SENIN, 12 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  TINS Kucurkan Rp33 Miliar untuk Eksplorasi, Divide...

Bisnis

TINS Kucurkan Rp33 Miliar untuk Eksplorasi, Dividen Yield 10,7% Menanti Investor

PT Timah Tbk mengucurkan Rp33,19 miliar untuk eksplorasi sepanjang kuartal III/2026, sementara analis memproyeksikan dividen yield 10,7% dari tahun buku ini.

Sepanjang Juli hingga September 2026, PT Timah Tbk (TINS) mengucurkan Rp33,19 miliar untuk aktivitas eksplorasi, terdiri dari biaya operasional Rp21,63 miliar dan biaya investasi Rp11,56 miliar. Seluruh anggaran itu difokuskan pada satu komoditas: timah.

Di darat, TINS cukup agresif. Pengeboran eksplorasi timah primer dan aluvial di Pulau Bangka serta Belitung menembus 11.666 meter, dilengkapi survei geofisika ground magnetic dan geolistrik. Di laut, ceritanya berbeda: hanya survei batimetri di Perairan Bangka, tanpa satu pun pengeboran lepas pantai sepanjang kuartal ini.

Memasuki kuartal IV, armada laut ikut dikerahkan. TINS mengalokasikan 1 unit Kapal Bor dan 4 unit Ponton Bor di perairan Bangka dan Kundur, bersamaan dengan lanjutan pengeboran darat serta survei topografi di kedua pulau. "Jumlah biaya yang dikeluarkan total sebesar Rp33,2 miliar dengan perincian biaya operasional sebesar Rp21,6 miliar dan biaya investasi sebesar Rp11,6 miliar," papar Division Head Corporate Secretary TINS Ruddy Nursalam dalam keterbukaan informasi, Senin (12/10/2026).

Ada cerita dari Belitung yang sempat disampaikan Direktur Utama TINS Restu Widiyantoro dalam rapat dengan Komisi XII DPR, September lalu. Produksi bijih timah di wilayah itu sebelumnya hanya berkisar 1.000 hingga 1.200 ton per tahun. Setelah operasi penertiban bersama sejumlah satuan tugas berhasil menutup kebocoran, angkanya meledak hampir 10 kali lipat ke kisaran 10.000 ton. "Yang tadinya produksi rata-rata setahun hanya 1.000 atau 1.200 ton, itu bisa mencapai 10.000 ton. Jadi hampir 10 kali lipat karena kebocoran bisa tertutup," kata Restu. Masalahnya, kuota RKAB Belitung untuk 2026 hanya 3.000 ton, dan jatah itu amblas dalam 2,5 bulan. Ketimpangan antara kapasitas produksi riil dan alokasi kuota ini agaknya jadi hambatan paling konkret yang harus diselesaikan manajemen.

Dari sisi volume penjualan, manajemen memproyeksikan total penjualan hingga September 2026 di kisaran 16.000 hingga 17.000 ton. Realisasi kuartal III sekitar 5.000 hingga 6.000 ton, sedikit lebih tinggi dari kuartal II (5.000 ton) tapi masih di bawah kuartal I yang meraup 6.000 ton. Cuaca kering jadi biang keladi, memukul penambangan lepas pantai yang selama ini menjadi tulang punggung output.

Untuk keseluruhan 2026, manajemen membidik total produksi 24.000 hingga 27.000 ton, termasuk tambahan 3.000 ton dari Belitung. Tahun 2027 targetnya lebih ambisius. Tiga puluh ribu ton, sejalan dengan revisi RKAB yang sudah dikantongi.

Angka-angka itulah yang membuat CGS International cukup positif. Setelah pertemuan investor dengan manajemen TINS pada 8 Oktober, CGS mempertahankan rekomendasi add dengan target harga Rp5.500 per saham, dihitung dari PER 2027 dengan diskon 0,5 standar deviasi dari rata-rata lima tahun. Diskon itu mencerminkan dua risiko utama: ketidakpastian biaya bijih timah dan potensi perubahan regulasi, kalau data negosiasi RKAB ke depannya bisa dipercaya.

Pemantik yang lebih seksi buat investor ritel: proyeksi dividen. CGS menaksir TINS bakal membagikan dividen dengan rasio 70% dari laba bersih tahun buku 2026, menghasilkan dividend yield sekitar 10,7%. Deposito makin tak menarik. Yield segitu bukan angka yang bisa diabaikan.