Dari panggung KTT G7 di Paris, Donald Trump melontarkan pernyataan yang agaknya membuat Tel Aviv menahan napas: Iran boleh saja menyimpan rudal balistiknya.
Bukan pernyataan kecil. Selama berminggu-minggu, penghancuran program rudal Iran disebut-sebut sebagai salah satu tujuan utama perang yang dilancarkan AS bersama Israel sejak 28 Februari. Tiba-tiba, di hadapan jurnalis di sela KTT, Trump membalik narasi itu dengan logika sederhana tapi berdampak luas: kalau Arab Saudi dan Qatar punya rudal, kenapa Iran tidak boleh?
"Rudal bukanlah masalahnya. Rudal hanya merusak sedikit lokasi, tetapi tidak meledakkan planet ini," ujar Trump, membedakan rudal balistik dari senjata nuklir yang jadi kekhawatiran sesungguhnya. Pernyataan itu disampaikan tepat menjelang nota kesepahaman antara Washington dan Teheran, yang belakangan dikonfirmasi telah ditandatangani resmi oleh kedua presiden, menyusul penandatanganan digital sebelumnya oleh Wakil Presiden JD Vance dan kepala negosiator Iran Mohammad Baqer Qalibaf.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengonfirmasi lewat kantor berita negara IRNA bahwa teks Nota Kesepahaman Islamabad telah "diselesaikan dengan tanda tangan para presiden." Kini, kata Baghaei, saatnya menguji implementasi.
Vance turun langsung membela posisi Trump. Argumennya: tak ada satu pun negara yang bisa dilarang memiliki alat pertahanan diri, termasuk Iran. "Anda tidak bisa mengatakan kepada sebuah negara, baik Israel maupun Iran, bahwa mereka tidak boleh memiliki pertahanan diri," tegasnya, sebagaimana dikutip The Times of Israel. AS kini memakai argumen yang biasa dipakai Teheran sendiri. Bukan main.
Yang lebih mengejutkan adalah nada Vance terhadap Israel. Ketika sejumlah pihak di sana mulai mengkritik kesepakatan ini karena dinilai terlalu menguntungkan Teheran, Vance justru mengeluarkan peringatan keras. Ia menyebut Trump sebagai "satu-satunya kepala negara di seluruh dunia yang bersimpati kepada bangsa Israel saat ini" dan menambahkan, "Jika saya berada di kabinet pemerintah Israel, saya mungkin tidak akan menyerang satu-satunya sekutu kuat yang saya miliki di mana pun di dunia."
Peringatan itu bisa dibaca dua cara: gestur diplomatik, atau sinyal bahwa kesabaran Washington terhadap tekanan Israel mulai menipis.
Washington memang mengizinkan Iran mempertahankan kemampuan rudalnya, tapi daftar tuntutan lain masih panjang. AS ingin Iran berhenti mendanai kelompok bersenjata di kawasan, tidak membangun kembali program senjata nuklir, dan memenuhi syarat-syarat lain yang akan dinegosiasikan dalam 60 hari ke depan. Manfaat ekonomi, termasuk pencabutan sanksi minyak dan pembukaan akses aset yang dibekukan, baru mengalir kalau Iran menepati janji. Setidaknya itu klaim Washington, dan klaim yang masih perlu dibuktikan.
Sepanjang eskalasi terakhir, rudal balistik Iran terbukti bukan sekadar gertakan. Teknologi terkini mereka berhasil menembus lapisan pertahanan udara Israel dan AS yang berlapis, dan presisinya membuat perhitungan militer kawasan berubah. Bagi Israel, membiarkan arsenal itu tetap utuh bukan sekadar kekalahan diplomatik. Ini perubahan nyata dalam kalkulasi keamanan jangka panjang. Masif.
Entah kebetulan atau tidak, Trump menyampaikan semua ini dari Paris, sambil makan malam bersama Emmanuel Macron di Versailles. Dua bulan ke depan akan menentukan apakah ini babak baru diplomasi Timur Tengah, atau sekadar jeda sebelum babak berikutnya.