Jardine Cycle & Carriage melepas aset berusia lebih dari satu abad, dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang menyambarnya.
Melalui anak usahanya, CCHPL Holdings, TPIA menandatangani Conditional Sales and Purchase Agreement (CSPA) untuk mengakuisisi bisnis otomotif Cycle & Carriage di Singapura dan Malaysia dari Jardine Cycle & Carriage, entitas yang juga tercatat di SGX dengan kode C07. Nilai transaksi dipatok sekitar US$207 juta atau setara Rp3,68 triliun, ditambah komponen earn-out bersyarat maksimal US$23 juta. Target penyelesaian: paling lambat 28 Februari 2027.
Cycle & Carriage bukan pemain baru. Beroperasi sejak 1899, bisnis ini sudah mewakili sederet merek otomotif global bergengsi di kedua negara, termasuk Mercedes-Benz, Kia, dan Mitsubishi di Singapura. Warisan merek sepanjang itu kini berpindah tangan ke grup milik taipan Prajogo Pangestu.
Yang bikin pasar berhenti sejenak adalah proyeksi dampak finansialnya. TPIA memperkirakan segmen mobilitas, yang kini mencakup jaringan SPBU bermerek Esso sekaligus Cycle & Carriage, berpotensi menyumbang tambahan laba sekitar US$150 juta hingga US$200 juta per tahun. Angka tertingginya setara Rp3,53 triliun. Maybank Sekuritas Indonesia, yang lebih konservatif, menghitung kontribusi akuisisi ini ke laba TPIA di kisaran 3-5 persen untuk periode 2026-2027.
Soal valuasi, kalkulasinya menarik. Jika menggunakan asumsi laba bersih Cycle & Carriage yang disetahunkan dari realisasi 2026 sekitar US$24 juta, harga akuisisi US$207 juta mencerminkan P/E sekitar 8,6 kali. Tapi jika pakai laba aktual 2025 yang mencapai US$48 juta, valuasinya amblas ke 4,3 kali P/E. Murah atau wajar, agaknya tergantung dari angka mana investor memilih untuk berpegang.
Pembiayaan transaksi didukung Mizuho Bank, dengan Greenhill selaku afiliasi Mizuho bertindak sebagai penasihat keuangan eksklusif. Besaran fasilitas pinjaman belum dirinci perseroan.
Presiden Direktur dan CEO Chandra Asri Group Erwin Ciputra menyebut akuisisi ini sebagai tonggak transformasi grup menjadi penyedia solusi energi dan kimia, infrastruktur, serta mobilitas di Asia Tenggara. "Kami berharap dapat mendukung bisnis ini dalam fase pertumbuhan berikutnya, sekaligus terus melayani pelanggan dan mitra dengan kualitas dan keandalan yang selama ini mereka harapkan," kata Erwin dalam keterangan tertulisnya.
Chandra Asri menegaskan akan mempertahankan identitas, kapabilitas, hubungan dengan OEM, manajemen, dan SDM Cycle & Carriage yang sudah terbangun. Transaksi ini belum final. Masih menunggu restu dari para prinsipal OEM dan sejumlah persyaratan lainnya sebelum benar-benar bisa diteken habis.
Satu konteks yang tidak boleh luput: Jardine Cycle & Carriage pengendali PT Astra International Tbk (ASII) dengan kepemilikan 50,1 persen. Artinya, lewat transaksi ini TPIA secara tidak langsung masuk ke orbit aset yang selama ini lekat dengan salah satu konglomerat otomotif terbesar Indonesia. Bukan orbit yang kecil.
Saham TPIA merespons positif di hari pengumuman, Jumat (21/8), dengan penguatan 3,31 persen ke level Rp2.030. Tiga hari kemudian, Senin (24/8), saham terkoreksi 1,97 persen ke Rp1.990. Maybank Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp2.600, mencerminkan potensi upside sekitar 30,65 persen dari posisi terakhir. Buat investor yang sudah lama nyangkut di TPIA menunggu katalis baru, akuisisi ini bisa jadi jawabannya.