PT Toyota-Astra Motor (TAM) membidik minimal 400 surat pemesanan kendaraan di GIIAS Surabaya 2026, angka yang setara dengan raihan tahun lalu dan mencerminkan betapa seriusnya Toyota menjaga cengkeramannya di pasar Jawa Timur.
Jawa Timur bukan pasar sembarangan buat Toyota. Kontribusinya mencapai sekitar 10% dari total penjualan nasional, menjadikannya salah satu wilayah paling strategis di luar Jakarta. East Java Bali Area Head TAM Laz Marthino menyebut segmen MPV masih jadi tulang punggung penjualan di sana, dengan Kijang Innova Reborn dan Innova Zenix Hybrid di segmen medium, serta Avanza dan Veloz Hybrid di segmen low MPV.
Veloz Hybrid punya angka yang patut dicermati, kalau data ini bisa dipercaya. Penjualan nasionalnya rata-rata 2.000 unit per bulan. Jawa Timur menyumbang 20% dari angka itu, sekitar 300 hingga 400 unit setiap bulannya. Bukan proporsi kecil.
Momentum GIIAS Surabaya kali ini juga dimanfaatkan TAM untuk meluncurkan dua model elektrifikasi sekaligus: New Land Cruiser 300 Hybrid EV dan New bZ4X Touring Battery EV. Land Cruiser 300 versi Indonesia hadir dengan sistem Parallel Hybrid yang menggabungkan mesin V6 3.500 cc twin-turbo bertenaga 305 kW dengan motor listrik 36 kW, total output 341 kW dan torsi puncak 790 Nm, tersedia dalam dua varian: GR-S Hybrid EV dan VX-R Hybrid EV. Adapun bZ4X Touring membawa baterai 74,69 kWh dengan jarak tempuh 487 km dan pengisian DC 150 kW yang bisa memulihkan daya dalam 28 menit. Angka yang tidak main-main.
Tapi justru kabar dari Tokyo yang agaknya lebih mengejutkan para penggemar Land Cruiser. Dijadwalkan masuk pasar Jepang pada 16 September 2026, Land Cruiser 300 model tahun 2027 membawa perubahan yang bukan sekadar facelift kosmetik. Mesin V6 bensin konvensional resmi dimatikan, digantikan sistem hybrid i-Force Max yang sebelumnya lebih dikenal sebagai jantung pacu Lexus LX700h.
Sistem i-Force Max memadukan mesin V6 3,5 liter twin-turbo dengan motor listrik yang terintegrasi pada transmisi otomatis 10 percepatan. Hasilnya: 457 hp dan torsi 790 Nm. Land Cruiser paling bertenaga sepanjang sejarah produksinya. Di Jepang, sistem ini tersedia untuk varian ZX dan GR Sport dengan konfigurasi tujuh kursi, dilengkapi klaster instrumen digital 12,3 inci, layar infotainment 12,3 inci, head-up display, dan audio JBL.
Ada konsekuensi dari penambahan baterai di bawah ruang bagasi itu. Kapasitas tangki turun dari 80 liter menjadi 68 liter, bobot kendaraan naik sekitar 170 kilogram. Yang menarik, kemampuan wading hingga 700 mm tetap dipertahankan, dengan paket baterai yang dirancang kedap air. Toyota rupanya tidak mau Land Cruiser kehilangan jati dirinya sebagai raja off-road hanya demi embel-embel elektrifikasi.
Mesin diesel V6 twin-turbo 3,3 liter bertenaga 304 hp tetap tersedia sebagai alternatif, bahkan mendapat tambahan varian entry-level GX yang menjadi pilihan paling terjangkau untuk masuk ke ekosistem Land Cruiser 300 di Jepang. Dari sisi harga, varian hybrid ZX diperkirakan dibanderol sekitar 9,8 juta yen, sementara GR Sport hybrid menyentuh 10,2 juta yen. Selisih Rp1 miliar bukan angka kecil, tapi bagi pembeli Land Cruiser, agaknya bukan halangan berarti.
Jepang sendiri termasuk pasar besar terakhir yang kebagian Land Cruiser 300 terbaru ini. Timur Tengah, Eropa Timur, dan Australia sudah lebih dulu mencicipinya. Bagi Indonesia, ini bukan pertanda buruk, mengingat TAM sudah lebih dulu meluncurkan versi hybridnya di Surabaya dengan spesifikasi yang sedikit berbeda.
Di level yang lebih merakyat, Toyota juga hadir di Indonesia Autovaganza 2026 di QBig Mall BSD City melalui Auto2000, membawa tiga model hybrid sekaligus: Innova Zenix Hybrid, Veloz Hybrid, dan All New Yaris Cross HEV. Demonstrasi bahwa agenda elektrifikasi Toyota tidak melulu soal SUV premium. Veloz Hybrid diklaim mencatatkan konsumsi bahan bakar hingga 28,9 km per liter dalam pengujian rute kota. Garansi baterai hybrid dijamin delapan tahun atau 160.000 km.
Strategi Toyota cukup terbaca: masuk dari segmen atas lewat Land Cruiser dan bZ4X, sambil terus memperluas penetrasi hybrid di segmen massal melalui Veloz dan Zenix. Pertanyaannya, apakah kecepatan ekspansi ini cukup untuk menahan laju merek-merek China yang kian vokal soal elektrifikasi di pasar domestik? Bak pedang bermata dua, agenda elektrifikasi yang ambisius ini menuntut Toyota menjaga dua medan sekaligus.