Toshihiro Mibe tidak menyembunyikan kekagumannya. CEO Honda itu baru pulang dari kunjungan ke sebuah pabrik di Shanghai, dan yang meluncur dari mulutnya di hadapan media Jepang terasa tidak biasa dari bos perusahaan sebesar Honda: "Kita tidak punya peluang melawan ini."
Jim Farley lebih blak-blakan lagi. CEO Ford itu menyebut persaingan dengan merek China bukan lagi soal pangsa pasar atau margin. "Ini adalah pertarungan untuk bertahan hidup," katanya.
Tapi justru dari dalam kandang sendiri muncul peringatan yang mungkin lebih mengejutkan. William Li, CEO NIO, berbicara di Beijing pada Kamis (28/5) dengan nada yang jarang keluar dari eksekutif otomotif China: industri otomotif negaranya kemungkinan besar telah melewati era keemasannya. Penjualan domestik dihajar tajam pada April. Rebound belum terwujud. Data industri memproyeksikan pasar stagnan sepanjang 2026, dan pertumbuhan kendaraan listrik serta hibrida plug-in diperkirakan melambat setelah bertahun-tahun ekspansi nyaris tanpa hambatan.
Dua narasi yang tampak bertolak belakang ini sebetulnya saling melengkapi. China mengguncang pasar global justru karena perang harga sengit di pasar dalam negeri memaksa inovasi bergerak dalam kecepatan tidak wajar. Persaingan domestik yang brutal itu kini menghasilkan produk berkelas dunia di harga yang bikin pabrikan Barat pusing kepala.
Analis otomotif Bill Russo, yang berbasis di Shanghai, menyebut kesalahan terbesar industri maju adalah menganggap ini cuma soal transisi ke kendaraan listrik. "Ini soal siapa yang akan memimpin generasi teknologi mobilitas berikutnya," tegasnya.
Teknologinya memang bukan main. BYD mengembangkan sistem pengisian ultra-cepat yang bisa mengisi daya untuk jarak 400 km hanya dalam lima menit, nyaris secepat isi bensin. Xiaomi, yang baru meluncurkan EV pertamanya pada 2024, kini sudah masuk daftar merek terlaris di China, dengan pabrik yang memproduksi satu unit mobil setiap 76 detik. Strateginya belum ada tandingannya: mengintegrasikan mobil ke dalam ekosistem ponsel, aplikasi, dan perangkat rumah pintar. XPeng dan Chery sudah melangkah lebih jauh ke robotika dan kecerdasan buatan. CEO XPeng He Xiaopeng bahkan memprediksi, dalam satu dekade ke depan, setiap perusahaan mobil juga akan menjadi perusahaan robotika.
Dari sisi biaya, International Energy Agency memperkirakan ongkos produksi SUV listrik kecil di China setidaknya 30% lebih murah dibanding negara-negara maju. Bukan kebetulan, melainkan hasil puluhan tahun investasi pemerintah dalam ekosistem baterai dan rantai suplai yang sangat terintegrasi.
Hasilnya terasa di mana-mana. Market share merek asing di pasar domestik China amblas dari 64% pada 2020 menjadi hanya 32% tahun ini. GM dan Volkswagen, yang selama ini menjadikan China sebagai mesin uang utama, kini terjepit. Bahkan di segmen premium, Huawei Maextro S800 menggeser Porsche Panamera dan BMW Seri 7 sebagai sedan mewah terlaris di atas Rp1,7 miliar. Tidak ada segmen yang benar-benar aman.
Ekspansi ke luar negeri tak kalah lapar. Chery Jaecoo 7 menjadi salah satu model baru terlaris di Inggris hanya 14 bulan setelah diluncurkan. Capaian yang beberapa tahun lalu terasa mustahil dari merek yang nyaris tidak dikenal di Eropa. Tarif tinggi yang dipasang Uni Eropa dan Amerika Serikat? Konsultan James Pearson punya jawabannya: "Jika Anda menutup mereka dari satu pasar, mereka akan mencari pasar lain."
Beberapa pabrikan global sudah memilih kolaborasi ketimbang konfrontasi. Masuk akal, kalau dipikir ulang. Volkswagen membayar 700 juta dolar untuk mengakses arsitektur perangkat lunak dan sistem otonom XPeng, mengakui teknologi itu tidak bisa dikembangkan sendiri di Jerman dengan cukup cepat. Stellantis menandatangani kesepakatan 1 miliar euro dengan Dongfeng. Toyota, Hyundai, Ford, dan Nissan memperluas operasi riset di China.
Gambarannya begini: dunia berjuang menghadapi gelombang ekspansi otomotif China, sementara pasar domestik China sendiri mulai kehabisan napas. Kelebihan kapasitas produksi, perang harga yang menggerus margin, melemahnya dukungan pemerintah. Paradoks yang menarik. Entah kebetulan atau tidak, justru tekanan dari dalam inilah yang membuat merek-merek China semakin agresif di luar.