JUMAT, 9 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Vale Indonesia: Taruhan Nikel Berkelanjutan di Ten...

Bisnis

Vale Indonesia: Taruhan Nikel Berkelanjutan di Tengah Stigma Tambang Global

Presdir PT Vale Indonesia Tbk angkat suara soal stigma industri tambang di tengah perebutan mineral kritis global. Nikel Indonesia dinilai harus bersaing bukan cuma dari sisi volume, tapi kualitas dan jejak lingkungannya.

PT Vale Dorong Nikel Berkelanjutan di Tengah Perebutan Mineral Kritis Dunia

Hanya 1% daratan dunia yang dipakai untuk tambang. Angka itu kecil, tapi beban reputasinya terasa tidak proporsional bagi industri yang justru menyuplai bahan baku agenda energi hijau dunia.

Bernarbus Irmanto, Presiden Direktur PT Vale Indonesia Tbk (INCO), membuka argumen itu di hadapan peserta Jogja Financial Festival, Sabtu 23 Mei 2026. Bagi Anto, sapaan akrabnya, kontradiksi itu sudah terlalu lama dibiarkan tanpa perlawanan narasi yang memadai. Tambang dicap perusak, sementara produk-produknya menjadi fondasi dari transisi energi yang sedang digadang-gadang dunia.

Nikel jadi titik tengkarnya. Komoditas ini kini berstatus mineral kritis dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik global, dan Indonesia kebetulan duduk di posisi produsen terbesar dunia. Keuntungan geografis yang besar, tapi sekaligus bisa jadi bumerang.

Lonjakan produksi nasional beberapa tahun terakhir, menurut Anto, justru memukul harga di pasar global. Oversupply menekan margin, dan tekanan itu tidak bisa diselesaikan hanya dengan menggenjot volume. "Nikel Indonesia harus bisa diterima dunia bukan hanya karena volumenya besar, tetapi karena diproduksi dengan cara yang bertanggung jawab," tegasnya.

Di sinilah Vale memposisikan diri. Perusahaan mengklaim telah melakukan penghijauan hingga tiga kali lipat dari total lahan yang dibuka untuk tambang, angka yang, kalau memang benar, tidak main-main. Operasional smelter pun diklaim mengandalkan pembangkit listrik tenaga air untuk menekan jejak karbon. Anto menyebut strategi ini sebagai upaya membangun identitas "sustainable nickel", nikel yang bukan cuma laku di pasar tapi juga tahan uji dari sisi standar lingkungan internasional.

Tapi Anto juga melontarkan peringatan yang agaknya lebih ditujukan ke sesama pelaku industri ketimbang publik umum. Praktik tambang yang ugal-ugalan berpotensi memunculkan citra "dirty nickel" bagi Indonesia di mata dunia. Dan kalau narasi itu menguat, pasar global bisa mulai melirik mineral alternatif. "Kalau narasi negatif tentang nikel Indonesia semakin kuat, lama-lama orang bisa menjauh dari nikel dan mencari alternatif lain," ujarnya.

Bagi investor ritel, konteks ini layak dicermati. INCO selama ini dipandang sebagai pemain nikel dengan standar operasional paling disiplin di Indonesia, dan positioning "sustainable nickel" bisa menjadi keunggulan kompetitif nyata kalau pasar ekspor makin ketat soal aspek lingkungan. Uni Eropa sudah mulai memperkuat regulasi due diligence rantai pasok mineral kritis. Pertanyaannya, seberapa cepat Vale bisa mengonversi klaim itu menjadi premi harga?

Ada pula dimensi yang lebih makro. Anto membandingkan jejak lahan tambang dengan sektor agrikultur dan permukiman yang menyita proporsi daratan jauh lebih besar. Argumennya: pertambangan bukan satu-satunya sektor yang "mengubah lanskap". "Narasi yang perlu kita perbaiki adalah, meskipun benar bahwa aktivitas pertambangan memang mengubah lanskap lingkungan, namun tanpa adanya pertambangan, alokasi penggunaan lahan justru akan menjadi lebih buruk," paparnya.

Soal generasi muda, Anto menyisipkan satu poin yang jarang muncul di forum bisnis: keuntungan hari ini tidak boleh dibayar mahal oleh generasi berikutnya. Retorika yang familiar di kalangan ESG, tapi relevansinya tajam mengingat sebagian besar cadangan nikel Indonesia baru akan dieksploitasi dalam dua hingga tiga dekade mendatang.

Apakah Vale sudah benar-benar membuktikan klaimnya sebagai produsen nikel paling berkelanjutan di Indonesia? Itu masih perlu diverifikasi lebih jauh, setidaknya itu klaim manajemen. Tapi arah bicaranya, untuk saat ini, sudah benar.