RABU, 16 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Trump Meledak ke Netanyahu: Tanpa Saya, Israel Sud...

Internasional

Trump Meledak ke Netanyahu: Tanpa Saya, Israel Sudah Tidak Ada

Frustrasi Trump ke Netanyahu kian terbuka jelang penandatanganan MoU AS-Iran di Swiss. Serangan Israel ke Lebanon dinilai mengancam kesepakatan damai yang sudah susah payah dibangun.

Isi Ledakan Amarah Trump ke Netanyahu Jelang AS-Iran Teken MoU

Jelang penandatanganan nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran pada 19 Juni di Swiss, hubungan Donald Trump dan Benjamin Netanyahu sedang tidak baik-baik saja.

Selasa (16/6), Trump bicara blak-blakan soal Netanyahu kepada awak media. Kalimatnya keras. "Tanpa saya, tidak akan ada Israel karena tidak ada presiden lain yang bersedia melakukan apa yang sudah saya lakukan," tegasnya kepada CNN. Bukan sekadar sesumbar, tapi tunggu, em dash harus pergi. Bukan sekadar sesumbar. Ini sinyal frustrasi yang sudah menumpuk lama.

Sumber kemarahan Trump cukup jelas: Netanyahu tak berhenti menggempur Lebanon di momen paling krusial dalam diplomasi kawasan. Bagi Washington, serangan Israel ke Lebanon bukan sekadar soal kemanusiaan. Ini langsung mengancam meja perundingan. Iran sudah berulang kali menegaskan bahwa selama bom masih jatuh di sana, tinta di atas MoU tak akan pernah kering.

MoU AS-Iran yang dijadwalkan ditandatangani di Swiss itu bukan datang dari ruang hampa. Kerangka gencatan senjata kedua negara disetujui sejak April lalu, setelah konflik bersenjata yang meletus akhir Februari. Salah satu poinnya eksplisit: Israel harus menghentikan serangan ke Lebanon. Netanyahu, agaknya, memilih mengabaikan itu.

Di sela amarahnya, Trump juga mewanti-wanti secara langsung. "Saya punya hubungan yang sangat baik dengan Bibi, tetapi sekarang Bibi harus lebih bertanggung jawab terkait Lebanon," katanya. Peringatan yang, kalau boleh jujur, terdengar lebih seperti ultimatum.

Trump bahkan menawarkan solusi yang terdengar tak lazim dari seorang sekutu Israel. Serahkan urusan Hizbullah ke Suriah, bukan tangani sendiri lewat serangan militer. Presiden Suriah Ahmed Al Sharaa, kata Trump, punya kapasitas untuk itu. "Dia bukan anak pramuka, tetapi dia melakukan pekerjaan yang luar biasa dalam menyatukan negaranya, dan dia sangat memahami Hizbullah. Dia tidak menyukai mereka," ujar Trump. "Saya menyarankan kepada Israel agar membiarkan Suriah menangani Hizbullah, karena sejujurnya saya pikir mereka bisa melakukannya dengan lebih baik," imbuhnya.

Kritik Trump tidak berhenti di situ. Cara Israel bertempur pun kena semprot. "Anda tak harus merobohkan sebuah gedung apartemen setiap kali mencari seseorang, karena ada banyak orang di dalam gedung itu dan tidak semuanya adalah anggota Hizbullah," kata Trump. Pedas, mengingat Washington selama ini menjadi pemasok utama senjata sekaligus perisai diplomatik Israel di forum internasional.

Kedua pemimpin kini saling ungkit jasa dan kontribusi masa lalu. Bukan lagi soal perbedaan taktis. Ini sudah menyentuh lapisan kepercayaan, dan itu beda cerita. Pertanyaannya kini sederhana tapi berat: apakah Netanyahu akan mengubah kalkulasinya sebelum 19 Juni, atau Trump terpaksa menelan pil pahit dengan meja perundingan yang berantakan sebelum sempat dimulai?