Vitol, salah satu trader minyak terbesar di dunia, menyebut pasar sedang meremehkan risiko dari eskalasi konflik yang melibatkan Iran, sebuah penilaian yang bak gayung bersambut dengan peringatan serupa dari HSBC Holdings Plc yang dirilis awal pekan ini.
HSBC dalam laporan tertanggal 1 Juni memperingatkan bahwa komoditas global tengah mengalami apa yang mereka sebut "super-squeeze", kondisi di mana tekanan pasokan dan permintaan yang bertumpuk bisa meledak jika Selat Hormuz tetap tertutup dalam jangka panjang. "Semakin lama selat ditutup, semakin menipis persediaan, semakin besar kemungkinan kita mencapai titik kritis di beberapa pasar komoditas," kata analis termasuk Paul Bloxham. Kapan persisnya titik itu tercapai, mereka akui, sulit diprediksi.
Harga bahan baku sempat menyentuh rekor tertinggi pada pertengahan Mei, sebelum terkoreksi setelah Washington mengintensifkan upaya diplomatik untuk memperpanjang gencatan senjata dengan Iran. Potensi pembukaan kembali jalur pelayaran krusial itu memunculkan harapan, dan pasar, agaknya, memilih narasi optimistis itu sebagai pegangan.
Vitol tidak sependapat. Trader kakap ini menilai pelaku pasar terlalu cepat mengabaikan skenario buruk, padahal ketidakpastian geopolitik di kawasan belum benar-benar reda. Bisa jadi pasar sedang terlalu nyaman. Dan justru itu yang berbahaya.
Analisis minyak mentah per 3 Juni 2026 menunjukkan harga masih bergerak dalam rentang yang mencerminkan keraguan antara dua narasi besar: de-eskalasi diplomatik versus risiko gangguan suplai yang menggantung. Crude oil menunggu katalis berikutnya. Pasar sedang diam, tapi bukan berarti aman.
HSBC sendiri merentangkan pandangan lebih jauh dari Timur Tengah. Outlook komoditas mereka yang lebih luas turut menyoroti faktor-faktor bullish yang agak terlupakan: konsumsi logam dasar, khususnya tembaga, yang terus meningkat seiring akselerasi elektrifikasi global, ditambah ancaman El Niño yang berpotensi merusak pasokan pangan di beberapa wilayah produsen utama. Gambar besarnya lebih kompleks dari sekadar soal Iran.
Bagi investor komoditas lokal, situasi ini ibarat pedang bermata dua. Harga minyak yang tertekan karena sentimen damai memberi sedikit napas bagi emiten berbasis impor dan sektor transportasi. Tapi kalau Vitol dan HSBC benar, koreksi yang terjadi belakangan ini bisa berbalik lebih cepat dari yang diantisipasi kebanyakan portofolio. Pertanyaannya: berapa lama pasar bisa bertahan dengan asumsi yang, kalau data ini bisa dipercaya, agaknya terlalu jinak?