RABU, 16 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  TBS Sawit Kompak Naik di Berbagai Provinsi, Petani...

Finansial

TBS Sawit Kompak Naik di Berbagai Provinsi, Petani Kecil Belum Tentu Ikut Merasakan

Harga TBS kelapa sawit di sejumlah provinsi produsen utama mencatatkan kenaikan pada pertengahan Juni 2026, didorong oleh penguatan harga CPO, meski tekanan biaya operasional masih jadi ganjalan bagi petani kecil.

Harga CPO-TBS Sawit di Sumut Naik Periode Ini, Cek Rinciannya

Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit bergerak naik serentak di sejumlah provinsi penghasil utama pada pekan ketiga Juni 2026, ditopang penguatan harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar lokal maupun ekspor.

Sumatera Utara jadi yang paling menonjol. Data Dinas Perkebunan dan Peternakan Pemprov Sumut per 17 Juni 2026 menunjukkan harga TBS untuk perusahaan bermitra periode 17-23 Juni dipatok Rp3.879 per kg, naik dari Rp3.720 per kg pada periode sebelumnya. CPO lokal dan ekspor di Sumut turut menguat ke Rp15.265 per kg dari Rp15.017. Yang paling mencolok: harga kernel melonjak dari Rp12.365 ke Rp14.628 per kg. Bukan angka biasa untuk satu periode.

Riau bergerak lebih moderat. Kepala Dinas Perkebunan Riau Supriadi menyebut harga TBS mitra plasma ditetapkan Rp3.785,88 per kg untuk periode 17-23 Juni 2026, dengan kenaikan tertinggi di kelompok umur 9 tahun sebesar Rp17,36 per kg atau sekitar 0,46% dari periode lalu. "Kenaikan harga minggu ini lebih disebabkan karena faktor naiknya harga CPO," ujarnya. Harga rata-rata CPO KPBN Riau periode ini Rp15.281 per kg, sementara kernel sedikit terkoreksi ke Rp12.475 per kg.

Jambi ikut mencatat pemulihan. Dinas Perkebunan Provinsi Jambi menetapkan harga TBS usia 10-20 tahun sebesar Rp3.706,67 per kg untuk periode 12-18 Juni, naik Rp265,9 per kg dari periode sebelumnya. CPO Jambi dipatok Rp14.873,24 per kg dengan indeks K 94,64%.

Kalimantan Barat tak ketinggalan. Tim penetapan harga Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalbar menaikkan harga TBS usia 10-20 tahun sebesar Rp264 menjadi Rp3.446,65 per kg untuk periode II-Juni 2026. CPO Kalbar ditetapkan Rp14.418,91 per kg, agak di bawah angka provinsi-provinsi Sumatra.

Gambaran berbeda datang dari Kalimantan Selatan. Di Kabupaten Balangan, harga TBS di tingkat petani memang sudah merangkak dari kisaran Rp1.200-1.500 per kg menjadi Rp1.700-2.300 per kg per pertengahan Juni. Selisih yang cukup jauh dibanding harga resmi provinsi. Entah kebetulan atau tidak, angka itu agaknya mencerminkan potongan panjang rantai distribusi dan ongkos angkut yang tidak kecil.

Khairullah, petani sawit asal Desa Merah, Kecamatan Awayan, mengaku lega. Tapi catatannya langsung menyusul: biaya angkut dari kebun ke tempat penampungan tetap menguras margin karena harga BBM masih tinggi. "Harga BBM yang tinggi membuat ongkos transportasi ikut naik sehingga mengurangi keuntungan petani," tuturnya. Pupuk, pestisida, herbisida pun belum beranjak turun. Kenaikan harga TBS, jujur saja, belum sepenuhnya sampai ke kantong petani kecil.

Pertanyaannya: daerah mana yang masih tertinggal? Tapanuli Tengah di Sumut masuk daftar itu. Harga TBS di Tapteng dilaporkan masih bertahan di level rendah, dengan petani setempat berharap harga bisa menembus Rp3.000 per kg dalam beberapa pekan mendatang. Momentum CPO global yang sedang berpihak bisa jadi bantal, kalau tidak berbalik arah lebih dulu.

Peta harga TBS pekan ini menggambarkan pemulihan yang nyata tapi tidak merata. Petani mitra plasma di provinsi-provinsi besar sudah menikmati harga di kisaran Rp3.400-3.900 per kg. Petani mandiri di pelosok? Masih berjuang jauh di bawah itu. Selama disparitas infrastruktur dan rantai pasok belum dibenahi, kenaikan CPO global tidak akan pernah terdistribusi sampai ke ujung kebun.