SELASA, 20 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  TPIA Ambles 81% tapi Asing Terus Borong: Ada Apa?

Bisnis

TPIA Ambles 81% tapi Asing Terus Borong: Ada Apa?

Saham TPIA longsor lebih dari 81% dalam setahun, namun investor asing justru agresif net buy hingga ratusan miliar. Di balik itu, Chandra Asri Pacific tengah membangun imperium energi dan kimia yang baru akan panen beberapa tahun ke depan.

Pasar Tidak Peduli dengan Fundamental TPIA, Harga Longsor 81% - Market

Harga saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) sudah kehilangan lebih dari 81% nilainya dalam satu tahun perdagangan, dari puncak Rp10.500 per saham di Juli 2025 menjadi sekitar Rp1.810 pada pertengahan Juli 2026. Angka yang bikin ngilu bagi siapa pun yang nyangkut di level atas.

Tapi investor asing justru diam-diam terus mengoleksi. Senin 13 Juli, TPIA mencatat net foreign buy tertinggi di BEI senilai Rp89,69 miliar. Esoknya, asing kembali masuk Rp71,4 miliar di sesi pertama saja. Puncaknya, Senin 20 Juli, net buy asing di TPIA menembus Rp349,3 miliar, menjadi saham paling banyak dibeli asing se-bursa hari itu. Bukan kebetulan.

Lantas, apa yang mereka lihat?

Sebagian jawabannya ada di laporan keuangan kuartal pertama 2026. TPIA membukukan laba bersih US$205,08 juta, berbalik dari rugi US$23,58 juta pada periode yang sama tahun lalu. Total aset naik 2% menjadi US$12,5 miliar. Secara fundamental, perusahaan sedang bergerak ke arah yang benar. Ironisnya, pasar lebih dulu menghukum valuasi premium yang menggembung terlalu jauh sebelum fundamentalnya mengejar.

Narasi jangka panjang TPIA sesungguhnya bukan soal kuartal ini. Ini soal transformasi. Sepanjang 2025 hingga awal 2026, manajemen Chandra Asri mengeksekusi serangkaian akuisisi yang mengubah wajah perusahaan secara struktural: Shell Singapore Energy and Chemicals Park diambil alih April 2025 dan kini beroperasi sebagai Aster Chemicals and Energy (ACE), disusul akuisisi aset Chevron Phillips Chemical yang menjadi Aster Polymer Solutions (APS) sebulan kemudian, lalu condensate splitter unit dari PCS Pte Ltd di Juni, dan jaringan SPBU bermerek Esso milik ExxonMobil pada Januari 2026. Rangkaian transaksi ini mendorong total aset TPIA melonjak 118% secara tahunan menjadi US$12,3 miliar pada 2025.

Salah satu efek langsung akuisisi Aster adalah TPIA kini membukukan mayoritas pendapatan dalam dolar AS. Bukan sekadar detail teknis. Dalam lingkungan rupiah yang rentan, basis pendapatan dolar memberi ruang bagi TPIA untuk mendapatkan pendanaan lebih murah sekaligus melindungi marjin dari volatilitas kurs. Sucor Sekuritas mencatat margin kilang Aster sempat menyentuh US$30 per barel saat eskalasi konflik Iran-AS memuncak Maret lalu. Pada Mei angka itu turun ke US$17,3 per barel (light sweet) dan US$16,6 per barel (medium sour), tapi tetap jauh di atas kondisi sebelum perang yang hanya US$5 per barel. Potensi cuan ini yang agaknya mendorong Sucor mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp6.200, atau upside sekitar 221% dari level saat ini.

Yang tidak kalah ambisius adalah proyek darat. Melalui anak usaha PT Chandra Asri Alkali, TPIA sedang menuntaskan fasilitas Chlor Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) senilai lebih dari US$800 juta atau sekitar Rp14,3 triliun. Per Juli 2026, konstruksi sudah rampung 72%, dengan target operasional penuh pada 2027. Kapasitas yang diproyeksikan mencapai 827.000 ton soda kaustik cair dan 500.000 ton EDC per tahun. Cukup untuk memangkas ketergantungan impor soda kaustik hingga senilai US$293 juta sekaligus menyumbang devisa ekspor EDC sekitar US$300 juta setiap tahunnya.

"Melalui studi kelayakan Tahap II dan pembangunan infrastruktur pendukung, kami ingin menghadirkan ekosistem produksi dan distribusi yang terintegrasi sehingga mampu meningkatkan keandalan pasokan bahan kimia dasar bagi industri nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok regional," ujar Presiden Direktur dan CEO Chandra Asri Group Erwin Ciputra.

Belum cukup. TPIA sudah mulai studi kelayakan untuk CA-EDC Tahap II dengan estimasi investasi US$1 miliar, ini di atas Tahap I yang belum selesai dibangun. Entitas bisnis PT Chandra Waste Energy juga terpilih sebagai mitra Danantara untuk proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL), satu lagi lini bisnis yang masuk ke dalam portofolio yang sudah semakin lebar.

Secara teknikal, TPIA masih berat. RSI di level 44,7 mencerminkan kondisi netral, harga masih jauh di bawah SMA50 di kisaran Rp2.520, dan volume pembelian belum menunjukkan akumulasi institusi berskala besar. Sepanjang tahun berjalan, saham ini masih amblas 72,71%.

Beli atau tunggu? Jawabnya bergantung seberapa jauh investor percaya mesin pertumbuhan yang sedang dibangun TPIA akan benar-benar menyala, dan seberapa sabar mereka bersedia menunggu 2027.