KAMIS, 15 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  UNTR Dihajar Jual, Asing Justru Serok di Harga Dis...

Bisnis

UNTR Dihajar Jual, Asing Justru Serok di Harga Diskon

Saham United Tractors amblas 3,68% ke Rp 22.925 pada Jumat (29/5), tapi investor asing malah membukukan net buy Rp 85,23 miliar di sesi yang sama. PBV sudah di bawah 1 kali.

Saham PBV di Bawah 1 Diserok, Harga Diramal ke Rp 25.000-an - Halaman all

Saham PT United Tractors Tbk (UNTR) kembali tergerus 3,68% ke Rp 22.925 pada penutupan Jumat (29/5/2026), melanjutkan tren merah yang sudah berlangsung hampir sepanjang bulan ini. Dalam sebulan terakhir, akumulasi koreksinya sudah mencapai 24,03%, angka yang cukup untuk membuat sebagian investor ritel memilih minggir.

Tapi bukan begitu ceritanya di sisi asing. Saat harga terus tergerus tekanan jual, investor asing justru masuk dengan agresif. Net buy mereka di sesi Jumat saja mencapai Rp 85,23 miliar, dari total nilai transaksi Rp 668,35 miliar dengan 28,95 juta saham berpindah tangan sebanyak 11.535 kali. Sepanjang Mei, total akumulasi beli bersih asing di UNTR sudah menyentuh Rp 136,97 miliar. Entah kebetulan atau tidak, angka itu cukup besar untuk dibaca sebagai sinyal.

Salah satu magnet terbesarnya agaknya ada di valuasi. Dengan harga yang sudah amblas sedalam ini, rasio price to book value UNTR kini menyusut ke 0,89 kali, artinya saham ini diperdagangkan di bawah nilai bukunya sendiri. PER-nya pun tinggal 6,97 kali secara trailing twelve months. Bagi investor yang berbasis fundamental, angka-angka ini termasuk kategori murah untuk emiten sekelas anak usaha PT Astra International Tbk (ASII) yang punya eksposur ke alat berat, kontraktor tambang, batu bara, emas, sampai nikel sekaligus.

MNC Sekuritas membaca munculnya volume pembelian di tengah koreksi sebagai sinyal teknikal yang layak direspons. Broker tersebut merekomendasikan trading buy untuk Selasa (2/6/2026) dengan area entry di kisaran 22.575 hingga 22.925, dua target harga dipatok di 24.225 dan 25.250. "Stoploss di bawah 22.300," sebut MNC Sekuritas.

Data operasional 4 bulan pertama 2026 perlu dibaca dengan kepala dingin. Volume penjualan alat berat Komatsu tercatat 1.413 unit, anjlok 25% YoY, baru mengamankan 35% dari target tahunan yang sudah direvisi turun menjadi 4.000 unit. Market share pun tergerus ke 17%, melanjutkan tren di bawah 20% sejak kuartal pertama tahun ini. Kinerja yang, jujur saja, belum menggembirakan.

Sektor kontraktor penambangan juga belum sepenuhnya pulih. Volume overburden removal mencapai 321,3 juta bcm, terkoreksi 5% YoY seiring turunnya stripping ratio dari klien-klien UNTR, baru setara 36% target 2026 yang sudah dipangkas ke 900 juta bcm.

Sedikit angin segar datang dari divisi batu bara. Volume penjualan 5,5 juta ton naik 12% YoY, ditopang lonjakan penjualan batu bara termal PT Tuah Turangga Agung sebesar 29% YoY menjadi 3,5 juta ton. Realisasi ini sudah menyentuh 47% dari target 2026, jauh lebih solid dibanding segmen lainnya.

Yang paling bikin geleng kepala justru segmen emas. Volume penjualan 4M26 hanya 6 ribu oz, berbanding 89 ribu oz di periode yang sama tahun lalu. Kontraksi yang tidak main-main. Tambang emas Martabe sedang dalam proses pemulihan, dan manajemen menargetkan operasional kembali berjalan penuh di penghujung Mei atau awal Juni ini. Kalau target itu tercapai, separuh tantangan UNTR di sisa 2026 mungkin sudah separuh terjawab.

Satu segmen yang luput dari sorotan draft awal: nikel. Volume penjualan tercatat 697 ribu wmt, turun tipis 1% YoY, tapi sudah mengamankan 58% dari target 2026 yang direvisi ke 1,2 juta wmt. Realisasi paling solid di antara semua segmen.

Dengan PBV di bawah 1 dan asing yang terus akumulasi meski harga turun, pertanyaannya bukan lagi apakah UNTR murah. Pertanyaannya: seberapa lama pasar mau mengabaikan diskon ini?