KAMIS, 17 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  TINS Cetak Laba Rp1,5 Triliun di Q1 2026, Hampir 6...

Bisnis

TINS Cetak Laba Rp1,5 Triliun di Q1 2026, Hampir 6x Lipat Target

PT Timah Tbk membukukan laba bersih Rp1,5 triliun di kuartal pertama 2026, melampaui target tahunan sebesar 595% berkat lonjakan harga timah global dan efisiensi operasional yang agresif.

Targetnya Rp252 miliar. Realisasinya Rp1,5 triliun. Selisihnya bukan tipis.

PT Timah Tbk (TINS) menutup kuartal pertama 2026 dengan laba bersih yang, jujur saja, di luar ekspektasi banyak pihak. Angka itu setara 595% dari target yang ditetapkan manajemen, dengan EPS tercatat di level Rp202 per saham.

Bukan keajaiban semata. Harga timah global menguat, dan di sisi operasional volume produksi serta penjualan melonjak cukup masif. Kombinasi keduanya bak gayung bersambut dengan program efisiensi yang rupanya mulai menunjukkan hasil nyata sejak Januari.

Dari sisi pendapatan, TINS membukukan Rp5,47 triliun sepanjang Januari hingga Maret 2026. Naik 160,5% dibanding periode yang sama tahun lalu, yang kala itu hanya menyentuh Rp2,10 triliun. Pertumbuhan tiga digit dalam satu kuartal bukan angka yang lazim terlihat di sektor tambang mana pun. Tidak main-main.

Pasar merespons. Saham TINS pada perdagangan terakhir tercatat di Rp3.800, menguat Rp220 atau sekitar 6,15% dalam sehari. Volume yang masuk agaknya cerminan dari optimisme investor yang mulai memperhitungkan ulang valuasi emiten pelat merah ini.

Kinerja ini datang pada periode yang secara historis tidak selalu bersahabat bagi TINS. Dua tahun terakhir, perseroan bergulat dengan tekanan harga komoditas dan masalah tata kelola yang sempat menggerus kepercayaan pasar. Pemulihan secepat ini, kalau data ini bisa dipercaya sebagai tren bukan anomali, bisa mengubah narasi TINS secara cukup fundamental. Pertanyaannya: berapa kuartal lagi butuh waktu untuk meyakinkan pasar bahwa ini bukan sekadar flash in the pan?

Satu kuartal belum cukup untuk menyatakan kapal sudah benar-benar berbelok. Angka yang mengesankan, tapi klaim manajemen yang masih perlu dibuktikan di kuartal-kuartal berikutnya.