KAMIS, 22 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  TPIA Dihajar Pasar, Tapi Direkturnya Justru Borong...

Bisnis

TPIA Dihajar Pasar, Tapi Direkturnya Justru Borong Saham

Di tengah koreksi IHSG hampir 5 persen dan aksi jual asing yang menghantam saham-saham grup Prajogo, Direktur TPIA malah memborong 4,57 juta saham senilai Rp8,21 miliar. Sementara JP Morgan sudah lebih dulu upgrade rating TPIA ke netral.

J.P. Morgan Upgrade Peringkat Saham Chandra Asri (TPIA) - Market

Rabu, 3 Juni 2026, jadi hari yang berat buat pemegang saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA). IHSG amblas hampir 5 persen ke level 5.889 di sesi pertama, dan saham-saham grup Prajogo Pangestu ikut terseret dalam derasnya aksi jual asing yang totalnya menembus Rp525 miliar di seluruh pasar.

TPIA masuk kategori paling babak belur. Saham petrokimia afiliasi konglomerat Prajogo itu terkoreksi 13,42 persen ke Rp1.645 di sesi pertama, dengan nilai transaksi menyentuh hampir Rp1,9 triliun dan volume perdagangan 1,09 miliar saham. Investor asing membukukan net sell di TPIA senilai Rp257,53 miliar, menjadikannya saham dengan tekanan jual asing terbesar ketimbang nama-nama besar seperti BBCA dan BBRI.

Nasib serupa menimpa hampir seluruh portofolio grup Prajogo. PT Petrosea Tbk (PTRO) ambles paling dalam, minus 15 persen ke Rp4.080. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) terkoreksi 13,47 persen, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) jatuh 12,10 persen ke Rp690, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) turun 13,79 persen. Secara akumulatif, asing melepas saham grup Prajogo senilai sekitar Rp350 miliar hanya dalam satu sesi. Satu-satunya pengecualian adalah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), yang meski ikut melemah 5,83 persen, masih mencatat net foreign buy Rp43,2 miliar.

Anehnya, tekanan itu datang hanya dua hari setelah JP Morgan Sekuritas Indonesia mengeluarkan upgrade peringkat TPIA. Pada 1 Juni 2026, analis JP Morgan Arnanto Januri menaikkan rating TPIA dari underweight menjadi netral, dengan target harga baru Rp1.750 per saham, naik dari target sebelumnya Rp1.090 yang dipasang Juli 2025. Dasarnya cukup kuat: laba bersih TPIA meledak 954,2 persen secara tahunan menjadi US$205 juta pada kuartal I-2026, sementara EBITDA melonjak 1.813,6 persen ke US$421 juta. Angka yang tidak main-main.

Lonjakan kinerja itu tidak lepas dari segmen energi hasil akuisisi yang kini menyumbang sekitar 60 persen dari total pendapatan perseroan. Pergeseran struktural yang cukup serius: TPIA bukan lagi murni emiten petrokimia. Segmen energi kini jadi tulang punggung.

Pasar, agaknya, punya agenda sendiri. Koreksi TPIA berlanjut keesokan harinya, Kamis (4/6/2026), saham ini kembali tergerus 14,86 persen ke Rp1.375. Secara year-to-date, harga TPIA sudah ambles 80,63 persen. Jauh dari target harga JP Morgan yang baru dipasang tiga hari sebelumnya, kalau data ini bisa dipercaya sebagai patokan.

Pertanyaannya, siapa yang benar?

Pada hari IHSG compang-camping itu, Direktur TPIA Raymond Budhin justru masuk membeli saham perusahaannya sendiri melalui 10 transaksi terpisah. Total akumulasinya mencapai 4,57 juta saham dengan nilai sekitar Rp8,21 miliar, di kisaran harga Rp1.780 hingga Rp1.890 per saham. Pembelian terbesarnya senilai 3,25 juta saham dilakukan di harga Rp1.795. Kepemilikannya langsung melonjak 90,44 persen, dari 5,05 juta saham menjadi 9,62 juta saham, meski secara proporsi masih setara 0,01 persen dari total saham beredar.

Apakah ini sinyal bahwa orang dalam melihat harga sudah terlalu murah? Bisa jadi. Atau setidaknya, manajemen ingin mengirim pesan bahwa mereka percaya pada fundamental sendiri, di saat pasar sedang tidak mau mendengar cerita apapun tentang laba bersih yang melesat hampir sepuluh kali lipat.