Di hadapan wartawan usai penutupan KTT G7 di Evian-les-Bains, Prancis, Donald Trump bicara blak-blakan soal aset Iran. Presiden AS itu mengakui pemerintahnya selama ini membekukan dana milik Teheran, dan kini, kata Trump, sudah waktunya uang itu dikembalikan.
Bukan sekadar basa-basi. Pengakuan terbuka dari seorang presiden AS bahwa negaranya memegang aset negara lain, sekaligus sinyal kesediaan melepaskannya, adalah momen yang jarang terjadi. Apalagi kalau konteksnya Iran.
Agaknya ada penjelasan kenapa Trump berani melangkah sejauh ini. Sumber-sumber yang memantau dinamika kawasan menyebut China dan Rusia memainkan peran krusial dalam mendinginkan tensi antara Washington dan Teheran selama beberapa bulan terakhir. Dua negara itu disebut berjasa menahan eskalasi konflik agar tidak meledak di luar kendali, membuka ruang bagi kedua pihak untuk duduk di meja perundingan.
Menarik, karena secara tradisional AS dan sekutu Barat-nya tidak terlalu nyaman mengakui Beijing dan Moskow sebagai stabilisator. Tapi Trump, yang sejak lama memilih pendekatan transaksional ketimbang ideologis, tampaknya tidak terlalu peduli siapa yang membantu selama hasilnya sesuai keinginan.
Perjanjian yang tengah dibahas antara AS dan Iran dikabarkan terdiri dari 14 poin, dengan sejumlah klausul yang dianggap krusial oleh kedua belah pihak. Detail lengkap belum sepenuhnya terbuka ke publik. Yang sudah jelas: soal aset yang dibekukan masuk agenda utama. Dana itu sudah lama menjadi duri dalam setiap perundingan nuklir Iran, dan kesediaan AS membahasnya secara terbuka memberi sinyal bahwa pembicaraan sudah berada di fase yang cukup matang, kalau data ini bisa dipercaya.
Bagi pelaku pasar, ini bukan kabar yang bisa diabaikan begitu saja. Normalisasi hubungan AS-Iran, kalau benar-benar terwujud, bisa membuka kembali keran ekspor minyak Teheran secara legal. Pasokan yang bertambah dari Iran berpotensi menekan harga minyak mentah, sesuatu yang memang sudah lama diincar Trump untuk menjinakkan inflasi domestik. Pertanyaannya: apakah ini cukup untuk benar-benar menggerakkan pasar energi global? Jawabannya belum ada.