JUMAT, 18 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Trump Sindir Keras Netanyahu di Depan Kamera: Tanp...

Internasional

Trump Sindir Keras Netanyahu di Depan Kamera: Tanpa Saya, Israel Sudah Lenyap

Di sela KTT G7 di Prancis, Trump melayangkan teguran pedas kepada Netanyahu soal serangan Israel di Lebanon, tepat saat kesepakatan damai AS-Iran baru saja diteken.

Trump: Tanpa Saya, Tidak Akan Ada Israel

Jarang ada pemimpin AS yang menegur sekutu dekatnya sedemikian terbuka. Trump melakukannya di depan kamera, di pinggir danau Évian-les-Bains, Prancis, dengan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani duduk tepat di sebelahnya.

Di sela KTT G7 pekan ini, Presiden Donald Trump melempar klaim yang bisa membuat bulu kuduk diplomat mana pun berdiri: bahwa Israel, tanpa dirinya, sudah lama tinggal nama. "Tanpa Amerika Serikat, tidak akan ada Israel. Tanpa saya, tidak akan ada Israel, karena tidak ada presiden lain yang bersedia melakukan apa yang saya lakukan," tegasnya.

Pernyataan itu bukan sekadar retorika kampanye. Konteksnya jauh lebih berat dari itu.

Ketegangan ini mencuat tepat setelah kesepakatan damai AS-Iran berhasil diteken akhir pekan lalu, sebuah timing yang agaknya bukan kebetulan dari Washington. Padahal, pada 28 Februari lalu, Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu masih bahu-membahu memerintahkan serangan militer gabungan untuk melumpuhkan fasilitas nuklir Teheran. Kurang dari empat bulan kemudian, Washington justru duduk satu meja dengan Teheran dan menandatangani perjanjian.

Bagi Israel, ini bukan cuma kejutan diplomatik. Ini tamparan.

Kabar kesepakatan itu disambut kecemasan yang sulit disembunyikan di internal Israel. Detail perjanjian masih diblokir dari publik, memicu spekulasi bahwa Teheran keluar sebagai pihak yang lebih diuntungkan, sementara Tel Aviv dibiarkan menebak-nebak nasibnya sendiri dengan jadwal pemilu yang kian mepet.

Kritik paling telak datang dari Brigadir Jenderal Yossi Kuperwasser, Kepala Institut Strategi dan Keamanan Yerusalem (JISS). Ia menilai Washington menyerahkan terlalu banyak dengan harga yang terlalu murah. "Pemerintah AS memberikan segalanya dengan murah, menyediakan dana miliaran dolar bagi rezim tersebut untuk memperkuat cengkeraman domestiknya dan terus mendanai proksi mereka, seperti Hezbollah dan Hamas, tanpa menuntut konsesi yang nyata dan tidak dapat dibatalkan sebagai imbalannya," kata Kuperwasser kepada Newsweek.

Pertanyaannya, apakah Trump benar-benar mulai menarik jarak, atau ini hanya pertunjukan untuk konsumsi domestik AS?

Trump sendiri, meski membantah hubungannya dengan Netanyahu merenggang, tidak menahan diri soal operasi militer Israel di Lebanon. Serangan udara terbaru yang dinilai menewaskan banyak warga sipil dikecamnya langsung. "Saya melihat serangan itu, saya melihat ke mana bom itu jatuh. Itu sangat kejam. Anda tidak perlu meruntuhkan seluruh bangunan apartemen setiap kali mencari seseorang, karena ada banyak orang di sana dan saya pastikan mereka semua bukan Hizbullah," kecam Trump, seraya memperingatkan Netanyahu agar bertindak lebih bertanggung jawab.

Gambaran "bromance" geopolitik yang selama ini dirayakan para pendukung keduanya kini terasa usang. Kesepakatan damai dengan Iran, yang oleh sebagian kalangan di Tel Aviv dianggap sebagai pengkhianatan strategis, tampaknya meninggalkan retakan yang tidak mudah ditambal hanya dengan satu pertemuan bilateral, kalau memang ada niat untuk menambalnya.