat terkoreksi, sedangkan JECX dan EMMI melemah tipis di tengah aksi ambil untung. Pertanyaannya, berapa lama divergensi antar-emiten IPO ini akan bertahan?

Volatilitas ekstrem pada saham-saham baru listing ini bukan anomali. Free float yang masih sempit membuat harga mudah digerakkan ke segala arah, terseret ke ARA berhari-hari seperti PRDL, atau tersungkur ke ARB seperti JELI. Bagi investor ritel yang tergoda euforia antrean, membaca struktur order dan likuiditas di balik pergerakan harga jauh lebih menentukan ketimbang sekadar ikut arus keramaian.