Transaksi itu diteken 2 Juni 2026, dan TLKM memilih tidak menyebut angkanya.
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) resmi melepas 100% saham PT Administrasi Medika (AdMedika), operator third-party administrator (TPA) kesehatan terbesar di Indonesia, kepada Global Assistance & Healthcare Singapore Pte. Ltd., entitas dari Fullerton Health Group yang bermarkas di Singapura. Penjual dalam transaksi ini adalah PT Multimedia Nusantara (TelkomMetra) dan PT Metra Digital Investama Ventura (MDI), yang masing-masing menguasai 99,99% dan 0,01% dari 452.330 lembar saham AdMedika.
Nilai transaksi tidak diungkap oleh kedua pihak. Dari laporan keuangan TLKM tahun 2025, aset AdMedika yang diklasifikasikan sebagai "tersedia untuk dijual" tercatat Rp751 miliar, dengan total liabilitas Rp466 miliar. Aset bersihnya sekitar Rp285 miliar. Angka yang tidak main-main, meski bukan angka resmi transaksi.
Divestasi ini bukan keputusan yang lahir dari internal semata. TLKM secara eksplisit menyebut langkah ini sebagai respons atas arahan Danantara Indonesia, yang meminta manajemen memangkas hingga 10 anak usaha sebelum akhir Juni 2026. AdMedika agaknya masuk daftar pertama yang dieksekusi.
Pramasaleh Haryo Utomo, Presiden Direktur TelkomMetra, menyebut hasil divestasi akan dialihkan ke portofolio investasi yang lebih selaras dengan bisnis inti TLKM. TelkomMetra sendiri saat ini mengelola 15 investee kepemilikan langsung dan 60 investee lainnya melalui anak usaha serta usaha patungan. "Salah satu tujuan penggunaan dana divestasi ini adalah mengembangkan investee yang mendukung bisnis inti TLKM," jelasnya.
Empat pilar yang dimaksud: digital infrastructure, integrated B2C service, B2B ICT service, dan ekspansi internasional. AdMedika, yang bergerak di pengelolaan klaim asuransi kesehatan, jelas bukan di sana.
Dalam siaran resmi, SVP Corporate Secretary TLKM Jati Widagdo menyebut aksi korporasi ini sebagai bagian dari transformasi Telkom Group menuju model Strategic Holding, sekaligus upaya memaksimalkan penciptaan nilai dari aset-aset yang selama ini berada di luar lingkar bisnis utama.
Dari sisi pembeli, Fullerton Health menegaskan AdMedika dan anak usahanya TelkoMedika, yang ikut terakuisisi dalam paket yang sama, akan tetap beroperasi di bawah merek dan kepemimpinan masing-masing. Fullerton berencana mengembangkan keduanya lewat tiga jalur: peningkatan adopsi teknologi, penguatan kualitas SDM, dan pemanfaatan jaringan regional grup.
Ho Kuen Loon, Group CEO Fullerton Health Group, mengakui bahwa industri kesehatan Indonesia bergulat dengan inflasi medis yang secara historis selalu lebih tinggi dari inflasi umum. Ia berharap kehadiran Fullerton di ekosistem layanan kesehatan Indonesia, kini diperkuat AdMedika, bisa membantu menekan pemborosan, memberantas fraud klaim, dan memperbaiki koordinasi antarinstitusi lewat teknologi.
Bukan klaim kecil. Pasar akan mencermati apakah janji efisiensi itu bisa dibuktikan di lapangan.