SELASA, 6 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Tarif Hemat Ojol Tutup Buku: Driver Senang, tapi J...

Bisnis

Tarif Hemat Ojol Tutup Buku: Driver Senang, tapi Jangan Keburu Pesta

Penghapusan GoRide Hemat dan GrabBike Hemat disambut lega para driver, tapi pengamat mengingatkan: kenaikan pendapatan tidak otomatis datang jika permintaan pengguna ikut menyusut.

Layanan Hemat Ojol Dihapus, Pendapatan Driver Belum Tentu Naik

Grab dan Gojek kompak menutup layanan tarif hemat roda dua mereka. Reaksi di lapangan terbelah persis dua kubu.

Sebagian pengemudi merasa lega, sebagian khawatir. Pengguna diam-diam mulai menghitung ulang ongkos transportasi harian. Dan di atas semua itu, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) harus melapor ke pasar bahwa kebijakan ini akan memukul pendapatan Gojek di lini GoRide, meski manajemen mengklaim ekosistem mereka cukup kokoh untuk menyerap benturannya.

Dari sisi driver, keluhan terhadap layanan Hemat bukan sekadar soal tarif. Abdul, pengemudi ojol berusia 31 tahun di Jakarta, menceritakan betapa orderan Hemat kerap datang dengan jarak jemput yang tidak masuk akal, bisa dua hingga lima kilometer, jauh sebelum argo bahkan mulai jalan. Dalam kondisi hujan atau jam sibuk, order semacam itu lebih terasa seperti kerugian. "Kadang jarak jemputnya bisa 2 sampai 5 kilometer. Jadi bukan driver enggak mau ambil order, tapi memang kejauhan," kata Abdul.

Cecep, pengemudi di Tangerang Selatan yang sudah 45 tahun, menyambut keputusan ini dengan harapan lebih besar. Baginya, penghentian layanan Hemat adalah kesempatan agar penghasilan driver kembali ke level yang layak. "Saya pribadi bergembira dengan keputusan Grab dan Gojek menghentikan program ini. Mudah-mudahan setelah layanan Hemat dihentikan, penghasilan driver bisa naik lagi dan lebih sesuai dengan aturan dalam Perpres," ungkapnya.

Tapi pengamat transportasi Deddy Herlambang mengingatkan agar euforia ini tidak kebablasan. Kenaikan pendapatan driver, kata dia, tidak bisa dihitung dari tarif semata karena ujungnya tetap bergantung pada seberapa banyak orang yang masih mau pesan ojol setelah harga naik. "Pengguna ojol mungkin akan berkurang bila ongkos ojol dianggap mahal karena tiada lagi tarif hemat. Ditutupnya paket hemat pendapatan driver bisa naik tapi demand bisa saja menurun," ujarnya. Kalau itu yang terjadi, persaingan antarpengemudi justru akan makin brutal. Kuota driver tidak menyusut, penumpang yang menyusut.

Struktur biaya juga masih jadi pekerjaan rumah. Potongan komisi 20 persen yang selama ini berlaku, menurut Deddy, tetap memberatkan pengemudi. Penghapusan tarif hemat tanpa perombakan sistem yang lebih menyeluruh agaknya belum cukup untuk benar-benar mengangkat kesejahteraan driver secara sistemik.

Perpres Nomor 27 Tahun 2026 jadi variabel penting di sini. Regulasi yang ditandatangani Presiden Prabowo Subianto ini menetapkan skema bagi hasil baru: mitra driver mengantongi 92 persen, aplikator hanya boleh ambil 8 persen. Turun drastis dari potongan yang sebelumnya berlaku.

GoTo tidak menyembunyikan bahwa aturan ini akan mempengaruhi keuangan mereka. Direktur Utama GoTo Hans Patuwo secara terbuka mengakui perubahan skema bagi hasil pada GoRide "tentu akan memberikan tantangan dan berdampak terhadap penurunan pendapatan Gojek" di lini bisnis tersebut. Bukan pernyataan ringan dari seorang dirut.

Meski begitu, Hans tidak terlihat panik. GoTo mengumumkan empat langkah implementasi sebagai respons terhadap Perpres 27/2026. Manajemen menekankan bahwa bisnis mereka bukan hanya GoRide: ada fintech, logistik, pengantaran, dan layanan digital lain yang terus berkembang dalam satu atap ekosistem. "Kekuatan ekosistem memberikan fondasi yang kuat bagi Gojek untuk terus bertumbuh," tegasnya, setidaknya itu klaim manajemen.

Untuk konsumen, GoTo memastikan penyesuaian harga pada GoRide Hemat dilakukan "secara sangat terbatas" dan terukur. GoRide reguler tidak ikut naik tarif, dan sampai sekarang masih jadi pilihan utama mayoritas pengguna. Grab mengambil posisi serupa: program langganan akses hemat bagi mitra driver dihentikan, tapi tarif reguler diklaim tidak berubah.

Pertanyaan yang sesungguhnya belum terjawab: apakah pengguna yang selama ini bertahan karena ada opsi murah akan tetap setia, atau mulai melirik angkutan lain? Bisa jadi ini ibarat pedang bermata dua, kenaikan tarif menguntungkan driver yang masih kebanjiran order, tapi menjadi bumerang kalau penumpang kabur. Jawaban atas pertanyaan itu, dalam beberapa bulan ke depan, yang akan menentukan apakah kebijakan ini benar-benar mengangkat nasib driver atau sekadar menggeser beban dari satu pihak ke pihak lain.